Renungan untuk Muslimah (Calon) Penghuni Surga
November 5, 2015
Khitan Wanita, Sunnah yang Terlupakan(1)
November 10, 2015

Penyusun: Ummi Santi*

Namaku Abdullah bin Umar bin Abdullah Bani’mah. Kuniahku (panggilanku) adalah Abu Jinan, meskipun aku belum menikah dan belum memiliki anak. Aku dilahirkan di Makkah pada 14 Rabi’ul Awwal 1394 H, bertepatan dengan tanggal 12 Agustus 1974 M. Aku tinggal di Makkah bersama kedua orang tuaku. Pada usia 2 tahun, ibu membawaku ke Yaman dan kami tinggal di sana selama sepuluh tahun. Tempat tinggal kami dekat dengan bibi dan keluarganya. Setelah aku berusia 12 tahun, ibu kembali membawaku ke Saudi agar aku dididik oleh ayah dan melanjutkan studi di sana.

Ternyata ayah sudah pindah ke Jeddah dan membuka usaha di sana. Maka mulailah aku tinggal bersama kembali dengan kedua orang tuaku. Sewaktu di Yaman, aku sudah menghafal Al-Qur’an 3 juz. Di Jeddah, aku mengulang dari kelas 3 SD dan pada sore hari aku ikut tahfidz Al-Qur’an di masjid.

Pada tiap sore perjalanan dari rumah ke masjid untuk tahfidz, aku melewati lapangan dan melihat teman-teman sebayaku asyik bermain sepak bola. Mereka pun mengajakku bermain bersama. Awalnya aku menolak karena harus mengikuti tahfidz, padahal aku sebenarnya sangat ingin bergabung. Maka mulailah kuatur siasat. Aku berangkat dari rumah setengah jam lebih awal. Aku atur 15 menit untuk bermain bola dan 15 menit berikutnya untuk membersihkan badan dan berganti pakaian. Dengan begitu, jadwal tahfidz Al-Qur’anku tidak terganggu.

Awalnya siasatku berjalan lancar. Akan tetapi, dengan berjalannya waktu aku semakin keasyikkan bermain bola sehingga sering terlambat datang ke tahfidz. Bahkan aku datang pun dalam keadaan pakaian kotor dan penuh keringat. Aku sering tidak hafal ketika jatah setor hafalan. Ustadz yang mengajarku pun menegur dan menghukumku. Maka aku mencari-cari alasan di depan kedua orang tuaku dengan mengatakan ustadzku galak dan berperangai kasar. Selain itu aku juga butuh konsentrasi untuk belajar pada pagi harinya. Akhirnya orang tuaku menerima alasanku dan aku berhenti tahfidz. Akan tetapi, setelah aku SMP, ayah mengharuskanku ikut tahfidz.

Ketika masa-masa SMP ini, aku sedang tumbuh menjadi remaja yang mencari jati diri. Aku ikut kelompok olahraga; belajar karate, salto, angkat besi, berenang, dan pencak silat (ilmu bela diri dari Indonesia). Dalam pencak silat ini aku memfokuskan kekuatan di bagian leher. Aku benar-benar berada dalam puncak kesehatan dan kekuatan yang luar biasa. Dalam berkelahi, aku bisa mengalahkan empat orang sekaligus.

Sebagai remaja, aku berusaha diterima oleh teman-temanku. Mereka biasa berkumpul di kafetaria atau kantin dekat sekolah sebelum bel masuk. Aku pun bergabung bersama mereka. Aku ikut bersama mereka tertawa-tawa mendengarkan cerita lucu. Bersama mereka pula aku mulai belajar kata-kata kotor dan merokok secara sembunyi-sembunyi. Aku juga mulai belajar bolos sekolah.

Pada suatu hari ayah menemuiku dan mengatakan perihal perbuatan maksiat yang telah kulakukan, “Engkau merokok?!”
Maka kukatakan kepada ayahku, “Demi Allah aku tidak merokok!” Dan aku mengatakan itu dengan mengangkat suaraku di hadapannya. Jadilah suaraku lebih tinggi dari suaranya. Aku mempraktikkan sebuah pepatah “yakinkanlah mereka dengan suara yang keras” karena sesungguhnya ayahku tidak melihatku merokok secara langsung. Ayah hanya mendengar berita tentangku. Aku lupa pada saat itu bahwa mengangkat suara di depan orang tua adalah dosa, belum lagi kebohonganku dengan mengatasnamakan Allah. Berkata “ah” kepada orang tua saja merupakan kedurhakaan, bagaimana dengan mengangkat suara di hadapannya? Tetapi setan telah menguasai hatiku. Yang kupikirkan saat itu adalah meyakinkan ayah bahwa tuduhannya tidak benar. Akan tetapi ayah begitu yakin bahwa aku merokok, sehingga beliau berkata, “Jika kamu berdusta, semoga Allah mematahkan lehermu.” Ayah pun berlalu dan kata-katanya kuabaikan begitu saja.

Keesokan harinya aku pergi ke laut berenang bersama adik dan teman-temanku. Selesai berenang di laut, kami pergi ke kolam renang dekat pantai. Rupanya kolam renang masih tutup. Ketika teman-teman berputus asa dan hampir pulang, aku punya ide untuk memanjat pagar. Teman-teman pun senang dengan ideku. Akhirnya kami memanjat pagar dan berenang.

