Istiqamah
April 26, 2012
ICMI: Peraih Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi Kenapa Diam Saja?
July 28, 2012

Kontradiksi Da’i Dan Televisi

(Peran Da’i sebagai tangan perpanjangan risalah)

Oleh: Yayat Hidayat*

Taqdiem

Diera modernisasi ini, kehidupan manusia seolah tak bisa lepas dari media massa. Bahkan dapat kita katakan hidup manusia zaman ini enggan berjauhan dengan media. Keduanya begitu lengket dan nyaris tak dapat dipisahkan. Kita dan masyarakatpun mengakui bahwa media masa merupakan pilihan yang tepat untuk menciptakan komunikasi yang efektif. Karena media masa mampu menjadi mediator untuk menjembatani penyampaian pesan sekaligus memudahkan komunikasi.

Seiring dengan berjalannya waktu, perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi semakin canggih dan peradaban manusiapun  semakin berkembang. Tidak aneh jika mediamassapun turut serta berevolusi. Jika masa lalu, orang  hanya mengenal mersikil (meminjam istilah yang dipakai ust. Ridwan Hamidi) sebagai media untuk silaturahmi, kini mercedes yang menggantikannya. Lebih konkritnya dulu radio dan sekarang Televisilah yang menggantikannya.

Beragam kemajuan yang telah dicapai di zaman modern saat ini membawa perubahan di segala bidang. Manusia mendapatkan segala kemudahan dalam menjalani kehidupannya, terutama dalam hal transfortasi dan telekomunikasi, hasil kemajuan yang telah dicapai di bidang ini secara langsung ataupun tidak langsung telah membawa pengaruh yang besar terhadap tatanan kehidupan sosial masyarakat.

Transformasi sosial yang begitu pesat berujung pada pergeseran perilaku dan paradigma masyarakat. Tren global yang tersebar melalui media menyebabkan masyarakat makin bersikap individualistis, lebih memilih hal-hal yang instan, dan mulai meninggalkan norma-norma sosial dan agama. Masyarakat pedesaan yang selama ini dikenal masih mempertahankan nilai-nilai lokal yang menjungjung tinggi moralitas, kebersamaan, dan gotong royong terancam digusur oleh budaya serba modern yang masuk dalam sendi-sendi kehidupan mereka.

Seiring perkembangan zaman, lahirlah individu atau kelompok-kelompok masyarakat yang kian kritis terhadap persoalan-persoalan berkaitan tentang agama yang sebelumnya belum begitu nampak kepermukaan. Bahkan banyak terjadi permasalahan-permasalahan baru yang pada zaman Rasulallah belum terjadi, oleh karena itu muncullah paham-paham seperti fundamentalis, liberalis, sekuler, modernis, tradisionalis, sampai atheis.

Munculnya pemahaman dan permasalahan baru yang ditopang arus globalisasi kian membuat masyarakat frustasi dan pesimis terhadap nilai-nilai trancendental. Akidah dan moral umat dari hari kehari terus mengalami degradasi. Agama dinomerduakan sedangkan kehidupan duniawi menjadi prioritas utama. Motif kebendaan yang tidak disertai dengan agama rawan memunculkan psikologi sosial.

Islam sebagai agama dakwah, mengemban tugas yang cukup berat ketika harus berhadapan dengan semua persoalan kemanusian yang semakin kompleks. Kompleksitas permasalahan yang semakin menumpuk dan tidak juga menemukan titik ujung, sebisa mungkin harus diusahakan jalan keluarnya. Hal ini karena Islam sebagai agama yang mengemban misi memperbaiki kemanusiaan dan alam semesta, semakin terasa berat dan termarginalkan pada satu sisi, sementara tuntutan agar agama Islam harus tetap mampu menjadi ruang paling teduh, yang menawarkan jalan keluar bagi setiap persoalan kemanusiaan yang timbul.

Aktivitas dakwah selalu saja menarik untuk dikaji. Baik ditinjau dari segi aspek materi dakwah, penyampai dakwah, maupun obyek dakwah. Karena memang aktivitas dakwah bertujuan membentuk karakter manusia menjadi  manusia yang sejatinya mengenal siapa penciptanya, sehinggga secara langsung mampu menjawab persoalan hidup manusia yang sedang dialaminya. Namun, melihat fenomena dakwah saat ini belum membumi, khususnya yang ada dilayar televisi, yang ada hanyalah sebatas hiburan dengan penyajian humoris yang hasilnya bisa kita saksikan di zaman sekarang ini.

TINJAUAN TERHADAP TELEVISI

Tak bisa disangsikan lagi, televisi merupakan media yang paling luas dan mudah dikonsumsi masyarakatindonesia. Bahkan televisi telah menjadi kebutuhan keluarga bahkan sudah menjadi kebutuhan primer. Karena televisi merupakan media komunikasi paling efektif untuk menyampaikan pesan dan mempengaruhi orang lain. Sejalan dengan perkembangan mediamassatelevisi lah yang menjadi “raja” paling efektif untuk memenuhi kebutuhan informasi dan hiburan masyarakat.

Karena televisi menjadi raja, ahirnya para pemilik modal tertarik untuk berlomba mendirikan stasiun TV. Berbagai hiburan dikemas dan disajikan dalam berbagai bentuk tayangan. Sangat sedikit agenda televisi yang mengajarkan pengetahuan, bahkan yang paling mendominasi adalah tayangan bergenre hiburan lebih mendominasi dan lebih lekat dihati pemirsa. Peluang inilah yang kemudian ditangkap oleh para pelaku bisnis industri pertelevisian untuk memberikan tayangan yang trend dan banyak diminati publik.

