Pembantaian, suatu kata yang amat menyakitkan telinga. Bukan karena telinga yang sakit oleh luka, tapi kata-kata itu masuk, merasuk, lalu menusuk perasaan kita. Betapa tragisnya melihat darah yang mengalir dari urat nadi yang teriris. Mayat-mayat bergeletakkan dijalanan tanpa ada yang mengurus. Sadis, sungguh tega memenggal kepala manusia lalu dengan wajah tertawa, si pembunuh memajangnya dipinggiran jalan. Kejam, dengan sengaja memamerkannya dihadapan para kamerawan. Dimana lagi letak hati itu. Pembantaian begitu mudahnya disulut dengan konflik yang remeh. Nyawa manusia seolah tidak ada lagi harganya. Apakah hati ini sudah tergantikan dengan insting binatang. Rela membunuh makhluk-makhluk kecil yang tidak berdosa, wajah-wajah lucu yang begitu lugu. Tubuh yang telah kaku itu tak pernah mengerti, mengapa mereka harus ikut menjadi korban kematian. Anak-anak, hati mereka begitu polos. Senyum mereka riang tanpa tersisipkan sandiwara dusta. Pengakuan mereka adalah kejujuran hati, tanda jiwa itu masih murni dan belum ternodai. Tangis air mata tak bisa lagi terbendung, mengapa tubuh mungil itu harus ikut mati tertembus peluru atau tertusuk besi. Pembantaian, sebuah kata yang menyakitkan. Bukan telinga yang terluka, tapi hati yang tertusuk perih.
Kaum muslimin identik dengan pembantaian. Mereka bukanlah pembantai, namun mereka kaum yang sering dibantai. Menjadi minoritas maka harus siap menjadi alat permainan musuh. Jangankan menuntut hak perut, hak nyawanya pun siapa yang peduli. Kaum muslimin sudah amat sering merasakan pedih sayatan pedang, tusukan ombak, tikaman pisau, dihujani rudal, ditembaki peluru, dan serangan yang menyakitkan lainnya. Kisah pilu yang tak terlupakan, kaum kita pernah dibantai di Aceh, Sampit, Poso, Bosnia, Ambon, Palestina, Afganistan, Irak, dan entah dimana lagi dipenjuru dunia. Pembantaian itu sangat melukai hati. Tidak peduli orang tua, anak-anak, atau wanita, kaum muslimin sudah sering kehilangan mereka. Kita kehilangan mereka dalam keadaan mereka mengerang kesakitan. Sakit karena daging yang teriris, atau jantung yang tertembus.
Lebih menyakitkan lagi, ketika kaum kita terbantai, kita tidak dapat berbuat banyak. Kita hanya menjadi penonton suatu adegan pembantaian massal. Tontonan yang terekam dalam alat-alat hiburan. Tragedi menjadi hiburan disaat luang. Dijadikan sebagai koleksi pribadi. Hanya menjadi penyemangat untuk waktu sesaat. Mengapa kisah pembantaian itu harus menjadi konsumsi hiburan. Hiburan yang hanya menggerakkan sedikit dari tubuh kita. Kenangan itu pun hanya melekat dibenak sekedarnya saja. Apa dengan menonton pembantaian itu lantas tubuh kita bergerak untuk berbuat sesuatu. Atau kita sama kejamnya dengan para pembantai, merasa puas mendapat tayangan langka.
Kini, siapakah yang membela kaum kita yang terbantai diberbagai pelosok bumi. Mereka butuh uluran tangan dari saudara-saudaranya yang lain. Empati itu baik, namun alangkah baiknya jika ikut membantu kaum kita yang tertindas sebagai minoritas. Keadaan dimana kematian selalu menghantui. Nyawa tidak lagi dihargai dan tubuh setiap saat terancam tikaman. Hidup mereka begitu mencekam. Ajal seolah siap menjemput dalam hitungan detik.
Negeri Andalusia membangkitkan kenangan kita akan kemajuan peradaban Islam. Namun di Andalusia jugalah kenangan akan tradegi yang amat memilukan. Darah menggenang dijalanan, nyawa-nyawa berguguran. Kaum muslimin pada saat itu terusir, hina, lemah, dan terpecah belah. Diakhir cerita, mereka kembali dibantai oleh komplotan Ratu Isabella. Lagi-lagi, tradegi pembantaian terjadi untuk kesekian kali.
Kaum muslimin hingga kini tak juga kunjung bersatu. Apakah persatuan itu baru akan datang setelah kepala-kepala kita terpisah dari tubuhnya? Apakah persatuan itu baru muncul jika anak-anak kita telah mati tergeletak tak berdaya? Apakah persatuan itu baru akan tercipta setelah istri, bibi, adik, atau kaum muslimah kehormatannya dirampas secara paksa? Apakah persatuan itu baru akan bangun setelah rumah-rumah kita dibakar habis? Apakah persatuan itu baru akan bangkit setelah urat nadi terputus? Apakah persatuan baru akan tegak setelah ribuan nyawa hilang melayang? Apakah persatuan baru akan hidup setelah kaki-kaki orang-orang kafir menginjak kepala kita? Intinya, apakah kita harus menunggu saat-saat pembantaian, baru kita akan bersatu?
Kaum muslimin adalah raksasa-raksasa yang perkasa. Namun sayangnya, seringkali raksasa-raksasa ini dipermainkan para kurcaci. Raksasa ini terlena dan terbuai dengan badannya yang besar, sehingga menganggap remeh para kurcaci pengganggu. Keperkasaan mereka hilang karena sering menganggap remeh para kurcaci. Padahal para kurcaci ini bersatu, sedangkan para raksasa sering berperang berebut pengaruh dan kekuasaan. Para raksasa itu lelah, kemudian menjadi lemah. Konflik tak berkesudahan begitu lama. Kurcaci bersatu padu dan membantai raksasa-raksasa yang tercerai berai itu satu per satu. Kapankah raksasa-raksasa itu akan kembali perkasa dan berkuasa dimuka bumi ini? Entahlah.
Para kaum berhala terus menginjak-injak kehormatan kaum muslimin di Thailand dan Myanmar, sedangkan kaum ateis komunis semakin bengis membantai kaum muslimin di Cina daratan. Belum lama usai tragedi Poso, Ambon, dan Sampit. Namun siapa yang menjamin tragedi itu tidak akan terulang lagi. Badai memang telah berlalu, akan tetapi mungkin saja terjadi lagi di suatu waktu. Harapan penuh dan setulus hati semoga itu tak terjadi. Persatuan, tentu harapan yang akan terus ada. Persatuan dan kekuatan itu harus segera terbangun, sehingga tidak ada lagi seorang muslim yang kepalanya terpajang di tiang gantungan, sementara tubuhnya menjadi bangkai tak terurus di makan belatung. Cukup sudah jerit tangis bocah kecil, wanita, dan orang tua yang tak berdaya. Sudah saatnya para raksasa bersatu, berdiri gagah penuh wibawa dihadapan para kurcaci yang usil. Lupakan cercaan, makian, maupun hinaan di antara sesama kita. Bangun percaya diri, kini saatnya kita maju berlari, membangun peradaban yang sesuai manhaj islami. Wallahu a'lam.











