7. Sifat KeTujuh: Tidak Membunuh
Firman Allah dalam surat Al Furqan, ” .....dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya kecuali dengan (alasa ) yang benar...” (Al Furqan: 68)
Makna dari ayat di atas adalah bahwa mereka tidak akan membunuh satu jiwapun yang telah diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala karena sebab apapun kecuali dengan sebab kebenaran yang menghilangkan keterlindungannya dan kehormatannya seperti kufur setelah dia beriman, berzina setelah dia menikah, membunuh manusia tanpa dosa yang mengharuskannya dibunuh.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu , bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Pada hari kiamat kelak, orang yang dibunuh akan datang dengan orang pembunuhnya, ubun-ubun dan kepala orang yang dibunuh ada di tangan pembunuh dan urat lehernya mengalirkan darah, kemudian orang yang dibunuh berkata, ‘Wahai Rabbku, tanyakanlah kepada orang ini (pembunuh) kenapa dia membunuhku,’ Lalu orang-orang menyebutkan tentang taubat kepada Ibnu Abbas, maka beliaupun membaca ayat:
‘Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah neraka Jahannam dan ia kekal didalamnya...’ (An Nisa : 93 ), kemudian ia berkata, ’Ayat tidak pernah di nasakh (dihapus) dan tidak pula diganti, lalu bagaimana ia akan bertaubat.’” (Dikeluarkan oleh Tirmidzi dan ia berkata : Hadist ini Hasan)
8. Sifat Kedelapan: Tidak Berzina
Sebagaimana Firman Allah subhanahu wa ta’ala, ”....dan tidak berzina....” ( Al Furqan: 68 )
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr, bahwa ia berkata: “Atsaaman yaitu sebuah telaga di Jahannam.” Ikrimah berkata: (يلْق أثَامًا) yaitu telaga-telaga di Neraka Jahannam tempat mengadzab para pezina. Demikian yang diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair dan Mujahid.
Imam Ahmad berkata, ”Saya tidak mengetahui dosa yang lebih besar setelah membunuh jiwa kecuali berzina, dan Allah telah menguatkan keharamannya dengan firman-Nya, ”Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah ( membunuhnya) kecuali dengan (alasan )yang benar, dan tidak berzina..” (Al Furqan: 68)
Dalam surat Al Isra Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman, ”Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra:32 )
Abu Bakar bin Abid Dunya meriwayatkan dari Al-Haitsam bin Malik at- Tha’i dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, ”Tidak ada dosa yang lebih besar setelah syirik dalam pandangan Allah selain meletakkan air mani dalam rahim wanita yang tidak halal untuk digauli.“
Luqman mengatakan kepada anaknya, ”Hai anakku, janganlah kamu berzina. Perzinaan itu mulanya diliputi rasa khawatir dan akhirnya diliputi penyesalan.”
Seperti yang telah terjadi pada zaman sekarang ini dimana tempat-tempat perzinaan sudah merajalela. Tidak mengenal siang maupun malam, hanya digunakan untuk berbuat maksiat. Bahkan perzinaan tidak terjadi pada kalangan dewasa saja tetapi juga di kalangan pelajar sekarang ini. SMP. SMA, Mahasiswa dan kalau ingin dicari bukti sudah cukup banyak. Padahal sudah banyak peringatan-peringatan dan ancaman dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya tentang perbuatan ini. Karena banyak sekali kerusakan atau kerugian -kerugian yang akan ditanggung tidak hanya di dunia saja tetai juga di akherat kelak tentang pertanggungjawaban di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.
Imam Ar Razi telah menyampaikan kerusakan-kerusakan yang diakibatkan perbuatan zina. Dan berikut paparan ringkas kerusakan -kerusakan yang diakibatkan perbuatan tersebut :
Pertama, tercampurnya dan kesamaran di dalam keturunan, karena seseorang tidak mengetahui bahwa anak yang dilahirkan perempuan yang berzina apakah itu berasal darinya atau dari orang lain.
