Belajar Islam

Islam Untuk Semua

Thursday, Jul 29th

Last update:08:20:25 AM GMT

You are here:

12 Sifat Hamba yang ‘Ibaadurahman (Bagian I)

E-mail PDF

Oleh: Hasbi Nur P.W.

Menjadi hamba pilihan adalah dambaan setiap orang. Disamping beriman dan berilmu, ia juga memiliki akhlak yang baik. Bila kita memahami dan merenungi firman Allah subhanahu wa Ta’ala, sifat-sifat ‘Ibadurrahman ini telah tercantum di dalam Al Qur’an surat Al Furqan: 63 - 74 yang sering kita baca. Kemudian apa saja dan bagaimana sifat - sifat hamba-hamba Allah yang beriman yang dimaksud pada ayat tersebut? Berikut pembahasannya :

1. Sifat Pertama : Tawadhu’

Sebagaimana firman Allah subahanu wa Ta’ala :

“......( ialah ) orang -orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati....” (Al-Furqan: 63)

Imam Ibnu Katsir rahimahulllah menafsirkan ayat ini bahwa inilah sifat-sifat hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang beriman, ”Orang-orang yang berjalan dimuka bumi dengan rendah hati ( tawadhu’), berjalan di muka bumi dengan ramah dan lemah lembut, tidak berpura-pura dalam gaya berjalannya dan tidak dengan kesombongan, tidak berjalan dengan gaya yang dibuat-buat serta tidak lemah. Dan yang dimaksud bukanlah bahwa mereka berjalan seperti orang yang sakit, dalam keadaan lemah dan dalam rangka riya’ karena Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri apabila berjalan maka seakan -akan beliau adalah air yang mengalir dari tempat yang tinggi dan seolah-olah bumi dilipat untuk beliau.”

Al haun adalah gaya berjalan seseorang yang sesuai dengan karakter aslinya, tidak berpura-pura dan tidak pula sombong, sedangkan gaya berjalan yang sombong dibenci, kecuali dalam perang di jalan Allah.

Yang dimaksud dengan kata “ rendah hati” disini adalah ketenangan dan kewibawaan Sebagaimana dalam sebuah hadist, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”

))إذَا أُقِيمَتُ الصَّلاةُ فَالا تَأْ تُوْهَا تَسْعَوْنَ ، وَأْتُوْهَا تَمْشُونَ عَلَيْكُمُ السَّكِيْنَتةُ ، فَماَأدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَماَ فاَتَكُمْ فأَتِمُّوا ((

Artinya: “Apabila shalat telah ditegakkan ( iqamat ), maka janganlah kalian mendatanginya dengan tergesa-gesa, datangilah dengan berjalan biasa dan wajib bagi kalian untuk tenang sehingga rekaan berapapun yang kalian dapat, langsunglah kalian shalat ( dibelakang imam), dan berapa rekaan rekaatpun yang tertinggal dari kalian maka sempurnakanlah...” (Muttafaq’alaih)

Sehingga maksud “orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” yaitu bukanlah mereka yang berjalan dengan menundukkan kepalanya, sempoyongan, sebagaimana yang difahami sebagian orang yang ingin menampakkan ketakwaan dan kebaikannya.

Ketika Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu melihat seorang pemuda yang berjalan dengan lambat, ia bertanya kepadanya: ”Apakah kamu sedang sakit?“ Ia menjawab, “ Tidak.” Beliaupun memerintahkan pemuda itu untuk berjalan dengan cepat dan penuh kekuatan1

2. Sifat Kedua : Membalas Kejelekan dengan Kebaikan

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, ”....dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata ( yang mengandung ) keselamatan.” (Al Furqan: 63)

Jika orang-orang bodoh mengumpat mereka dengan ucapan yang buruk, mereka tidak membalasnya dengan ucapan yang buruk pula, tetapi memaafkan, membiarkan, dan tidak membalas kecuali dengan perkataan yang baik. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membalas perbuatan bodoh (jahil) mereka melainkan dengan kesabaran dan lemah lembut,

“Qaalu Salaaman”: ada beberapa pendapat dalam memaknai kata “salaaman” yaitu :

1. Tidak bertindak bodoh kepada seorang pun dan jika ada yang bertindak bodoh kepada mereka, mereka akan berlemah lembut kepadanya.

2. Mereka berkata dengan perkataan yang benar tidak menyakiti dan tidak mengandung dosa. Dan ini merupakan pendapat imam Mujahid, yang menjelaskan tentang makna dari kata salaaman” yaitu kebenaran, yang dimaksud adalah mereka (‘Ibadurrahman).

3. Ada yang berpendapat, ”Jika orang-orang tolol mengarahkan kepada mereka ucapan yang buruk dan perkataan yang keji, mereka mengatakan kepada orng-orang tersebut, ”Salaaman” yaitu, ”Uacapan keselamatan dari kalian,” itu merupakan ucapan salam perpisahan, bukan penghormatan.”

