Oleh: Gani Purwiandono*
KAIDAH KEDUA
Nama-nama Allah merupakan nama sekaligus sifat
Nama-nama Allah ta’ala, merupakan nama bila ditinjau dari penunjukkan kepada dzat dan menjadi sifat bila ditinjau dari kandungan maknanya. Berdasarkan tinjauan pertama nama-nama Allah adalah sinonim, karena semua nama-namaNya menunjuk pada satu dzat, yaitu Allah azza wa jalla. Sedangkan berdasar tinjauan kedua nama-nama Allah tidak sinonim, karena setiap nama menunjukkan maknanya yang khusus. Jadi nama Al Hayyu (الحي), Al ‘Alim (العليم), Al Qadir (القدير), As Sami’(السميع), Al Bashir (البصير) semuanya adalah nama-nama untuk satu dzat, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi, makna Al Hayyu (الحي) tidak sama dengan makna Al ‘Alim (العليم) dan makna Al ‘Alim (العليم) tidak sama dengan Al Qadir (القدير), demikian seterusnya.
Dikatakan bahwa nama-nama Allah itu sekaligus sifat berdasarkan petunjuk al qur’an, sebagaimana dalam firman-Nya:
Dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS: Al Ahqaf: 8)
Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. (QS: Al Kahfi: 58)
Yaitu, karena pada kedua ayat ditunjukkan nama ar rahim (الرحيم) itu yang memiliki sifat rahmah. Seseorang dikatakan ‘Alim (orang yang berilmu) tentu kalau ia memiliki ilmu dan dikatakan sami’ (orang yang mendengar) kalau ia memiliki pendengaran. Demikian juga, seseorang dikatakan bashir (orang yang melihat) tentu kalau ia memiliki penglihatan.
Dengan demikian, kekeliruan terjadi pada ahli ta’thil dalam hal ini karena meniadakan nama-nama Allah, dimana mereka berkata, Sesungguhnya Allah ta’ala itu maha mendengar tapi tanpa memiliki pendengaran, maha melihat tapi tanpa memiliki penglihatan, dan maha perkasa tanpa memiliki keperkasaan dan seterusnya
Mereka beralasan bahwa penetapan adanya sifat-sifat menimbulkan konsekuensi berbilangnya dzat yang disifati, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Alasan ini sangat lemah, bahkan tidak memiliki dasar. Dalil sam’iyah (al qur’an dan sunnah) dan aqliyah (akal) menunjukkan kekeliruan perkataan mereka.
Dilihat dari dalil sam’iyah, Allah telah menyebutkan dirinya dengan sifat-sifat yang banyak, padahal Dia dzat yang maha Esa. Allah berfirman:
Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang mempunyai 'Arsy, lagi Maha mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (QS: Al Buruj:12-16)
Dalam ayat-ayat yang mulia di atas terdapat sifat-sifat yang banyak untuk satu dzat yang disifati dan penetapan adanya sifat-sifatnya tersebut tidak mengharuskan berbilangnya dzat yang disifati, yaitu Allah.
Sedangkan dilihat dari akal, sifat bukanlah sesuatu yang terpisah dari pemiliknya, sehingga bila ada beberapa sifat ditetapkan pada satu dzat akan menimbulkan konsekuensi berbilangnya dzat tersebut. akan tetapi sifat merupakan bagian dari sekumpulan sifat-sifat yang dimiliki oleh suatu dzat, yang tidak terpisah dari dzat tersebut. setiap yang wujud mesti memiliki banyak sifat. Allah memiliki sifat wujud (ada), yang keadaannya sebagai wajib wujud atau mungkin wujud (mungkin wujud, mungkin tidak) dan sebagai sifat yang berdiri sendiri atau sifat yang tidak berdiri sendiri.
Dari keterangan di atas, dapat diketahui bahwa Ad Dahru (masa/zaman) bukan termasuk nama Allah. Karena Ad Dahru adalah ism jamid, yang tidak menunjukkan satu sifat yang dapat dimasukkan sebagai al asma’ al husna (nama-nama Allah yang husna) dan karena Ad Dahru adalah nama untuk masa dan zaman.
