EPISTEMOLOGI ISLAM Bag.2
August 22, 2012
Mari Berpuasa Syawwal
August 29, 2012

EPISTEMOLOGI ISLAM Bag.3

E. TUJUAN ILMU

Secara ontologis, ilmu pada dasarnya adalah manusia, ia lahir dari manusia dan untuk manusia, ilmu merupakan proses manusia menjawab ketidaktahuannya mengenai berbagai hal dalam hidupnya. Sebagai jawaban manusia, ilmu adalah produk manusia. Dari jurusan ini, maka ilmu bergantung sepenuhnya pada manusia, yaitu bagaimana keadaan manusia yang menghadapi ketidaktahuannya itu dan bagaimana ia melihat hal yang tidak diketahuinya itu, dari sisi mana dan bagaimana. Oleh karena itu, tujuan ilmu pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dengan realitas dan tantangan yang dihadapai manusia itu sendiri.[15]

Dalam kehidupan ini, keadaan dan situasi hidup manusia selalu berubah, ketika ia belum tahu hukum-hukum alam ataupun hukum-hukum obyek kajiannya yang lain, barangkali ia memandangnya dengan berbagai perasaan, baik perasaan takut, mengagumi bahkan mendapatkan tantangan yang mengasikkan. Akan tetapi, setelah perasaan itu dilaluinya dan ia menemukan hukum-hukum dan jawaban yang dicarinya, bisa saja keadaan menjadi berubah, karena dengan hukum-hukum dan jawaban yang diketahui dan dikuasainya itu, terbentang sejumlah kemungkinan didepan matanya, yang dapat dimanfaatkan, untuk mengubah keadaan hidupnya.

Pada tahap ini, ilmu merupakan bagian dari usaha manusia untuk mengubah kehidupannya menjadi lebih baik lagi, dan dalam perkembangannya ilmu menjadi alat manusia mewujudkan keinginannya, bahakan mengabdi pada kepentingannya. Dalam masyarakat yang makin modern, di mana kapitalisme yang menggerakkan industrialisasi makin menentukan kehidupan manusia, maka ilmu telah bergeser kedudukannya untuk kepentingan memperkuat kapitalisme, ilmu telah berpihak dan bekerja sama dengan kekuasaan politik dan kekuatan militer dalam sebuah kepentingan ekonomi dari suatu elite masyarakat baru atau kapitalisme baru.[16]

Akibat yang lebih jauh lagi, baik dalam proses maupun produk, ilmu tidak netral lagi dan ilmu sepenuhnya berpihak untuk kepentingan-kepentingan penciptanya, suatu kelimpok yang menguasai dana atau ekonomi, kekuasaan politik dan kekuatan militer.

Dalam konsep filsafat Islam, ilmu pada hakikatnya merupakan perpanjangan dan pengembangan ayat-ayat Allah, dan ayat-ayat Allah merupakan eksistensi kebesarannya dan manusia diwajibkan berpikir tentang ayat-ayat Allah itu, untuk tujuan yang tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran-Nya, tidak untuk merusak dan melahirkan kerusakan dalam kehidupan bersama, karena akibat buruknya akan juga menimpa dirinya sendiri.[17] Oleh karena itu, kebenaran yang dibangun oleh ilmu dalam hukum-hukum ilmu atau konsep teoritik tidak boleh jatuh di bawah kekuasaan hawa nafsu, karena akibatnya dapat merusak. Al-Qur’an 23:71 mengatakan:

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُونَ (٧١)

 Artinya : Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.

F. ILMU DAN ETIKA

Ilmu pada hakikatnya adalah pembebasan manusia. Semua manusia menghadapi kehidupan ini dengan ketidakberdayaan, mempunyai perasaan yang kecil berhadapan dengan realitas di tuanya yang besar baik alam disekitarnya, seperti gunung berapi yang sewaktu-waktu dapat memuntahkan laharnya yang mengerikan, maupun sesama makhluk hidup lainnya. Dengan ilmu itulah manusia dapat menghadapi tantangan dan dapat menghindari resiko-resiko yang dihadapi hidupnya. Ilmu dengan demikian membebaskan manusia dari ketakutan dan penderitaan.

