Sutrah merupakan sesuatu yang bisa dijadikan sekat bagi orang yang shalat, bisa berupa dinding atau yang lainnya.
Tujuannya adalah menghalangi siapa saja yang lewat dihadapan orang yang shalat agar tidak mengganggu shalatnya, serta agar setan tidak memutus shalatnya. Disunnahkan bagi imam dan orang yang shalat sendirian agar shalat dengan menghadap sutrah, baik sewaktu mukim ataupun safar, meskipun ia tidak mengkhawatirkan ada yang lewat dihadapannya.
Di antara dalil-dalil yang menunjukkan anjuran diletakkan sutrah adalah shalat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang menghadap ke dinding. Beliau pernah menancapkan tombak pada waktu safar di tanah yang lapang, lalu beliau shalat dihadapannya. Dan beliau menambatkan hewan tunggangannya, lalu shalat menghadap ke arahnya.” (Silahkan lihat Zaadul Ma’ad (I/305))
Mendekat Ke Sutrah
Disunnahkan agar mendekat ke sutrah dimana ruang antara dirinya dan sutrah hanya sebatas untuk tempat sujudnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika seorang dari kalian shalat menghadap sutrah, maka mendekatlah. Jangan sampai setan memutus shalatnya.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’i)
Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad, ia berkata, “Biasanya ruang antara Rasulullah dan tanda kiblat (sutrah) adalah sekadar tempat melintas seekor kambing.” (HR. Bukhari)
Apabila seseorang shalat di masjid atau sejenisnya, maka sebaiknya ia berusaha semampunya mendekat ke dinding atau tiang. Adapun bila ia shalat di tanah lapang, maka disunnahkan agar ia shalat menghadap kesesuatu yang tinggi seperti pohon, batu besar, tongkat, punggung manusia, atau sejenisnya.
Sutrah Bagi Orang yang Tidak Menemukan Benda yang Tinggi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kamu mengerjakan shalat, hendaklah ia letakkan sesuatu dihadapannya. Jika ia tidak menemukan sesuatu hendaklah ia menancapkan tongkat. Jika ia tidak membawa tongkat, hendaklah ia menarik garis kemudian apapun yang lewat dihadapannya tidak akan merusak shalatnya. (HR. Abu Daud)
Maksud garis disini adalah garis yang tampak jelas. Misalnya tempat shalat yang lantainya dari pasir dan tanah. Adapun menggarisnya dengan pensil atau sejenisnya, maka dalam hal ini syaikh Al-Utsaimin mengatakan, “Zahirnya, garis-garis yang berwarna-warni itu tidak cukup, akan tetapi jika seandainya pada tempat shalat itu terdapat garis yang tampak pada ujuang tikar atau ujung permadani, maka garis seperti itu bisa dijadikan sebagai sutrah karena bentuknya terlihat.”
Sutrah Imam adalah Sutrah bagi Makmum yang Dibelakangnya
Sutrah Imam adalah sutrah makmum, karena makmum mengikuti imam. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat menghadap sutrah dan tidak memerintahkan para sahabat untuk membuat sutrah lain untuk mereka.
Berdasar hal ini pula, apabila lewat sesuatu yang dapat membatalkan shalat antara imam dan sutrahnya, maka batallah shalat imam dan batal pula shalat makmumnya.
Sumber:
Syaikh Muhammad bin Shalih bin Sulaiman Al-Khazim, Panduan Shalat Lengkap: Pustaka At-Tibyan


gempa n tsunami di Aceh bisa jg tuh.. gempa jogja?
artikelnya bagus nih (up to date) ana copas ya..
Afwan ana ijin untuk mengcopy buat di share
Dunia telah dipenuhi oleh fitnah-fitnah dan yang lebih parahnya fitnah-fitnah tersebut dianggap benar. Musuh islam berhasil menggiring opini masyarakat dunia untuk menyudutkan islam dan bahkan di indonesia ini yang mayoritas muslim malah termakan olehnya. Sebagai catatan Republik Indonesia sendiri adalah fitnah semenjak tahun 1945 karena Negara ini dibentuk tidak berdasarkan hasil BPUPKI. Semoga kita terlindung dari fitnah-fitnah dunia. Amin. Allahu Akbar.
insyaAllah ada tamid thifan yang mempunyai daht dingin atau panas, walaupun g banyak..mungkin murid-murid yang sudah lama belajar di Bandung, dengan pendekar thifan-nya langsung :)