Sebuah artikel mengantarkan "Takbligh Akbar: Persatuan Islam" yang akan diselenggarakan oleh DPC WI Yogyakarta, 18 April 2010
(Muhammad Agung Bramantya)
Tidak saja di dunia bisnis dan selebritis, bahkan terjadi di kalangan aktivis. Kalau terjadi di dunia bisnis dan selebritis, kami bisa menahan tangis. Namun jika persaingan bengis di kalangan aktivis, hati kami sangatlah teriris.
Persaingan adalah perihal bersaing (berlomba, atas-mengatasi, dahulu-mendahului –KBBI–). Muslim di Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Jika merunut fakta sejarah, masyarakat Indonesia sudah terlalu lama mengenyam dan mengecap apa yang dikenal sebagai “devide-at-impera” beratus tahun lamanya, sehingga mindset “kompetisi”, semangat bersaing dalam berkehidupan sehari-hari secara turun menurun membekas di pola pikir sebagian masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam hingga hari ini.
Add a comment




Homoseksual adalah kerusakan moral yang nyata. Jarang sekali ada orang di bumi Indonesia ini yang terang-terangan menyatakan bahwa homoseksual itu wajar. Namun anehnya, baru-baru ini media santer memberitakan akan diadakannya kongres internasional perkumpulan lesbian, gay, biseks, transgender, interseks (ILGA) di Surabaya, walau belakangan acara amoral ini bisa digagalkan oleh berbagai elemen umat. Walhamdulillah.
menyelamatkan keimanan. Dan iman bukanlah sekadar kata-kata yang terucap, akan tetapi hakikatnya mengandung konsekuensi yang harus ditanggung dan amanah yang harus dipikul. Jihad membutuhkan kesabaran, tidak cukup seseorang mengatakan kami beriman sementara mereka tidak meninggalkan atau melaksanakan tuntutan iman. Hingga mereka diberi cobaan oleh Allah Ta’ala terhadap keimanan mereka, dan terbuktilah jika mereka mampu tetap bertahan, lalu keluarlah mereka dengan hati dan jiwa yang bersih. Allah Ta’ala berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi.” (QS. Al-Ankabut: 2).