Maka sifat ‘Ibadurrahman adalah tidak membalas perkataan yang buruk dengan perkataan yang serupa. Dan ketika orang-orang dungu melontarkan kalimat yang rendah, ucapan yang buruk dan ungkapan yang keji lagi jelek, merekapun berpaling dan berkata: semoga keselamatan menimpa kalian, kami tidak mengharapkan orang-orang yang bodoh.

Imam Ahmad meriwayatkan dari An-Nu’man bin Muqrin Al Muzani, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika ada seseorang mencaci orang yang ada di dekat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian orang yang dicaci itu berkata: bagimu keselamatan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya seorang malaikat yang ada diantara kalian berdua, setiap kali orang itu mencacimu, dia akan membelamu, ia berkata kepada pencaci itu, Bahkan kamu dan kamu yang lebih pantas mendapatkan cacian tersebut, dan apabila kamu mengatakan kepadanya, ’Bagimu keselamatan’, malaikat akan berkata, Tidaklah untuknya, tetapi untuk kamu, kamu lebih pantas mendapatkannya.” ( HR. Ahmad )2

3. Sifat Ketiga : Senantiasa Tahajjud di Keheningan Malam

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya, ”Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Al Furqan: 64)

Sifat ketiga untuk menjadi hamba yang ‘Ibadurrahman yaitu senantiasa tahajjud dikeheningan malam di saat kebanyakan manusia sedang tidur atau menghabiskan malam untuk waktu istirahat mereka. Pada kondisi inilah disaat hati sedang tenang karena jauh dari berbagai kesibukan urusan dunia.

Mereka adalah orang yang menyedikitkan tidurnya, menjauhkan diri dari hal-hal yang melalaikan jiwa mereka di malam hari. Rasa takut dan harapan mereka terhadap Rabb mereka telah mampu menjadikan mereka sebagai manusia-manusia penghidup malam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, ”Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rizki yang kami berikan.” (As-Sajdah: 16)

Juga dalam surat Ad Dzaariyat ayat 17-18, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ”Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam, mereka memohon ampun.”

Pengkhususan waktu malam dalam ayat di atas dikarenakan ibadah dalam waktu malam lebih bisa menghadirkan kekusyukan dan lebih menjauhkan dari riya’, rasa ingin dilihat, diperhatikan dsb.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, ”Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” ( QS. Al Muzammil: 6 )

Waktu malam merupakan waktu yang tepat untuk beribadah dan bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Waktu yang mustajab untuk berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga akhir malam, lalu Berfirman: ‘Barangsiapa yang berdoa, maka Aku akan kabulkan, barangsiapa yang memohon, pasti Aku akan perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti Aku akan mengampuninya.’” ( HR. Al Bukhari)3

4. Sifat Keempat: Ketakutan Mereka dari Adzab Neraka Jahannam

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, jauhkan adzab Jahannam dari kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.’ Sesungguhnya Jahannam itu seburuk - buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” ( Al Furqan : 65-66 )

Sifat hamba yang ‘Ibadurrahman adalah mereka takut terhadap adzab neraka Jahannam. Secara umum makna ayat ini yaitu Sesungguhnya mereka beribadah kepada Rabb mereka, mereka takut terhadap siksa-siksa-Nya, sesungguhnya adzab Rabb mereka, tidak ada orang yang merasa aman dari kedatangannya, sehingga diantara mereka ada yang tamak dan senantiasa mengharapkan rahmat dari Allah, berada dalam ketakutan, dan kekhawatiran terhadap adzab serta siksaan-Nya. Begitu pula keadaan orang-orang yang beriman kepada Allah , mereka tidak pernah putus asa memohon kepada Allah , dan tidak pernah merasa tenang akan siksa dari-Nya. (Diriwayatkan oleh Thabrani di dalam Al- Ausath)

Kedahsyatan adzab neraka Jahannam sudah banyak digambarkan melalui ayat-ayat Al Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam menerangkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dihadapannya ada Jahannam dan dia diberi minuman dengan air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada adzab yang berat.” (QS. Ibrahim: 16-17).

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Air itu akan didekatkan ke mulutnya (penghuni neraka), namun ia menolak, maka air itu memanggang wajahnya dan tumpah ke kulit kepadanya. Sehingga jika ia meminumnya, maka iapun memotong-motong usus-ususnya lalu keluar dari duburnya. Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Dan mereka diberi minum dengan air hamim, sehingga air tersebut memotong-motong usus-ususnya,’ (QS. Muhammad: 15) dan berfirman , Dan katakanlah, ’...dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.’” (QS. Al Kahfi: 2 )4

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Al Muhli berarti air yang kasar seperti endapan minyak. Air itu hitam, bau, kasar, dan panas. Karena itu Allah berfirman, ”Yang menghanguskan muka” karena demikian panasnya. Jika orang kafir akan meminumnya lalu dia mendekatkan ke wajahnya, maka hanguslah mukanya dan berjatuhan kulit wajahnya.

