Belajar Islam

Islam Untuk Semua

Thursday, Jul 29th

Last update:08:20:25 AM GMT

You are here:

Momen Cinta ‘Idul Adha

E-mail PDF

 

Pembaca yang dirahmati Allah…

Ada yang pernah mendengar sebuah roman Italy yang berjudul “Romeo & Juliet”…? Saya bisa memastikan jawabannya 99% pasti iya. Memang cerita fiksi yang satu ini sudah tidak asing di telinga seluruh penduduk bumi, entah mengapa setiap hal berhubungan dengan makhluk yang bernama “cinta” selalu memiliki sensasi tersendiri di hati, tidak peduli apakah itu realita maupun fiksi belaka.

Bukan hal yang mengherankan bila manusia rela melakukan apa saja demi Cinta karena orang yang jatuh cinta hatinya tertawan pada yang dicinta. Dengan sepenuh hati dia rela melakukan apapun untuk membuktikan bahwa dia adalah sang pencinta sejati, membuktikan bahwa cintanya adalah cinta tulus tanpa sekutu, tercurah dari isi hati yang paling dalam, tertuju semata-mata kepada yang dicinta tanpa terbagi kepada selainnya, dan bahwasanya hanya dialah semata yang menguasai relung hati. Cinta semacam ini membuat segala sesuatu yang menimbulkan ridho yang dicinta terasa manis dimatanya, meskipun secara kasat mata hal itu sangat pahit dan menyakitkan.

Pembaca yang dirahmati Allah…

Tahukah antum, sadar atau tidak ternyata ajaran agama kita ini memendam sebuah relity roman..? memang sekilas kedengaran janggal, karena opini publik memandang bahwa yang namanya “cinta” dan “romantisme” itu selalu dihubungkan dengan perbuatan “mungkar” berlabel “pacaran”, begitulah cara pandang orang-orang yang dimabuk nafsu syahwat. Namun islam memiliki opini berbeda tentang cinta, yang sekiranya tulisan ini bisa menjelaskan tentang hal tersebut.

Inilah sebuah kisah cinta nyata yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang berhati bersih – semoga kita termasuk bagian dari mereka-. Tidak seperti roman picisan seperti “Romeo & Juliet” yang hanya mengajak orang lain untuk berbuat “bodoh”, tapi ini adalah roman yang kaya akan pelajaran berharga bagi para “pencari cinta”, di dalamnya tersirat makna agung akan hakikat “cinta suci sejati”

لقدَ كْانَ فَيِ قصَصَھِم عْبْرِة لٌأوِّلُيِْ الألبَاْبَ مِا كانَ حَدَیثِا یفتُرَْىَ ولَكَنِ تصَ دْیِق الذَّيِ بیَْنَ یدَیَْھ وَتفَصِْیلَ كلَُّ شَيْءٍ ( وھَدُىً ورَحَ مَْةً لِّقَوْمٍ یُؤْمِنُونَ ( 111


“Benar-benar dalam kisah-kisah mereka itu ada ‘Ibroh bagi orangorang yang berakal, tidaklah ( al-qur’an itu ) cerita yang dibuat-buat, melainkan membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (Yusuf:111)

Inilah kisah yang memprovokasi kita untuk menyelam ke titik nol kesadaran insani, menundukan kepala dihadapan kemahasucian kasih Ilahi, menerawang pikiran jauh ke batas khayalan surgawi, untuk merenungi satu pertanyaan “apakah aku seorang pecinta sejati…?”

Pembaca yang dirahmati Allah…

‘Idul Adha adalah “moment cinta”, didalamnya tesirat sebuah roman yang mengajak kita bernostalgia akan kisah cinta sejati yang terabadikan sejak ribuan tahun silam, gambar hidup akan keberhasilan pejuang cinta untuk membuktikan ketulusan hati kepada yang dicinta, untuk membuktikan bahwasanya tiada lain di hati selain dia, dan bahwasanya hidup matinya hanya untuknya.

