Kenapa Seorang Mayit Memilih “BERSEDEKAH” Jika Bisa Kembali Hidup ke Dunia?
March 1, 2017
Tanda-tanda malam al-Qadr
March 21, 2017

Apakah boleh berumrah di malam kedua puluh tujuh Ramadhan?

Malam kedua puluh tujuh bulan Ramadhan merupakan salah satu malam yang berpotensi terjadi malam al-Qadr. Namun, tidak terdapat dalil yang menganjurkan untuk mengkhususkan malam tersebut dengan melakukan ibadah umrah. Keutamaan yang disebutkan dalam hadits hanyalah diperuntukkan bagi mereka yang melakukan shalat di malam al-Qadr. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ْ َ نَم َ ام َق ِ ةَلْيَل ر اا ْدَ الق ان َيم ِ ، إ اباا َسِتْ اح َ َ و رِغ ف ه
َ
اَ ل َ م ْ مَّدَقَت ِ نِم هِبْنَذ

“Barangsiapa yang melakukan qiyam al-lail pada malam lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah berlalu.”

Redaksi hadits di atas menyebutkan keutamaan bagi orang yang melakukan qiyam al-lail, bukan orang yang berumrah. Demikian pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

َّ نِ إ ا َف ِ ةَرْع م يه ِف ل ا ِدْعَت ةَّج َح

“Sesungguhnya pahala berumrah di bulan Ramadhan setara dengan pahala berhaji.”

Redaksi yang tercantum tidak khusus menyebutkan bahwa keutamaan di atas hanya akan diperoleh bagi mereka yang berumrah di malam kedua puluh tujuh bulan Ramadhan.

Carilah dia di malam terakhir

Meski malam kedua puluh tujuh Ramadhan telah berlalu, namun bulan Ramadhan belum sepenuhnya berakhir. Setelahnya, masih terdapat malam kedua puluh sembilan yang juga merupakan malam yang agung.

 Dan boleh jadi malam al-Qadr terjadi pada malam terakhir bulan Ramadhan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 َ س وا ِمَتْال ِ ةَلْيَل يِ رْدَقْال ِ ف   رِ آخ ةَلْيَل

“Carilah malam al-Qadr pada malam terakhir.”

Alasan lain, hadits yang menerangkan terampuninya dosa seorang yang melakukan qiyam di bulan Ramadhan, berkonsekuensi keutamaan tersebut diperoleh bagi orang yang menyempurnakan qiyam Ramadhan hingga malam terakhir. Dengan begitu, mintalah pertolongan Allah agar Anda dapat berdzikir, bersyukur, dan menunaikan ibadah kepada Allah dengan maksimal.

Setiap amal shalih ditentukan di akhir

Seekor kuda akan mengerahkan segenap kemampuan ketika berada di penghujung lintasan perlombaan. Setiap orang yang mengoptimalkan ibadah di waktu-waktu terakhir bulan Ramadhan, niscaya Allah akan memberikan ampunan atas dosa dan kekurangan dalam ibadah yang dikerjakan. Tolok ukur terletak pada akhir yang baik, meski diawali dengan kekurangan. Ya Allah, bekalilah kami dengan kekuatan dan keimanan dalam menempuh bulan Ramadhan.

Jika al-Quran telah dikhatamkan

Sebagian orang terkadang malah lalai mengerjakan shalat Tarawih bersama imam setelah al-Quran dikhatamkan. Padahal hadits, ْ َ

نَم َ ام َق ان َضَمَ ر ا انا َيم ِ ، إ ا ابا َسِتْ اح َ َ و رِغ ف ه
َ
اَ ل َ م ْ مَّدَقَت ِ نِم هِبْنَذ

“Barangsiapa yang melakukan qiyam di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah berlalu.”

memiliki arti bahwa keutamaan yang tertera dalam hadits di atas diperoleh bagi orang yang melakukan qiyam al-lail di seluruh malam bulan Ramadhan. Maka seorang yang lalai, justru tidak memperoleh keutamaan tersebut sama sekali atau keutamaan tersebut diperoleh namun tidak sempurna.

Shalat Tarawih tidaklah bertujuan untuk sekadar mengkhatamkan al-Quran. Namun, yang menjadi tujuan adalah menghidupkan malam-malam bulan Ramadhan dengan ibadah. Bisa jadi, malam terakhir bulan Ramadhan, di mana seseorang tidak lagi melakukan shalat Tarawih bersama imam setelah al-Quran dikhatamkan, justru menjadi waktu terjadinya malam al-Qadr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *