Bedanya kita dengan Para Shahabat Rasulullah ﷺ
February 28, 2016
Jadilah Muslim Kesatria Jangan Pecundang
March 11, 2016

Sebesar Itukah Kebencianmu Kepada Kami?

sebesar itukah kebencianmu padaaku

Diselisih oleh kelompok yang memiliki pemahaman yang jauh berbeda sampai-sampai penampilan pun terlihat berbeda, maka wajar-wajar saja. Tapi, lihatlah dirimu dan diriku, penampilan kita sama, ilmu yang kita pelajari sama, buku yang kita kaji pun sama, kita ibarat saudara kembar, namun mengapa kebencian itu paling besar kau tujukan padaku, saudaramu?

Seperti inilah pertanyaan yang mampir pertama kali di kepala kami tatkala mendengar tuduhan-tuduhan dan fitnahan-fitnahan yang tidak berdasar sama sekali. Atau mendengar mereka terus mencekoki orang lain dengan pemikiran buruk kepada kami; orang-orang yang tidak mencukupkan diri dengan kajian namun juga mengikuti tarbiyah/halaqah sebagai bentuk penjagaan iman kami.

Mereka bilang kami pelaku bid’ah (karena berhalaqah). Subhanallah. Ketika ditanya apa dalilnya, mereka toh tidak memiliki hujjah yang kuat. Sementara kami telah memiliki dalil yang kuat yakni sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebagaimana dalam hadist Mu’awiyah:

عَنْ مُعَاوِيَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلَقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ ؟ قَالُوْا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلإِسْلاَمِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ آللهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلاَّ ذَاكَ ؟ قَالُوْا وَاللهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلاَّ ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيْلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلاَئِكَةَ (رواه مسلم والترمذي والنسائي)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui sekelompok para sahabat. Beliau bertanya: Apa yang membuat kalian duduk disini? Mereka menjawab: Kami duduk disini untuk berdzikir kepada Allah, kami memujinya atas limpahan hidayah agama Islam kepada kami dan telah memberi anugerah kepada kami. Rasulullah bertanya: Demi Allah, apakah tidak ada tujuan lain? Sahabat menjawab: Demi Allah kami tidak punya tujuan lain. Rasulullah bersabda: Saya tadi bersumpah bukan karena berprasangka buruk pada kalian, tetapi karena Jibril datang kedapaku dan mengabarkan bahwa Allah mmembanggakan kalian kepada para malaikat” (HR Muslim, al-Turmudzi dan al-Nasai)

Dan kami berkumpul di masjid (berhalaqah), tidaklah ada tujuan lain selain berdzikir kepada Allah Subhanahu wata’ala. Kami memuji-Nya atas limpahan hidayah agama Islam yang diberikan kepada kami. Semoga Allah terus menjaga niat-niat kami.

Mereka juga mengatakan kami fanatik pada organisasi/kelompok kami. Subhanallah. Padahal di dalam halaqah-halaqah kami, kami selalu dinasehatkan untuk tidak fanatik pada sebuah kelompok, namun fanatiklah pada Al-Qur’an dan As-Sunnah saja. Kami dianjurkan untuk selalu menuntut ilmu di mana pun itu selama manhajnya ahlu sunnah waljama’ah. Kami bahkan duduk bermajelis di kajian mereka, mengambil ilmu dari para ustadz yang mereka cintai, senantiasa bermuamalah dengan baik dengan mereka. Bahkan, kami tidak masalah jika suatu hari nanti kelompok/organisasi yang kami bernaung saat ini dihapuskan atau dilebur dengan yang lain.

Sementara yang menuduh kami fanatik, mereka tidak pernah duduk di kajian yang kami buat ataupun kajian yang lainnya, padahal ustadz yang mengisi kajian gelarnya serta pemahamannya sama saja dengan ustadz mereka. Mereka menolak dengan alasan yang membuat kajian adalah kelompok lain bukan dari mereka.

Sampai di sini, bolehkah kami bertanya, lantas siapakah yang memiliki sifat fanatik itu?

Tentu kami merasa sedih ketika tuduhan dan fitnahan itu sampai pada telinga kami. Kami menginginkan persatuan, namun kenyataannya mereka menginginkan berbeda. Bahkan yang paling menyedihkan ketika mereka menyebarkan pemikiran keliru mereka kepada orang lain. Mereka mencekoki orang lain yang tidak mengerti apa-apa. Mengatakan kepada orang lain; jangan ikut halaqah. Jangan duduk di kajian organisasi X karena mereka begini dan begitu. Subhanallah.

Duhai saudaraku, bukankah kalian mengaku seorang thalabul ilmi, mengaku pecinta kajian-kajian ahli sunnah, mengaku pecinta setia Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Kalian mengaku paling baik ilmunya karena langsung menimba ilmu dari para ustadz yang mempuni, kalian bahkan lebih sering mengikuti kajian dari A sampai Z dibandingkan kami, namun maafkan kami karena sungguh kami tidak melihat hal itu ada pada diri kalian.

Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus di muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak manusia?

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

 إِنَّمَابُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Bukankah itu pula yang kalian pelajari selama ini di kajian-kajian kalian yang kalian bangga-banggakan? Namun ke manakah semua ilmu itu? Kemanakah sifat husnudzan itu? Kemanakah sifat tabayyun itu? Kemanakah ukhuwah itu? Kemanakah sifat lembut itu? Kemanakah perkataan baik itu? Apakah Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam pernah melakukan hal yang sama; menjelek-jelekkan suatu golongan dan menyebar luaskannya?

Kami teringat sebuah nasehat seorang ustadz; Perbedaan seorang mukmin dan seorang munafik sangatlah tipis. Perbedaannya bukan dari sedikit banyak ilmu yang mereka ketahui tapi dari hati-hati mereka. Dikatakan orang-orang munafik ketika mereka sibuk menuntut ilmu agama, mereka paling sering duduk di majelis ilmu, mereka langsung menimba ilmu dari para ustadz yang mempuni, namun mereka tidak mengamalkan ilmu yang mereka dapatkan disebabkan ada penyakit di dalam hatinya, ada kebencian di dalam hatinya kepada saudaranya. Subhanallah.

Terakhir, kami mengutip sebuah jawaban seorang ustadz tatkala ditanya tentang perkara ini; Apa pendapat ustadz tengtang organisasi/kelompok X (yang berhalaqah)?

Ustadz: Jika kalian menemukan kebaikan di dalamnya maka ambillah.

Dan seperti itu pula Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mencontohkan dan mengajarkan. Kebaikan/kebenaran itu bukan dilihat dari oragnisasi mana, tapi dari mana sumber pengambilannya. Jika bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah maka ambillah.

Kami tentu tidak berani mengatakan bahwa kami lebih baik dari siapa pun atau lebih mulia dan lebih suci. Sungguh tulisan ini semata-mata kami tuliskan sebagai bentuk cinta kami kepada saudara kami di mana pun berada. Jika engkau melihat kami butuh nasehat, maka nasehatilah kami pula.

Di akhir tulisan ini, kembali hati bertanya; sebesar itukah kebencianmu kepada kami, saudaramu? Tak cukupkah hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam membuka, menerangi, melembutkan hatimu?

Wallahua’lam.

 _Ukhty HD_ (Jogja, 29/02/2016. Ketika pertanyaan itu terus terngiang di kepala)