Allah ta’ala berfirman terhadap orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan:
Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa" (QS: al Jatsiyah:24)
Yang mereka maksud Ad Dahru adalah peredaran malam dan siang. Adapun sabda rasulullah yang diriwayatkan oleh bukhari dan muslim dari shahabat abu hurairah:
Allah berfirman: Ibnu Adam telah menyakitiKu, karena dia mencela Ad Dahru (masa), padahal Akulah Ad Dahru. Segala perkara ada di tanganKu. Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.
Hadits tersebut tidak menunjukkan bahwa Ad Dahru termasuk nama Allah. Hal itu karena Ad Dahru yang mereka maksudkan tidak lain hanyalah masa atau zaman dimana terjadi peristiwa-peristiwa, bukan Allah ta’ala. Sehingga makna perkataan Allahواناالذهر dalam hadits diatas adalah sebagaimana dijelaskan oleh kata-kata selanjutnya bunyi hadits selanjutnya, yaitu بيديَ الأمرُأقَلبُ الليل والنهار Allahlah yang menciptakan Ad Dahru (masa) dan peristiwa yang ada padanya. Allah menjelaskan bahwa Allalah yang mengatur siang dan malam, yang keduanya adalah Ad Dahru. Tidak mungkin dzat yang mengatur menjadi dzat yang diatur pada perkataan sesudahnya, yaitu siang dan malam. Dengan demikian jelaskan bahwa Ad Dahru dalam hadits ini bukanlah Allah ta’ala
KAIDAH KETIGA
Nama-nam Allah terkadang disebutkan dengan kata kerja transitif,
terkadang dengan kata intransitif
kata kerja transitif ialah kata kerja yang membutuhkan objek penderita. Sedangkan kata kerja intransitif ialah kata kerja yang tidak membutuhkan objek penderita.
Nama-nama Allah jika disebutkan dengan kata kerja transitif, maka mengandung tiga hal:
Pertama: Penetapan nama itu sendiri untuk Allah azza wa jalla
Kedua: Penetapan sifat yang terkandung dalam nama tersebut untuk Allah azza wa jalla
Ketiga: Penetapan hukum dan konsekuensinya.
Oleh karena itu para ulama menetpakan gugurnya hukuman bagi perampok yang bertaubat dengan berdalil firman Allah ta’ala:
kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; Maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS: Al Maidah:34)
karena kedua nama Allah yang ada dalam ayat di atas yaitu Al Ghafur (الغَفُورُ) dan Ar Rahim (الرحِيمُ) menunjukkan Allah telah mengampuni dosa-dosa mereka dan merahmati mereka dengan menggugurkan hukuman atas mereka.
Contoh lain:
Nama As Sami’ (السمِيعُ) mengandung tiga hal, yaitu:
- Penetapan As Sami’ (السمِيعُ) sebagai nama Allah ta’ala
- Penetapan sifat ‘mendengar’ sebagai sifat Allah ta’ala
- Penetapan hukum dan konsekuensinya yaitu Alllah mendengar hal yang tersembunyi dan bisik-bisik, sebagaimana firmanNya:
Sesungguhnya Allah telah mendengar Perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat (QS: Al Mujadillah: 1)
Kemudian jika nama-nama Allah disebutkan dengan kata kerja intransitif, maka mengandung dua hal, yaitu:
Pertama: Penetapan nama tersebut sebagai nama Allah
Kedua: Penetapan sifat yang terkandung dalam nama tersebut sebagai sifat Allah ta’ala
Contohnya:
Al Hayyu (الحَيُ). Nama ini mengandung:
- Penetapan Al Hayyu (الحَيُ) sebagai nama Allah azza wa jalla
- Penetapan sifat kehidupan sebagai sifat Allah ta’ala
*Penulis adalah Mahasiswa Kimia UGM '06