Dan masih banyak kengerian-kengerian siksa neraka Jahannam yang akan diberikan kepada calon penghuninya.

5. Sifat Kelima: Tidak Berlebihan dalam Membelanjakan Harta

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, ”Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al Furqan: 67)

Maknanya adalah sesungguhnya diantara sifat mereka bahwa mereka senantiasa bersikap pertengahan dalam infaq mereka sehingga mereka tidak israf dengan melampaui batas yang tidak disyari’atkan Allah dan tidak pula mereka bakhil, lebih-lebih taqtir dan menyempitkan hingga di bawah batasan. Sesungguhnya mereka adil dan tengah-tengah dalam melakukannya karena mengetahui bahwa sebaik-baik urusan adalah pertengahannya, sehingga di dalam kehidupan mereka, mereka adalah tauladan yang dapat ditiru di dalam sikap ekonomis dan pertengahan serta seimbang.

Jadi kedua sifat yang harus dihindari yaitu israf dan taqtir. Penyianyiaan harta yang bukan pada tempatnya merupakan bentuk Israf sedangkan taqtir adalah pengumpulan harta untuk dirinya sendiri. Maka hamba yang ‘Ibadurrahman dia adalah pertengahan dan seimbang dalam menggunakan hartanya.

Banyak sekali dalil-dalil yang membahas tentang masalah harta ini, baik itu berupa pahala atau balasan kebaikan ataupun ancaman bagi orang yang menyia-nyiakannya. Sebagaimana dalam sebuah hadist, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Tidak ada satuhari pun yang didalamnya para hamba berpagi hari kecuali akan turun dua malaikat, kemudian satunya berkata: Ya Allah berikanlah ganti kepada orang yang berinfak, sedangkan yang satunya berdoa, ’Ya Allah berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya (kikir).’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Wahai anak Adam, kamu menginfakan karunia merupakan kebaikan bagimu, dan jika kamu menahannya, maka itu merupakan kejelekan bagimu, tidak ada celaan rizki yang mencukupi, mulailah dari anggota keluarga yang kamu tanggung. Dan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (Dikeluarkan Imam Ahmad dalam Al Musnad dan Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir)

6. Sifat Keenam: Tidak Beribadah kepada ilah yang lain beserta Allah

Sebagaimana dalam surat Al Furqan ayat 68, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ”Dan orang-orang yang tidak beribadah kepada ilah yang lain beserta Allah...” (Al Furqan: 68)

Maknanya adalah yaitu mereka tidak menjadikan sekutu bagi Allah, baik dalam ibadah maupun akidah mereka. Mereka mengikhlaskan ibadah mereka hanya kepada Allah semata.

Tidak boleh beribadah atau bersumpah yang ditujukan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala karena ini termasuk perbuatan syirik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Daud, dan dishahihkan oleh Hakim dan Ibnu Hibban)

Syirik (menyekutukan Allah) merupakan dosa yang terbesar. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda, ”Perhatikanlah, aku akan memberitahu kamu sekalian dosa yang terbesar (beliau mengulanginya tiga kali): Menyekutukan Allah, berani kepada orangtua, dan kesaksian yang dusta (atau: ucapan dusta),” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semula berdiri sambil bersandar kemudian duduk. Beliau selalu mengulang-ulang sabda itu sehingga kami mengatakan, ”Semoga beliau diam.” (HR. Bukhari: 2654)

Terkadang seseorang tidak sadar atau tidak merasa bahwa dia melakukan perbuatan syirik ini. Ketika seseorang tidak ikhlas dalam beribadah dan bermu’amalah atau semata-mata untuk mencari keuntungan dirinya sendiri atau untuk hal-hal yang bersifat keduniaan sehingga ada bagian untuk Allah dari amal dan usahanya, dan ada pula bagian untuk kepentingan hawa nafsunya, maupun kepada selain-Nya maka hal seperti ini yang kebanyakan terjadi pada umat ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, ”Dan syirik yang akan menimpa umat ini lebih tersembunyi (tidak terlihat) dari rayapan semut,” Para shahabat bertanya, ”Lalu bagaimana kami bisa selamat dari syirik tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Ucapkanlah:

((اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَناَ أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ ))

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu dan aku mengetahuinya, serta aku memohon ampunan kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui.” (Riwayat Ibnu Hibban dalam shahihnya)

Perbuatan Riya’ termasuk perbuatan syirik (syirik kecil). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ”Katakanlah, sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya ilah kamu itu adalah ilah yang Esa,’ Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya.” (Al Kahfi: 110)

 


blog comments powered by Disqus