Kisah bermula ketika ajakan Ibrohim kepada kaumnya untuk merajut kembali cinta suci Ilahi dengan membersihkan diri dari “sikap mendua” kepada selain-Nya, pupus dan sirna di bawah bayang-bayang tangan besi Namrud. Dan yang lebih mengiris hati, ayahnya tercinta adalah orang pertama yang berdiri dihadapanya untuk membungkam seruan mulia itu. Akhirnya harapan itu dia alihkan kepada keturunannya, harapan agar keluar dari tulang sulbi hamba-hamba kekasihnya, hambahamba yang memurnikan cinta mereka kepada-Nya dan tidak “menduakan-Nya”, hamba-hamba dengan ikhlas bersedia meletakan kening-kening mereka diatas tanah bersujud kepada-Nya, sebuah generasi baru yang mewarisi cintanya. Atas dorongan itu, tergeraklah kedua bibirnya melantunkan doa terpanjatkan kepada kekasihnya Yang Maha Mendengar Doa:

( ربَ ھبَ ليِ منَِ الصَّ الِحِینَ ( 100


“wahai Robb-ku, karuniakanlah kepadaku –keturunan- yang soleh” (Ash-Shooffaat:100)

Sebagai manusia yang telah Allah ta’ala angkat sebagai kekasih- Nya sebagaimana Dia terangkan:

( وَاتَّخَذَ للهُّ إِبْرَاھِیمَ خَلِیلاً ( 125


“Dan Allah telah mengangkat Ibrohim sebagai Kholil (kekasih)” (An- Nisa’ : 125)

tentu tidak akan tega mencampakannya bersama rintihan hatinya, mustahil Dia melihat kekasih-Nya mengemis dengan kedua tangan menengadah kepada-Nya penuh hina kemudian dia kembali dengan tangan hampa, padahal Dia sendiri berkata:

( وَقاَلَ رَبُّكمُ ادعْوُنيِ أسَْ تَجِب لكُم ( 60


“berdoalah kalian kepada-Ku niscaya aku akan mengabulkan” (Al- Mu’min: 60)

maka Allah ta’ala mengabulkan harapannya dengan mengeluarkan seorang hamba soleh dari dari tulang sulbinya,

( فبَشَرَّ نَْاهُ بِغُلَامٍ حَلِیمٍ ( 101


“Maka kami berikan dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar” (Shod:101)

Alangkah berbunga-bunganya hati Ibrohim dengan hadiah ini, seorang buah hati yang akan menjadi pionir bagi generasi tauhid sebagai penawar sakit hati atas keingkaran kaumnya, generasi pengemban panji kemuliaan dan keharuman namanya sepanjang zaman, generasi para nabi dan rasul yang akan mewarisi cintanya.

Sampai disini, setelah menyusuri panjangnya aral kehidupan bersimbah darah dan air mata, ternyata badai belum berlalu… Gemuruh dan halilintar berhenti bergetar, bukan pertanda selesai, tapi menyambut ombak ujian baru yang tidak kalah besar… Ujian cinta, baru akan di mulai… Disinilah moment penentuan apakah dia layak menjadi “pejuang cinta sejati”…

Pembaca yang di rahmati Allah…

Mari sejenak kita membayangkan… bagaimana perasaan antum… apabila ibu antum yang sudah renta menghadiahkan sebidang tanah untuk ditanami, kemudian antum bekerja segenap hati dan raga, siang malam penuh semangat tanpa kenal terik dan lelah, dengan angan-angan menghiasi pikiran bahwa suatu saat nanti antum akan menikmati manisnya buah hasil keringat sendiri… tanpa disadari antum telah melalaikan hak-hak ibu antum… dan ketika masa panen tiba ibu berkata “anakku… bakarlah semua tanaman itu… Jangan ada yang tersisa…”. Bagaimana perasaan antum… apa yang antum lakukan…?! Marah? Kecewa? sedang antum tahu bahwa surga berada di telapak kaki ibu…?!

Setidaknya perumpamaan itulah yang bisa saya ungkapkan untuk menggambarkan kondisi Ibrohim disaat-saat menghadapi ujian itu, Allah ta’ala berfirman di surat Ash-Shooffaat:

فلَمَاَّ بلَغَ معَھَ السَّعْ يَ قَالَ یَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانرظُ ماَذاَ ترَىَ قاَل یاَ أبَتَ افعْلَ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إنِ شاَء للهَّ منَِ الصَّ ابِرِینَ ( 102 ) فلَمَاَّ أسَْ لَمَا وَتَلَّھُ لِلْجَبِینِ ( 103 ) وَناَدَیْنَاهُ أَنْ یَا إِبْرَاھِیمُ ( 104 ) قدَ صدَقَّتَْ الر ؤُّْیَا ( إناِ كذلَكَِ نَجَ زْيِ المْحُ سِْنِینَ ( 105 ) إِنَّ ھَذَا لَھُوَ الْبَلَاء الْمُبِینُ ( 106 ) وَفدَیْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِیمٍ ( 107 102.


Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” 103.Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). 104. Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, 105. sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik 106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. 107. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang agung

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di –rohimahullahu rohmatan wasi’ah- berkata dalam kitab tafsirnya mengenai ayat tersebut itu: “sesungguhnya hal itu (perintah untuk menyembelih putranya) benarbenar ujian nyata yang denganya kami uji Ibrohim, sebuah ujian yang membuktikan kemurnian dan kesempurnaan cintanya. Ketika Allah ta’ala menganugrahkannya isma’il ternyata dia sangat sangat mencintainya, padahal disaat yang bersamaan Allah ta’ala telah mengangkatnya sebagai Kholil (kekasih) – dan khullah adalah derajat cinta yang paling tinggi yang tidak menerima sekutu, dan menuntut keterikatan seluruh hati. Maka ketika salah satu cabang hati Ibrohim terpaut pada anaknya Isma’il Allah ta’ala ingin memurnikan dan menguji cintanya dengan menyuruhnya menyembelih orang yang cintanya kepadanya telanh menyaingi cintanya kepada-Nya. Dan ketika terbukti bahwa Ibrohim lebih mengedepankan cinta Rabb-nya daripada hawa nafsunya serta bertekad kuat untuk menyembelih putranya dan dengan begitu lenyaplah sang pesaing dari hatinya, maka ketika itu penyembelihan putranya tidak lagi bermanfaat. Allah ta’ala berfirman:

( إِنَّ ھَذَا لَھُوَ الْبَلَاء الْمُبِینُ ( 106 ) وَفَدَیْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِیمٍ ( 107 106.


Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. 107. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang agung (Ash-Shooffaatt: 106-107) Allah ta’ala menggantinya dengan kambing, maka jadilah penyembelihan itu sebagai moment agung, agung karena itu adalah penebus bagi ismail, agung karena itu menjadi ibadah yang mulia, ibadah sunnah yang abadi hingga hari kiamat” (taisir karimur rohman). Itulah moment dimana Ibrohim berhasil mengukir sejarah cinta, sebuah moment yang sadar atau tidak sadar akan terus dikenang oleh penduduk langit dan bumi sepanjang masa. Kalau kita rinci segudang pelajaran yang tersirat dalam cerita diatas tentu tidak akan berujung, yang jelas ada beberapa hal penting yang patut kita renungi bersama, diantaranya: cinta karena Allah ta’ala adalah cinta tertinggi dan termulia yang tidak berakhir kecuali dengan kebahagiaan, cinta yang tumbuh karena selain Allah ta’ala adalah gambaran kebencian, cinta yang tumbuh karena sebab-sebab tertentu yang tidak kekal akan luntur dan sirna bersamaan dengan luntur dan sirnanya sebab tersebut, maka cinta sejati adalah cinta yang tumbuh karena Allah, ta’ala, karena hanya Dialah Yang Maha Kekal lagi Maha Sempurna.

( كلُ مَنْ عَلَیْھَا فَانٍ ( 26 )ویَبَْقىَ وجَ ھُْ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ( 27 26.


Semua yang ada di bumi itu akan binasa 27. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Ar-Rohman: 26-27)

Ya Allah… jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melebihkan cintanya pada-Mu agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu… Ya Allah… Jika aku jatuh hati izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya bertaut kepada-Mu agar aku tyidak jatuh pada cinta yang semu… Ya Allah… jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindukan syahid di jalan-Mu agar hatiku tidak berpaling dari-Mu… Ya Allah… Jika aku menikmati cinta kasih, janganlah kenikmatan itu kurasa melebihi nikmat cinta kasih-Mu agar aku tidak lalai merindukan surga-Mu…

Rosulullah sholallahu’alaihi wa sallam berdoa:

اللھم إني أسألك حبك وحب من یحبك وحب عمل یقربني إلى حبك “


Ya Allah aku memohon cinta-Mu, dan cinta siapa saja yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkan diriku kepada cinta-Mu”

Sumber : http://ikatanalumniarraayah.wordpress.com/

*Ustadz Rizki Narendra adalah seorang Hafidz Qur'an yang telah diterima di Universitas Islam Madinah. Beliau adalah salah satu alumni dari Ar-Royyah.



blog comments powered by Disqus