Dalam perkembangannya, ilmu telah menjadi suatu sistem yang kompleks, dan manusia terperangkap di dalamnya, sulit dibayangkan manusia hidup tanpa ilmu. Ilmu tidak lagi membebaskan manusia, tetapi manusia terperangkap hidupnya dalam sistem ilmu. Manusia telah menjadi bagian dari sistemnya, manusia juga menjadi obyeknya. Ilmu telah melahirkan makhluk baru yang sistemik, mempunyai mekanisme yang kadang kala tidak bisa dikontrol oleh manusianya sendiri. Suatu mekanisme mekanik yang makin hari makin kuat, makin besar dan makin kompleks, dan rasanya telah menjadi suatu dunia baru di atas dunia yang ada ini.

Dunia baru yang artifisial, mempunyai etikanya sendiri, yang berada diluar etika besar sebagai wujud dari pembebasan manusia. Suatu etika yang pada dasarnya sangat pragmatik, dan sangat tergantung pada tawar menawar dengan kepentingan ekonomi, kekuasaan politik dan kekuatan militer.

Dalam realitas kehidupan masyarakat dewasa ini, terjadi konflik antara etika pragmatik dengan etika pembebasan manusia. Etika pragmatik berorientasi pada kepentingan-kepentingan elite sebagi wujud kerja sama antara iptek, uang, kekuasaan dan kekerasan yang cenderung menindas untuk kepentingannya sendiri yang bersifat matrelialistik, dengan etika pembebasan manusia dari penindasan kekuatan elite, etika pembebasan yang bersifat spiritual dan universal.

Dalam pandangan filsafat Islam, kebenaran dan ilmu tidak boleh berada dibawah kekuasaan hawa nafsu, karena akan melahirkan kerusakan. Dengan demikian etika ilmu adalah keberpihakan kepada kebenaran, pembebasan manusia dan kemandirian artinya tidak terkooptasi oleh sistem yang menindas. Al-Qur’an 4:161-162 mengatakan:

وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُواْ عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (١٦١)لَّـكِنِ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْمُؤْمِنُونَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَالْمُقِيمِينَ الصَّلاَةَ وَالْمُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالْمُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أُوْلَـئِكَ سَنُؤْتِيهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا (١٦٢)

 Artinya : Dan disebabkan mereka memakan riba, Padahal Sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih. Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. orang-orang Itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.

Pada ayat yang lain dikatakan Al-Qur’an 45:23-24 sebagai berikut:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (٢٣)وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ (٢٤)

Artinya: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?. Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.

G. KESIMPULAN

Di kalangan umat Islam, disiplin filsafat, termasuk filsafat Islam, masih merupakan bidang kajian yang kurang diminati. Kajian filsafat bahkan masih dianggap dapat membawa seseorang kepada ”kemurtadan” , sehingga mempelajari apa-apa yang berbau filsafat masih ada yang memandang haram. Pandangan demikian berkaitan dengan kecenderungan filsafat yang mendewakan akal dan rasio sebagi sumber kebenaran. Sementara sumber kebenaran dalam Islam adalah Al-Qur’an yang diwahyukan oleh Allah Subhanahu wa-ta’ala dan hadist yang merupakan interpretasi dari Al-Qur’an.

Persoalan epistemologis dapat dikaji secara etimologis, yang menunjukan bahwa epistemologi berasal dari kata episteme yang berarti pengetahuan. Disamping itu secara terminologis epistemologi sering diartikan sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, praanggapan dan dasar-dasarnya serta reliabilitas umum yang bisa atau mengklaim sesuatu sebagai ilmu pengetahuan. Sehingga disini dapat ditarik kesimpulan bahwa epistemologis merupakan cabang filsafat yang berkenaan dengan pencarian hakekat dan kebenaran pengetahuan.

