Hakikat Jihad
May 2, 2011
Istiqomah
May 15, 2011

Mulia Dan Hina Karena Al-Qur'an

Oleh: Ihsan Athif

Bahwa Al-Quran merupakan wahyu Allah, bahwa Al-Quran adalah kitab suci umat Islam, bahwa Al-Quran adalah petunjuk bagi bagi kaum muslimin, ini semua sudah kita ketahui sejak pertama kali dikenalkan tentang agama Islam, entah oleh orang tua kita di rumah, ustadz kita di madrasah, atau guru kita di sekolah, atau oleh siapapun yang telah memberikan pengetahuan dasar ini kepada kita.

Namun, yang menjadi pertanyaan –yang ini harus ditujukan kepada masing-masing kita- adalah seberapa dalam kita mengetahui isinya? Seberapa jauh kita mengamalkan perintah dan larangan yang termaktub di dalamnya? Mungkin terlalu ‘berprasangka baik’ jika melontarkan pertanyaan seperti itu; pertanyaan ‘sederhana’ yang bisa jadi lidah kita akan kelu ketika menjawabnya adalah seberapa sering kita membaca Al-Quran? Ya, pertanyaan ‘sederhana’ yang tidak perlu dijawab dengan lisan kita. Tapi sebuah pertanyaan yang sebenarnya menuntut pengamalan kita.

Ketika kita jauh dari kemuliaan
Harus kita akui, bahwa umat Islam saat ini tengah mengalami keterpurukan yang begitu dahsyat. Keterpurukan yang sudah mencapai titik nadir, kemunduran yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah panjang peradaban Islam yang gemilang. Bahkan, begitu lemahnya kekuatan Islam sekarang ini, sampai-sampai umatnya sendiri merasa malu memiliki identitas sebagai seorang Muslim. Na’udzubillah…

Kemunduran ini, keterpurukan ini, problematika yang berat dan kompleks ini, akan terus berlanjut jika kita hanya bisa meratap, jika kita cuma bisa mengeluh. Kebangkitan yang kita tunggu-tunggu, kejayaan yang kita cita-citakan tidak akan datang menghampiri kita, kalau kita hanya duduk berpangku tangan tanpa berbuat apapun. Kemuliaan itu tidak akan kita raih jika kita malah memintanya kepada umat lain. Karena kemuliaan itu sebenarnya ada pada diri umat ini, kejayaan itu sejatinya ada pada diri kaum muslimin sendiri, bukan kaum lain, bukan umat lain.

Maka ketika kita telah mengetahui bahwa sumber kemuliaan itu ada pada diri kita, jangan sampai kita sia-siakan, sekali lagi. Kita telah menyaksikan ketika umat ini menyia-nyiakan sumber kemuliaan itu, maka Allah pun menyia-nyiakannya. Kita telah melihat bagaimana umat ini terperosok dalam kubangan penderitaan yang begitu pedih, ketika kemuliaan itu digadaikan dengan keindahan dunia yang semu. Oleh karena itu, jangan sampai kita mengulanginya. Kita tidak ingin lagi terpuruk, kita tidak ingin kembali dijajah, kita tidak mau terus menerus dalam ketidakberdayaan dan kehinaan.

Maka, langkah awal agar tekad ini bukan hanya impian kosong adalah mengembalikan kemuliaan itu ke dalam ruang-ruang kalbu kita, menancapkan kembali setiap nilai-nilai ilahiah yang terkandung di dalamnya, ke dalam sanubari kita. Supaya kemuliaan itu bisa terwujudkan dalam setiap gerak amal kita.

Kemuliaan itu adalah Al-Quran
Al-Quran. Kita –umat Islam- mengenalnya sebagai kitab suci, kita mengetahuinya sebagai wahyu Allah Jalla wa ‘Ala kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, kita mengetahuinya sebagai petunjuk untuk menjalani kehidupan sementara di dunia ini, kita memahaminya sebagai sumber kemuliaan, sumber kekuatan umat ini.

