Belajar Islam

Islam Untuk Semua

Thursday, Jul 29th

Last update:08:20:25 AM GMT

You are here:

Hijrah, Suatu Ujian Terhadap Keimanan

E-mail PDF

Satu hal yang menjadi alasan bahwa hijrah memiliki kedudukan yang mulia dalam kerangka iman disebabkan karena hijrah merupakan jalan yang ditempuh untuk menyelamatkan keimanan. Dan iman bukanlah sekadar kata-kata yang terucap, akan tetapi hakikatnya mengandung konsekuensi yang harus ditanggung dan amanah yang harus dipikul. Jihad membutuhkan kesabaran, tidak cukup seseorang mengatakan kami beriman sementara mereka tidak meninggalkan atau melaksanakan tuntutan iman. Hingga mereka diberi cobaan oleh Allah Ta’ala terhadap keimanan mereka, dan terbuktilah jika mereka mampu tetap bertahan, lalu keluarlah mereka dengan hati dan jiwa yang bersih. Allah Ta’ala berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi.” (QS. Al-Ankabut: 2).

Penulis kitab Al-Kasyaf berkata, “Fitnah adalah ujian terhadap beratnya beban dengan meninggalkan tanah air, melawan musuh, melaksanakan seluruh ketaatan, meninggalkan syahwat dan kenikmatan, menjadi fakir dan kesulitan, dan berbagai musibah yang menimpa harta dan jiwa. Kemudian sabar menghadapi ulah, intimidasi serta kebencian yang dilakukan orang-orang kafir.”

Adapun makna ayat di atas adalah apakah orang-orang yang sudah mengucapkan kalimat syahadat dan mengatakan iman mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja tanpa cobaan. Pasti Allah Ta’ala akan memberi berbagai macam cobaan hingga kesabaran, akidah, dan keikhlasan mereka teruji serta tulus karena mengharapkan ridha Allah Ta’ala.

Fitnah atas keimanan adalah sesuatu yang pasti dan sunnah yang terus bergulir dalam timbangan Allah Ta’ala. Sebagaimana juga hijrah yang merupakan sunnah yang terus bergulir bagi ahlul iman dalam menghadapi ahlul kafir. Hal itu sebagai simbol karena kebenaran dan kebathilan akan senantiasa berhadapan hingga hari kiamat.

Agar kita memahami makna fitnah secara detail, maka kita perlu menyimak beberapa definisi fitnah. Ar-Raghib berkata, “Asal arti fitnah adalah memasukkan emas ke dalam api agar terlihat warna aslinya (kilauannya) dari warna lainnya.” (Al-Mufradat: 371)

Fairuz Abadi berkata, “Fitnah adalah pengalaman.” (Al-Qalam: 6) Dan fitnah juga dapat berarti kekagumanmu terhadap sesuatu. Sementara makna asalnya adalah memasukkan emas ke dalam api agar terlihat kemurniannya. Kalimat jamaknya adalah fitan. (Bashair Dzawit Tamyiz 4: 116)

Telah dijelaskan bahwa hijrah merupakan kondisi yang dipenuhi dengan berbagai rintangan. Ia harus dijalankan oleh mereka yang memiliki kekuatan prima. Fitnah diberikan kepada mereka yang beriman, dan Allah menambahkan petunjuk kepada mereka dengan datangnya fitnah tersebut. Allah Ta’ala berfirman, “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Buruuj: 8)

Sungguh para Muhajirin adalah orang-orang yang memiliki hati yang bersih dengan landasan takwa serta mencari keridhaan Allah Ta’ala. Mudah bagi mereka untuk menjaga Kalimat Allah Ta’ala, membela-Nya dengan harta yang sedikit ataupun banyak. Mereka bahkan rela meninggalkan kampung halaman serta segala kenangannya. Inilah buah dari akidah dengan keimanan yang kokoh di dalam hati. Inilah hasil tarbiyah yang ditanamkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk selalu melakukan pengorbanan, kesungguhan, dan kesiapan. Mereka sangat yakin bahwa mereka berada dalam pentunjuk Allah Ta’ala. Sekalipun jasad dan harta mereka musnah demi menegakkan Kalimat Rabb-nya, mereka bahagia karena yakin bahwa ruh mereka tetap hidup disisi Rabb mereka dengan rezeki yang melimpah.

Adapun fitnah yang paling besar yang dihadapi manusia adalah fitnah syahwat dan jiwa. Seseorang yang rakus, sangat berambisi terhadap kesenangan dan jabatan, maka sulit baginya untuk tetap istiqamah dalam menjalani keimanan atau paling tidak stabil menjaga keimanannya. Padahal ia telah mendapatkan kemudahan-kemudahan, kemewahan, kesenangan, dan seluruh fasilitas kehidupan di zamannya.

Bersama berjalannya waktu, sementara pertolongan Allah dirasa tidak juga datang, maka biasanya fitnah menjadi lebih terasa keras dan berat. Hingga tidak ada orang yang mampu bertahan kecuali mereka yang selalu dijaga Allah Ta’ala. Mereka itulah orang-orang yang ditetapkan dalam diri mereka hakikat iman.

Jika fitnah dalam keimanan begitu banyak dan beragam, hijrah merupakan fitnah dan cobaan dijalan iman. Oleh karena itu, sekarang hijrah harus dipahami secara universal dan sempurna. Karena bisa jadi hijrah yang terjadi hari ini adalah hijrah dengan hati yang meninggalkan kecondongan-kecondongan akan kemusyrikan menuju bersihnya kalimat tauhid. Demikian juga sesungguhnya hijrah hari ini adalah hijrah dengan akal, yaitu meninggalkan metode-metode yang penuh fitnah serta pemahaman sesat menuju pemahaman yang memberikan petunjuk. Selain itu, hijrah pada hari ini juga merupakan hijrah yang dilakukan dengan meninggalkan kemalasan, kesia-siaan, kebodohan, menuju kesungguhan, kemuliaan akhlak, serta tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Hijrah pada saat ini juga adalah hijrah secara menyeluruh kepada sistem yang sesuai dengan syariat Allah dan agama-Nya. Hijrah dengan segala pengertian inilah yang diisyaratkan oleh ayat, “Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. (QS. Ad-Dzariyat: 50)

Seseorang yang berhijrah kepada Allah Ta’ala hendaknya memiliki kesiapan untuk menanggung amanah yang diberikan kepadanya. Ia juga harus memiliki kesiapan khusus yaitu memiliki pengetahuan yang luas mengenai kesulitan yang mungkin akan dihadapinya. Dan juga ia harus memiliki keyakinan yang kuat akan pertolongan Allah, serta pahala besar yang dijanjikan-Nya.

 

Sumber:

Dr. Ahzami Samiun Jazuli, Hijrah dalam Pandangan Al-Qur’an: Gema Insani Press

 


blog comments powered by Disqus