Televisi memang mampu menyajikan informasi tentang berbagai peristiwa yang terjadi diberbagai daerah, peristiwa nasional, dan bahkan internasional. Berbagai peristiwa tersebut diolah dengan kreatif dalam berbagai bentuk penyajian informasi oleh kru redaksi televisi. Adadalam bentuk berita daerah, nasional, dan internasional. Singkatnya televisi secara fungsional dapat menyajikan berbagai peristiwa secara informatif, kreatif, dan kompetitif. Selain itu,  televisi juga menyajikan hiburan yang bersikap lokal, nasional, dan internasional. Bahkan, sejumlah hiburan dikategorikan sebagai hiburan yang bersifat massal dan global yang akhir-akhir ini disebut sebagai budaya populer (populer culture). (mansursemma, tanpa televisi mungkinkah) www.tribun-timur.com).

Kita mesti mengakui, berbagai tayangan televisi dicipta selain sebagai hiburan tetapi juga untuk mensugesti masyarakat. Akhirnya, secara perlahan tapi pasti animo masyarakat untuk menyaksikan tayangan yang sama akan terus bertambah kuantitasnya. Kalau sudah begini, perolehan ratting lah yang menjadi orientasi, bukan lagi sebuah pertimbangan untuk menampilkan tayangan yang edukatif.

MATINYA TANGAN DA’I DI TELEVISI

Tidak membuminya berbagai tayangan ditelevisi menegaskan bahwa sentuhan kasih Tuhan dapat dikatakan telah mati di dalam media televisi. Dengan berbagai keliarannya; berfikir, berucap, dan bertindak para pekerja pertelevisian seolah hanya mengikuti kehendak nafsunya.

Keinginan memenuhi hasrat duniawi yakni menumpuk ekonomi kebutuhan ekonomi yang sesaat itu di dalam dunia televisi dianggap sebagai tujuan akhir kehidupan. Alhasil, masyarakat kita pun menjadikan materi sebagai tolak ukur keberhasilan hidup.

Sementara itu kebutuhan jangka panjang sebagai modal untuk menuju alam akherat kurang begitu mendapat perhatian dalam pertelevisian kita. Ini adalah patalogi sosial yang melanda masyarakat dunia pertelevisian tanah air.

Lantas bagaimana kita menyikapi fenomena sosial yang terjadi di dalam dunia pertelevisian kita? Apakah cukup efektif dengan “mengharamkan televisi masuk rumah” atau  “mematikan TV”? Atau dengan cara-cara lain yang cukup memberi pencerahan!.

KOMUNIKASI DAKWAH

Dewasa ini ketika gejolak kehidupan semakin kompleks karena terjadi berbagai deferensiasi dalam bidang kehidupan manusia, maka keinginan untuk menghadirkan dakwah yang dimaknai sebagai ajaran agama Islam yang lebih kontributif dan kontekstual menjadi suatu kebutuhan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi (point no return).

Sebab exelennya (Muhammad Sulthan, 2003) ajaran suatu agama yang terekam melalui ayat-ayat suci al-Qur’an dan as-Sunnnah. Ajaran-ajaran tersebut tidak akan mempunyai makna (meanings) ketika tidak mampu di break down menjadi panduan fungsional-fungsional yang dapat dirasakan bagi kebutuhan manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Kegiatan dakwah yang diasumsikan sebagai proses transformasi ajaran dan nilai-nilai Islam dari individu satu dengan lainnya atau individu dengan kelompok dengan tujuan agar seorang atau sekelompok dapat menerima transformasi ajaran dan nilai-nilai Islam itu terjadi pencerahan iman dan juga perbaikan sikap atau perilaku yang islami dalam kehidupan yang nyata.

Dakwah (Ahmad Mubarak, 2002;21)adalah kegiatan komunikasi, yaitu seseorang atau sekelompok da’I mengkomunikasikan pesan kepada mad’u, perorangan ataupun kelompok. Berarti antara dakwah dengan komunikasi memang tidak akan terpisahkan, tetapi ada perbedaan mendasar antara dakwah dengan komunikasi, kalau dakwah tidak lepas dari komunikasi, namun untuk komunikasi belum tentu dakwah.

Dakwah merupakan upaya untuk mengajak seseorang agar menjadi insan yang baik, dalam dakwah tidak akan terlepas dari unsur komunikasi, karena komunikasilah antara da’I dengan mad’u dapat terjalin sebuah ikatan. Hanya saja dalam komunikasi dakwah muatannya adalah suatu tuntunan untuk mengajak, menyeru ke jalan yang benar sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, sedangkan untuk komunikasi sifatnya bebas dan netral.

Bagaimana dengan media dakwah? Media dakwah adalah peralatan yang dipergunakan untuk menyampaikan materi dakwah, pada zaman modern umpanya, lewat televisi, vidio, kaset rekaman, majalah,suratkabar (Wardi Bahtiar, 1997; 35). Perkembangan teknologi di zaman sekarang ini, khususnya dibidang informasi, baik cetak maupun elektronik memaksa ada semacam perubahan untuk menyegarkan proses dakwah.

(Ketua Program Kulliyyatul Muballigin Al-Madinah Yogyakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ISI CAPTCHA *