Kesederhanaan, Kunci Keberhasilan
October 5, 2011
Qurban
October 29, 2011

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Alfi Syahar M.A

Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Ibnu Abbas bahwa Nabi bersabda :

ما من أيام العمل الصالح أحب إلى الله فيهن من هذ الأيام يعني أيام عشر ذي الحجة . قالوا : ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال : ولا الجهاد في سبيل

الله إلا رجلا خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك يشيء

“Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : sepuluh  hari dari bulan Dzulhijjah. “Mereka bertanya : “Ya Rasulullah, tidak juga Jihad fi Sabilillah?”, Beliau menjawab : “tidak juga Jihad fi Sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya. Kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun.” [HR.Bukhari 2/381]
Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Nabi bersabda :

مامن أيام أعظم عند الله سبحانه ولا أحب إليه العمل فيهن من هذه الأيام العشر , فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد .

“Tidak ada hari yang agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebaikan di dalamnya daripada sepuluh  hari (Dzulhijjah)ini. Maka perbanyaklah pada saat itu Tahlil, Takbir dan Tahmid.” [HR. Ahmad].

Amalan-Amalan Yang Disyariatkan
1. Melaksanakan ibadah Haji dan Umrah
Amal ini adalah yang paling utama, berdasarkan hadits shahih yang menunjukan keutamaannya, antara lain, sabda Nabi :

العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة

 “ Dari Umrah ke Umrah adalah tebusan  (dosa-dosa yang dikerjakan) diantara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah syurga.” [HR. Muslim/1349].

2. Berpuasa selama hari-hari tersebut atau pada sebagiannya terutama pada hari Arafah
Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya disebutkan dalam hadits qudsi , artinya : “Puasa itu adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya. Sungguh ia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku.”
Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah bersabda :

مامن عبد يصوم يوما في سبيل الله تعالى إلا باعد الله بذلك اليوم وجهه عن النار سبعين خريفا

 “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari dijalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun.” [ Muttafaqun’alaihi].

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah bahwa Nabi bersabda :

صيام يوم عرفة يكفر السنة الماضية والباقية

 “Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap ridha Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya.” [HR.Muslim/1162].

3. Takbir dan dzikir pada hari-hari tersebut.
Sebagaimana firman Allah :

ويذكروا اسم الله في أيام معلومات

 … “ Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan…” [QS.Al-Hajj : 28].

Para ahli Tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu para Ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut. Berdasarkan hadits dari Ibnu Umar, artinya : “Maka perbanyaklah pada hari-hari itu Tahlil, Takbir dan Tahmid” [HR.Ahmad].
Imam Bukhari menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan Takbir lalu orang-orang pun mengikuti Takbirnya.
Dari Ishaq meriwayatkan  dari Fuqaha’ Tabi’in  bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :

الله أكبر , الله أكبر , لا إله إلا الله والله أكبر , الله أكبر ولله الحمد

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar tidak ada Ilah (sembahan) yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah.”

Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, mesjid dan lain-lainnya. Sebagaimana Firman Allah, artinya : “Dan hendaknya kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu…” [QS.Al Baqarah : 185].

Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majelis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor) . Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Sahabat. Yang menurut Sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri, ini berlaku pada semua dzikir dan do’a. Kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.

Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah, seperti Takbir, Tashbih dan do’a-do’a lainnya yang disyari’atkan.

4. Taubat serta meninggalkan segala maksiat dan dosa.
Sehingga mendapatkan ampunan dan Rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan ketaatan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.
Disebutkan dalam hadits dari  Abu Hurairah, bahwasanya Nabi bersabda :

إن الله يغار وغيرة الله أن يأتي المؤمن ماحرم الله

“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya.” [Muttafaqun’Alaihi].

5. Banyak beramal shalih.
Berupa ibadah Sunnah seperti ; Shalat, shadaqah, membaca Al qur’an, Amar ma’ruf nahi Munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipatgandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, bahkan sekalipun Jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihadnya orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

6. Disyari’atkan pada hari-hari itu takbir muthlaq.
Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat I’ed. Dan disyari’atkan pula takbir Muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak Dzuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat ‘Ashar pada akhir hari Tasyriq.

7. Berqurban pada hari raya Qurban dan hari-hari Tasyriq.
Hal ini adalah Sunnah Nabi Ibrahim yakni ketika Allah ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi berqurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk, Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki Beliau, disisi tubuh domba itu. [Muttafaqun’alaihi].

8. Dilarang mencabut atau memotong rambut dan kuku bagi orang yang hendak berqurban.
Diriwayatkan oleh Muslim dan yang lainnya, dari Ummu Salamah bahwa Nabi bersabda :

“Jika kamu melihat Hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang diantara kamu ingin berqurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya.” Dalam riwayat lain : “Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berqurban.”

Hal ini mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah Haji yang menuntun hewan qurbannya.Firman Allah :

ولا تحلقوا رءوسكم حتى يبلغ الهدي محله

“Dan janganlah kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum qurban sampai di tempat penyembelihannya.” [QS. Al Baqarah : 196].

Larangan ini menurut dzahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berqurban saja, tidak termasuk isteri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berqurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambut yang rontok.

9. Melaksanakan Shalat I’edul Adha dan mendengarkan khutbah.
Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyari’atkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan  dan kesombongan; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti nyanyian-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebaikan yang dilakukannya selama sepuluh hari.

10. Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, Melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya. Semoga Allah melimpahkan TaufiqNya dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.

Facebook Comments