Kedalaman air kolam ada yang 1,5 m dan ada pula yang 3 m. Saat itu tinggiku 180 cm dan dalam keadaan sehat. Saat itu aku terjun ke kolam dan ternyata kepalaku membentur dasar kolam. Kudengar suara leher patah dengan jelas beberapa kali. Allah telah menetapkan “Jadilah engkau lumpuh”, dan seketika itu pula aku lumpuh total tidak bisa menggerakkan badanku. Darah keluar dari hidungku dan aku tidak bisa mengeluarkan suara. Dalam keadaanku yang sekarat seperti itu, adik dan teman-temanku sama sekali tidak ada yang tahu. Salah seorang temanku curiga dan berkata kepada adikku bahwa aku belum juga muncul dari dasar kolam. Adikku menjawab, “Kakakku gemar menyelam, nanti juga muncul.” Kemudian adikku keluar kolam dan duduk agak menjauh untuk merokok.

Aku sempat bertahan dan sadar selama beberapa menit. Aku berjuang untuk bertahan hidup dan menahan napas lebih dari tiga menit. Aku sempat mengeluarkan napas agar gelembung udara di air bisa sampai di atas kolam dan terrlihat oleh teman-temanku dan segera memberiku pertolongan.

Selama dalam kondisi sekarat itu, aku memutar rekaman hidupku yang sudah kujalani selama 19 tahun. Hidupku penuh dengan kemaksiatan. Terakhir dalam rekaman ingatanku, terlihat kejadian beberapa waktu sebelumnya di mana aku bersedekah kepada seorang pemulung. Pemulung itu terharu dengan perbuatanku dan mendoakanku. Selesai melihat rekaman tentang pemulung tersebut, Allah melapangkan dadaku, maka aku teringat sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Barangsiapa akhir ucapannya La ilaha ilallah maka ia akan masuk surga.

Maka kugerakkan bibirku mengucapkan syahadat. Setelah itu aku kemasukkan air dan pingsan di dasar kolam. Adikku yang telah selesai merokok kembali ke kolam dan berusaha mencariku karena aku tidak juga muncul ke permukaan. Adikku pun menemukanku dalam keadaan pingsan dan berusaha mengangkatku dibantu teman-teman. Adikku melihat kepalaku dalam keadaan terbalik dan segera membawaku ke rumah sakit.

Dalam perjalanan ke rumah sakit, salah seorang teman membuat napas buatan untukku dan aku sempat sadar. Kukatakan kepada adikku agar menelpon ke rumah dan jika yang mengangkat ayah, agar memberitahukan bahwa aku lumpuh. Maka adikku berhasil menghubungi ayah yang segera menyusulku di rumah sakit King Fahd. Melihat keadaan itu, ayah menyesal dan menangis melihat penderitaanku, sementara aku menyalahkan diriku sendiri. Ayah mendoakanku, “Semoga Allah memilihkan kebaikan untukmu. Semoga Allah mencukupimu dari keburukanmu.” Sementara ibuku mendoakan, “Semoga Allah mengganti teman-temanmu dengan teman yang shaleh.”

Sejak kejadian itu, selama empat tahun aku menghabiskan waktuku dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain untuk pengobatan lanjutan dan menjalani 16 kali operasi. Tidak terhitung biaya yang dikeluarkan untuk pengobatanku. Pernah suatu ketika aku dioperasi tanpa dibius. Kata dokter, jika dilakukan bius padahal tubuh kekurangan oksigen, maka dapat mengakibatkan stroke otak. Pada operasi itu aku mendapat 32 jahitan. Aku merasakan sakit dari ujung kepala hingga ujung kaki, tubuhku seperti dicincang-cincang. Alhamdulillah operasi tersebut berhasil padahal kemungkinan berhasilnya hanya 5%.

Meskipun sudah menjalani 16 kali operasi, aku tetap dalam kondisi lumpuh. Terakhir saat aku akan menjalani operasi yang ke-17, aku sudah dibawa ke ruang operasi namun operasi batal dilakukan. Para dokter mengatakan bahwa kemungkinan berhasil hanya 1% sehingga kami pun membatalkannya. Alhamdulillah atas nikmat Allah sehingga aku masih diberi kesempatan hidup meski dalam keadaan lumpuh. Padahal sejak awal para dokter yang menanganiku tidak banyak berharap bahwa aku bisa diselamatkan.

Lalu apa yang terjadi setelah empat tahun aku menghabiskan waktuku di rumah sakit? Pembaca perlu tahu bahwa aku masih tetap merokok dan suka menonton sinetron. Aku baru bertaubat setelah sepupuku, Walid, banyak memberikan dukungan dan semangat padaku untuk berubah. Dia sering mengunjungiku dan membawa teman-temannya. Dia berkata padaku, “Wahai Abdullah, beberapa orang yang aku bawa ke sini untuk menjengukmu, mereka berubah menjadi lebih baik dalam agama mereka. Engkau harus bersungguh-sungguh memantapkan tekad untuk beristiqamah.” Aku bersyukur kepada Allah atas nikmat hidayah-Nya. Kemudian aku berterima kasih kepada sepupuku Walid yang menjadi sebab aku memperoleh hidayah, semoga Allah membalas segala kebaikannya.

Alhamdulilllah sekarang aku banyak mengisi ceramah. Aku berharap bisa menjadi jalan hidayah bagi orang lain. Aku ingin membagikan kisah hidupku agar orang-orang bisa memetik pelajaran. Sungguh kita tidak pernah tahu kapan maut datang menjemput. Lalu, bagaimana bisa kita bersantai ria menjalani kehidupan ini semau kita? Semoga Allah senantiasa menjaga kita dalam kebaikan.

(Diringkas dari buku “Saat Hidayah Menyapa” Oleh Fariq Gasim Anuz, Penerbit: Daun Publishing)

*Penulis dan Terapis Muslimah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ISI CAPTCHA *