Epistemologi timbul sebagi akibat dari pemilihan asumsi dasar ontologik. Perbedaan pemilihan ini dengan sendirinya mengakibatkan perbedaan sarana yang akan dipergunakan, baik akal, pengalaman, intuisi atau sarana lainnya. Sarana pengetahuan yang berbeda itulah yang dicakup oleh epistemologi yang akhirnya melahirkan aliran-aliran yang berbeda bergantung dengan sarana yang dipakai.

 

 

SUMBER BACAAN

Dr. P. Hardono Hadi, Epistemologi Filsafat Pengetahuan, Yogyakarta: Kanisius, 1994.

Drs. Muhammad Azhar, MA, Studi Islam Dalam Percakapan Epistemologis, Yogyakarta: SIPRESS, 1999.

Prof. A. Qodri Azizy, Ph.D, Pengembangan Ilmu-Ilmu KeIslaman, Semarang: Aneka Ilmu, 2004.

Prof. Dr. Musa Asya’arie, Filsafat Islam, Yogyakarta: LESFI, 2002.

Sembodo Ardi Widodo M.Ag, Pendidikan Barat Dan Islam, Jakarta: PT. Nimas Multima, 2003.

________________________________________

[15] Pada prinsipnya tujuan ilmu adalah konseptualisasi fenomene-fenomena alam dan menjelaskan hukum kausalitas serta menemukan asas-asas umum. Tujuan ini sesungguhnya untuk mendukung manusia guna menemukan tertib kosmos yang berbeda di sekitarnya. Ketika ilmu telah melakukan spesialisasi disiplin, tampak bahwa ilmu kehilangan watak kesatuannya guna mendeudkung kosmos (keteraturan dan kebijaksanaan) manusia. Ia tidak menciptakan kebijaksanaan itu, bahkan malah melawannya, Wishenchaft als Widersacher der Weisheit. J.W.M. Bakker, Filsafat Kebudayaan, Yogyakarta: Kanisius, 1984, hlm.39.

 

[16] Soedjatmoko, mensinyalir setidaknya ada dua pola sikap dari seorang intelektual, khususnya di Negara berkembang, dalam menghadapi dilemma intelektualitas melawan kepentingan sosial-politik. 1) intelektual yang menjadi pemimpin-pemimpin partai politik yang makin ketinggalan jaman dalam arti sesungguhnya yang menjadi birokrat-birokrat cemerlang, merosot menjadi kakitangan penguasa untuk mengejar kekuasaan bagi diri sendiri. 2) mereka yang memilih menjadi kekautan tanpa struktur tetapi harus diperhitungkan oleh kekuasaan. Soedjatmoko, Etika Pembebasan; Pilihan Karangan Tentang: Agama, Kebudayaan, Sejarah dan ilmu Pengetahuan, Jakarta: LP#ES, 1984, hlm. 235-236.

 

[17] Terdapat relasi bagitu dekat antara makna ilmu dan ayat Tuhan. Dalam Al-Qur’an jelas ditunjukan bahwa fenomena keilmuan itu merupakan pengungkapan atas ayat-ayat-Nya. Bahkan Allah sendiri, secara epistemologis, bisa menjadi obyek ’ilm, yaitu Tuhan yang dapat dikenal sebagai obyek tidak langsung. Perolehan atau pencapaian pengetahuan ayat-ayat Tuhan itu, secara garis besar terbagi menjadi dua, 1) pengetahuan melalui ’ilm, dan 2) pengetahuan melaui ma’rifah. Konsep ilmu terkait dengan manusia normal, sedangkan ma’rifah terjadi dalam dunia mistik. Lihat Toshihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia, terj. Agus Fahri Husein, dkk, Yogyakarta ; Pustaka Pelajarkan, 1997, hlm. 46-47. secara ontologis, bagi manusia, ilmu itu sama dengan wujud. Jika manusia hanya memilki wujud tetapi tanfpa ilmu, maka ia tidak memilki arti. Lihat Fazlur Rahman, ”Islamization of Knowledge : A Response ” dalam The Amerikan Journal of Islamic Social Science, 1988, no.5.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ISI CAPTCHA *