Nak…
June 28, 2016
Lingkungan Mempengaruhi Keshalihan
July 23, 2016

Islam Nusantara Yang Sebenarnya

Adab-Adab Safar Dalam Islam

Agama adalah aturan yang diturunkan oleh Tuhan untuk seluruh manusia, sehingga di manapun manusia itu berada ketika ia sudah menganut satu agama, maka ia berkewajiban melaksanakan aturan/ tata cara yang ada di dalam agama tersebut. Dan, apapun bangsanya ketika menganut agama yang sama, maka akan memiliki kesamaan. Sepakat?

Sebuah aturan disebut agama jika dan hanya jika dibuat oleh Tuhan, bukan manusia. Jika ada aturan yang dibuat oleh manusia maka itu bukanlah agama melainkan undang-undang atau adat istiadat/budaya. Nah, jika demikian, maka kedudukan agama lebih tinggi derajatnya dibandingkan aturan lainnya. Agama haruslah lebih didahulukan dibanding yang lain karena sekali lagi, agama berasal dari Tuhan, Zat Yang Maha Berkuasa dan Yang Kita Sembah. Betul?

Islam Nusantara. Akhir-akhir ini mungkin kita sering mendengar istilah yang satu ini. Sebenarnya istilah ini tidaklah salah ketika kita memaknainya dengan benar, bahwa sebagai bangsa Indonesia harusnya kita tetap melestarikan budaya Indonesia selama budaya tersebut tidak melanggar syari’at Allah. Contohnya adalah budaya sungkeman. Sungkeman berasal dari budaya Jawa yakni seorang anak menjabat tangan kedua orang tuanya dalam rangka meminta maaf. Tentu hal ini adalah budaya yang harus terus dilestarikan karena sejalan dengan ajaran agama Islam.

Hanya saja istilah Islam Nusantara yang kita kenal saat ini memiliki makna yang berseberangan dengan makna yang kami paparkan di atas. Kebanyakan orang memaknai (dan sengaja memaknai) Islam Nusantara dengan arti melestarikan seluruh budaya (termasuk budaya yang melanggar aturan agama) dan ‘memaksa’ memasukannya ke dalam agama sehingga orang-orang yang tidak paham mengatakan hal tersebut adalah bagian dari agama padahal bukan sama sekali.

Contoh, memberikan persembahan (sesajen) ke laut dengan mengatakan hal tersebut adalah bagian dari agama sebagai bentuk kesyukuran pada Allah, padahal dalam agama islam telah dijelaskan tata cara bersyukur kepada Allah yakni dengan ucapan hamdalah dan ibadah kepada Allah seperti shalat yang juga telah jelas tuntunannya. Tidak sekalipun diajarkan dalam agama Islam untuk membuat sesajen atau mengadakan perantara antara manusia dengan Allah. Tidak! Karena hal tersebut termasuk perbuatan syirik, dosa yang paling besar di dalam agama Islam!

Kami pernah mendengar sebuah perkataan (kalau tidak salah, perkataan tersebut adalah perkataan Presiden Soekarnoe) yang menjadi salah satu landasan kuat penganut paham Islam Nusantara. Perkataan tersebut berbunyi;

Anutlah agama Hindu, tapi jangan menjadi orang India.

Anutlah agama Budha, tapi jangan menjadi orang Cina.

Anutlah agama Kristen, tapi jangan menjadi orang Barat.

Anutlah agama Islam, tapi jangan menjadi orang Arab.  

Sebenarnya tidak ada yang salah dari perkataan tersebut, hanya saja kebanyakan dari kita memiliki pemahaman yang salah. Selama ini kita berpikir bahwa aturan Islam adalah budaya Arab atau Budaya Arab adalah aturan agama Islam. Padahal salah besar! Salah!

Apa yang kita lihat di Arab saat ini bukan lagi budaya Arab melainkan syari’at Islam karena negara tersebut menjadikan syari’at Islam sebagai undang-undang pemerintahan. Artinya apa, sekiranya mereka tidak menjadikan Islam sebagai undang-undang, maka sudah banyak wanita di Arab yang tidak berjilbab. Bukankah tidak jarang kita melihat wanita Arab di Indonesia atau negara di luar Arab tidak mengenakan jilbab?

Intinya, kita akan salah ketika kita menyamakan antara aturan Islam dan budaya Arab karena hal tersebut adalah dua hal yang sangat berbeda. Dulu wanita Arab tidak berjilbab, begitulah kebudayaan mereka, sampai akhirnya turun perintah menutup aurat dari Allah. Dulu masyarakat Arab gemar minum-minuman keras, begitulah budaya mereka, sampai akhirnya turun ayat tentang haramnya minuman keras.

Jadi, ketika dikatakan Anutlah agama Islam, tapi jangan menjadi orang Arab, maka ini benar. Jangan lagi salah kaprah yakni wanita menutup aurat, berjilbab besar, bercadar kita katakan mengikuti budaya Arab. Tidak! Mereka tidak mengikuti budaya Arab tapi mereka taat kepada agama Allah yang mewajibkan berjilbab dengan tata cara/syarat-syarat yang telah dipaparkan dalam Al-Qur’an dan Hadits, dua pedoman dalam agama Islam. Sehingga, seharusnya, di mana pun wanita itu berada, baik di Indonesia, di Eropa, Amerika, Afrika, Australia, maka penampilan mereka akan terlihat sama, yakni sama-sama menutup aurat secara syar’i.

Ittaqillah haitsuma kunta; Bertaqwalah kepada Allah di manapun kalian berada. (H.R. At-Tirmidzi)

Islam Nusantara, bukan berarti wanita Islam Indonesia harus berkebaya dan rambut disanggul, bukan begitu. Tapi Islam Nusantara yang benar adalah muslimah Indonesia menutup aurat dengan sempurna dengan tetap memelihara budaya yang tidak melanggar syari’at Allah. Inilah Islam Nusantara yang sebenarnya (Dan ini baru tentang jilbab, belum tentang hal lain yang masih banyak lagi). Karena ingat, aturan yang dibuat oleh Allah (agama) haruslah kita dahulukan dibanding aturan yang dibuat oleh manusia (budaya). Sepakat? ^^

Wallahua’lam.

_Ukhty HD_ (Diselesaikan di Wotu, Kamar Tercinta, 19/07/2016)