Sejak pertama ia diwahyukan kepada Nabi penutup –shallallahu ‘alaihi wasallam- ia telah menjadikan umat ini tegak di hadapan kaum musyrikin Quraisy. Ia telah memberikan kekuatan dahsyat bagi para pendahulu umat ini, sehingga dapat tegar menghadapi berbagai ujian dan kesulitan.

Ia telah memuliakan setiap pribadi umat ini, sejak periode awal eksistensinya, terus berlanjut hingga masa di mana kita hidup sekarang ini. Setiap pribadi yang rela bersusah payah memahami makna setiap kata dalam Al-Quran, setiap individu yang tanpa kenal lelah berusaha mewujudkan setiap petunjuk-petunjuknya. Pribadi yang dengan sekuat tenaga meraih kemuliaan yang telah dijanjikan-Nya.

Apakah kita pribadi-pribadi itu? Terlalu percaya diri, jika kita mengatakan ya. Karena kita tahu persis seperti apa diri kita, kita paham betul siapa sesungguhnya diri ini. Begitu jauhnya kita dari pribadi-pribadi ideal itu, begitu tidak layaknya kita dibandingkan –apalagi disandingkan- dengan sosok-sosok mulia itu. Sampai-sampai kita beranggapan bahwa mereka itu hanyalah tokoh fiktif dalam sebuah dongeng, tidak nyata, yang hanya hidup dalam alam khayal kita. Namun sayangnya, mereka nyata. Sosok-sosok itu nyata, bahkan mereka tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan umat ini. Merekalah contoh ideal bagi zamannya, juga bagi zaman setelahnya. Kita tidak bisa lagi menyangkal kemuliaan mereka.

Kita tahu mengapa mereka meraih kemuliaan, kita juga tahu sebab mereka berhasil mengukir sejarah hidupnya dengan tinta emas, kita juga tahu begitu besar peran mereka dalam mewujudkan kegemilangan Islam, keindahan Islam, kemuliaan Islam. Kita telah tahu itu. Tapi, sekedar tahu saja ternyata belumlah cukup bagi kita untuk bisa meraih kemuliaan, mengembalikan kejayaan umat ini.

Maka, sudah sepatutnya bagi kita menyimak, merenungi untuk kemudian menerjemahkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini dalam kehidupan kita, akan pentingnya kita untuk selalu dekat dengan sumber kemuliaan,
إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواما ويضع به آخرين
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dan merendahkannya dengan kitab ini (Al-Quran).” (HR. Muslim no. 1934)

Maka saatnyalah bagi kita sekarang untuk meraih kemuliaan itu, kemuliaan yang Allah Ta’ala janjikan.

Wallahulmusta’an.

 

7 Comments

  1. rachman ammank says:

    saatnyalah bagi kita sekarang untuk meraih kemuliaan itu, kemuliaan yang Allah Ta’ala janjikan. Insyaallah. amin

  2. Sandy Sandy says:

    Dalam Mushaf Al-Qur’an terbitan Indonesia, banyak dijumpai tanda seperti angka 5 dalam tulisan Arab (٥) yang biasanya disertai dengan tanda washal/wakaf, seperti dalam surah 1 ayat 7, surah 114 ayat 4, surah 106 ayat 4, dan masih banyak di tempat lainnya. Sebenarnya tanda tersebut maksudnya apa? Kenapa hanya ada di Mushaf terbitan Indonesia saja?
    Tolong bantu menjawabnya ya,, syukran.

  3. jamal says:

    “semoga kita slalu dapat membaca Al – Qur’an dan mempelajarinya….. Amiiin….”

  4. Semoga kita mendapat kemulian setelah membaca alquran

  5. puji lestari says:

    mneurut saya al-quran itu sangat penting bagi kehidupan kita untuk di amalkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai pedoman hidup dan petunjuk dalam hidup kita agar kita senantiasa berada dijalan yang benar dan selalu dapat lindungan dari Nya.

  6. Gia Somji says:

    Thank you for sharing this valuable topic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *