Kesalahan Jilbab Syar’i
July 29, 2016
KEBANGKITAN UMAT, IBU HAMIL, DAN ORANG SEPUH
November 10, 2016

Lempar kesalahan

Alhmadulillahi bini’matihii tatimush shoolihaat… Washollallaahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala aalihi washohbihi ajma’in.

Ternyata kita ini, secara umum tentunya, lebih suka menyalahkan orang lain, ketimbang memeriksa diri kita sendiri. Ya, percaya atau tidak. Lihat misalnya di jalanan kita, tempat orang-orang berlalu-lintas dari satu tempat ke tempat yang lain. Masyarakat kita ini, yaitu masyarakat Indonesia, sangat unik sekali suasana jalanannya. Banyak orang yang terlihat buru-buru dalam berkendara. Banyak yang suka menyerobot, dan jarang yang mau mengalah. Masing-masing merasa paling berhak dengan jalannya. Dan konon katanya, perilaku masyarakat itu terlihat dari perilakunya di jalanannya.

Dan percaya atau tidak, ketika membaca paragraf sebelum inipun banyak diantara kita yang membayangkan bahwa kesalahan itu memang ada, pada orang lain. Jarang diantara kita yang merasa bersalah, atau bahkan malu dengan perilakunya sendiri.

Jalanan kita adalah tempat yang menyeramkan, karena perilaku-perilaku ini. Para pengendara motor  merasa tidak nyaman karena keberadaan mobil, bus atau becak sekalipun, karena terganggu lajunya tersebab mereka itu, katanya. Pengendara mobil pun demikian, sering merasa was-was dengan motor, sepeda dan lainnya karena seringkali memotong lajunya. Dan lain sebagainya. Mungkin perlu juga kita sebutkan banyak terjadi kecekalaan lalu lintas yang menyebabkan saling bertengkar (bukannya saling menolong), karena masing-masing merasa benar sendiri. Masing-masing merasa kesalahan bukan pada dirinya.

Mari kita perhatikan mengenai persoalan ini : menyalahkan orang lain. Perilaku ini perlu kita ubah. Karena ia tidak menyelesaikan persoalan. Mungkin bisa jadi perasaan kita merasa lebih longgar karena persoalan telah dilimpahkan kepada orang lain. Tetapi bukankah, persoalan itu sebenarnya belum selesai?

Menyalahkan, membuat kita enggan meminta maaf, meskipun sebenarnya kitalah yang bersalah. Menyalahkan, membuat kita sulit mencapai perbaikan dan kemajuan, karena persoalan tidak terselesaikan. Dan orang tidak benar-benar memperhatikan cara penyelesaian masalah itu. Namun hanya ingin “cuci tangan” dari kesalahan.

Kita bisa menjumpai fenomena pendidikan pada anak dengan pelajaran “menyalahkan”. Yaitu misalnya sang bunda berkata kepada putranya ketika ia jatuh dan menangis karena tersandung batu : “Aduh nak, tenang ya nak, tidak usah menangis. Ini batunya yang nakal bunda pukul. Nih.. nih…”. Padahal apa salah batu? Anak diajarkan untuk menyalahkan orang lain. Maka tidak perlu heran sang anak akan belajar hal yang sama. Ketika nilainya buruk dia akan mengatakan “Bapak/Ibu guru ngajarnya tidak enak Bunda.” atau kalimat semisalnya.

Dalam kehidupan Ayah Bunda pun demikian, jika mental menyalahkan sudah menjadi kebiasaan, maka sering terjadi Ayah menyalahkan Bunda ketika rumah berantakan, sementara itu Ayah merasa dirinya sudah bekerja keras mencari nafkah. Padahal bisa jadi karena Ayah yang kurang membantu. Bukankah Rasulullah mencontohkan untuk membantu urusan rumah tangga, misalnya.

Dalam Al-Qur’an kita pun menjumpai peristiwa saling menyalahkan :

وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِنَ النَّارِ
40:47 Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?”

قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ الَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ
40:48 Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba- (Nya)”.

Penghuni neraka saling berbantah-bantahan. Orang-orang yang dulu sekedar menjadi pengikut menyalahkan orang-orang yang dulu mengajaknya melakukan pembangkangan. Dan tentu saja orang yang mengajak itu tidak mau disalahkan. Dan keduanya adalah sama.

Bagaimana dengan kita? Jangan-jangan sama saja antara kita dan orang yang kita salahkan. Atau bisa jadi malah sebenarnya kita yang salah, namun menyerahkan kepada orang lain. Dan kemungkinan ketiga, jika ternyata kita tidak salah dan orang lain yang salah, lalu kita menyalahkan orang itu, selesaikah permasalahan?

Dalam jejak kisah para sahabat kita menjumpai teladan yang indah. Sebagaimana dikisahkan [1] Salman Al-Farisi mengajukan diri menjadi jaminan bagi seorang pemuda yang menjadi pelaku pembunuhan terhadap ayah dari dua kakak beradik. Si pemuda itu karena kemarahan sesaat membunuh ayah dari kedua kakak beradik disebabkan karena sang ayah membunuh kuda tunggangan pemuda itu, karena kuda itu memakan tanaman dikebun ayah dan keluarga kakak beradik itu. Maka kedua kakak beradik itu meminta kepada ‘Amirul Mu’minin Umar ibn Khaththab untuk menjatuhkan hukuman qishosh. Nyawa dibayar dengan nyawa.

Namun karena si pemuda ingin menyelesaikan urusan amanah dikampungnya, maka si pemuda meminta tenggat waktu 3 hari. Akan tetapi tidak ada penjamin waktu itu. Si pemuda tidak memiliki kenalan seorang pun untuk menjamin dirinya, untuk menggantikan dirinya, jikalau dia tidak datang pada hari ketiga. Dan hampir saja Salman Al-Farisi benar-benar menjadi tebusan, untuk menggantikan si pemuda itu.

Salman Al-Farisi kala itu ditanya oleh Umar ibn Khaththab, mengapa ia mau menjamin si pemuda itu. Salman pun mengatakan : “Sungguh jangan sampai orang-orang berbicara, bahwa tidak ada lagi orang yang mau saling membagi beban dengan saudaranya. Atau jangan sampai ada yang merasa, tidak ada lagi rasa saling percaya di antara orang-orang Muslim.”

Dan akhirnya kedua kakak beradik itu pun memutuskan untuk memamaafkannya. Saat ditanya kenapa keduanya memaafkan pemuda itu, kakak beradik itu berkata : “Agar jangan sampai ada yang mengatakan, bahwa dikalangan kaum Muslimin tidak ada lagi kemaafan, pengampunan, iba hati dan kasih sayang.”

Teladan berharga ini perlu kita contoh. Salman Al-Farisi bersedia untuk “pasang badan”, dengan keteguhannya. Hingga akhirnya kisah ini berakhir sangat indah.

Jikalau banyak orang yang lebih memilih untuk membantu orang lain, ketimbang menyalahkan dan melepaskan diri dari kesalahan, tentu hal ini lebih baik. Persoalan-persoalan akan terselesaikan. Izzah kaum muslimin pun akan naik, dan orang-orang akan memandang mulianya akhlak perilaku muslimin.

Akan tetapi, kita ini lebih suka menyalahkan orang lain, dan lebih suka berlepas diri dari masalah dan tidak ingin membantu orang lain.

[1] Lapis lapis keberkahan, halaman 494-499, Salim a fillah

USTADZ IBNU JIHAD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *