Entah karena motif apa yang melatarbelakangi terjadinya banyak fitnah terhadap da’i-da’I yang memperjuangkan dakwah ahlu sunnah wal jama’ah. Fitnah ini terjadi tidak hanya di dunia maya, namun juga di alam nyata. Di dunia maya misalnya, artikel-artikel dengan menggunakan kata-kata pedas dan keras yang ditujukan pada beberapa da’I dengan mudah dijumpai. Belum lagi fitnah yang terjadi di realitas kehidupan, tak kalah serunya. Tentu tidak ada perbedaan hukum di antara keduanya, sama-sama dilarang.
Perlu disadari bahwa fitnah akan berpengaruh pada kredibilitas da’I di mata umat. Jika umat sudah terkena pengaruh fitnah, maka sia-sia da’I tersebut berdakwah. Umat sudah hilang kepercayaan. Perkataan dan perilaku da’I tersebut tidak akan memiliki kekuatan untuk mempengaruhi umat. Itulah bahaya fitnah.
Fitnah memang lebih kejam daripada pembunuhan. Seperti halnya pedang mengoyak nadi, sungguh menyakitkan. Jika pembunuhan menyebabkan jasad seseorang mati, maka fitnah merupakan bentuk pembunuhan karakter. Orang tersebut hidup, namun fungsi, peran dan pengaruhnya mati dihadapan masyarakat.
Sebenarnya fitnah biasa terjadi dalam perjuangan dakwah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pada awal dakwahnya mendapat tuduhan fitnah dari kaum musyrikin berupa tuduhan tukang sihir dan orang gila. Bahkan istri beliau, Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mendapat tuduhan fitnah yang disebarkan oleh para kaum munafikin. Akibat fitnah tersebut, Aisyah merasakan guncangan psikologis yang luar biasa. Para sahabat maupun sahabiyah pun ada beberapa yang ikut terpengaruh fitnah tersebut. Hingga akhirnya, Allah membebaskan Aisyah dengan turunnya ayat yang menyatakan bahwa Aisyah terbebas dari segala tuduhan fitnah yang disebar para munafikin. Banyak pula ulama yang pernah merasakan tuduhan fitnah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dijebloskan kepenjara disebabkan oleh fitnah yang disebarkan oleh orang-orang yang membenci beliau. Begitu pula halnya dengan kasus Syaikh Al-Albani rahimahullah. Beliau dipenjara dikarenakan segelintir ulama yang fanatik terhadap madzhab berbuat makar terhadap beliau..
Fitnah bukanlah perkara yang sepele. Besar bahayanya, luas pula dampaknya. Memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kredibilitas seorang da’I. Hendaknya tiap kita menjaga lisan dan tulisannya agar tidak mudah mengungkap aib atau kesalahan seorang da’i. Umat memperoleh manfaat ilmu yang besar ketika mengikuti pengajian seorang da’i. Bahkan umat belajar banyak dari akhlak, semangat belajar, dan dakwah da’I tersebut. Tiap orang tentu memiliki aib atau kesalahan. Jika seorang da’i memiliki aib, maka tidaklah pantas aib tersebut disebar, lalu menjadi konsumsi khalayak ramai. Sudah menjadi kewajiban seorang muslim untuk menjaga kehormatan saudaranya sesama muslim. Selain itu, nasehat lebih pantas didahulukan bagi seorang da’I yang terjerumus dalam kesalahan daripada sekedar caci makian. Bukankah agama itu nasehat? Wallahu a'lam.