Kedua, jika tidak ada sebab syar’i yang karenanya seorang laki-laki memiliki kekhususan atas seorang perempuan, maka tidak ada cara untuk mencapai kekhususan itu kecuali saling mengalahkan atau membunuh
Ketiga, sesungguhnya apabila seorang perempuan sudah melakukan zina, maka setiap tabiat yang masih lurus akan dianggapnya kotor, dan ketika itu ia tidak akan mendapatkan kasih sayang dan kecintaan serta ketenangan dan dualismenya tidak akan sempurna.
Keempat, kapan saja pintu zina dibuka, maka ketika itu tidak aka nada kekhususan seorang laki-laki atas seorang perempuan dan saat itu pula tidak ada lagi perbedaan antara manusia serta binatang dalam persoalan itu.
Kelima, seorang wanita bukan hanya sebagai sarana pemenuhan kebutuhan syahwat, akan tetapi perempuan merupakan partner bagi laki-laki dalam membina rumah tangga dan menyiapkan segala keperluannya. Dan kepentingan itu tidak aka sempurna kecuali apabila kepentingan seorang perempuan sudah dibatasi pada seorang laki-laki saja, memutuskan harapan dari semua laki-laki , dan semua itu tidak akan tercapai kecuali dengan diharamkannya zina, maka akal sehat akan mengatakan bahwa zina adalah kejahatan.
9. Sifat Kesembilan: Tidak Bersumpah Palsu
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ”Dan orang - orang yang tidak memberikan persaksian palsu...” (QS. Al Furqan: 72)
Ini pun termasuk sifat-sifat ‘Ibadurrahman yaitu mereka tidak menyaksikan az-zuur. Tentang az-zuur ini ada beberapa pendapat :
- Ada yang mengatakan az-zuur yaitu syirik dan menyembah berhala
- Ada yang berpendapat az-zuur adalah dusta, fasik, kufur, permainan dan kebathilan
- Pendapat lain yang dimaksud dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala ( لايَشْهَدُو ن الزُّورَ ) adalah tidak memberikan persaksian palsu, yaitu berdusta secara sengaja kepada orang lain. Sebagaimana tercantum di dalam ash-Shahihain, bahwa Abu Bakrah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Maukah kuberitahukan kalian tentang dosa besar yang paling besar?” (beliau mengucapkan 3 kali). Kami pun menjawab: ‘Tentu ya Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.’ Beliau ( dalam keadaan) bersandar, lalu duduk tegak, dan bersabda: ’Hati hatilah dengan persaksian palsu, hati-hatilah persaksian palsu. ’Beliau terus mengulang-ulangnya hingga kami berkata: ’Seandainya (semoga) beliau diam (tidak diulang-ulang lagi).’
Imam Ibnu Katsir juga mengatakan bahwa pendapat yang lebih jelas berdasarkan rangkaian kalimat tersebut adalah bahwa yang dimaksud dengan tidak menyaksikan az-zuur adalah tidak menghadirinya.
10. Sifat Kesepuluh: Tidak melakukan perbuatan yang tidak berguna
Firman Allah subhanahu wa ta’ala, ”...dan apabila mereka bertemu dengan orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat , mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.”(QS. Al Furqan: 72)
Mereka tidak mendatangi tempat-tempat keburukan. Jika mereka melewatinya secara kebetulan tanpa dikotori sedikitpun. Sehingga Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ”Mereka melewati saja dengan menjaga kehormatan dirinya.”
Ibnu Hatim meriwayatkan dari Ibrahim bin Maisarah, ”Ibnu Mas’ud melewati pertunjukan musik, namun dia tidak berhenti. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Pagi-pagi dan petang hari Ibnu Mas’ud menjadi orang yang mulia.’”
Kemudian Ibrahim bin Maisarah membaca ayat, ”dan apabila mereka bertemu dengan orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya”
Merupakan bentuk kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya. Sebagaimana hadist, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Diantara kebaikan Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna baginya.” (HR. At Tirmidzi)5
11. Sifat Kesebelas: Ketenangan di dalam Keluarga dan Keturunan yang Shaleh
Firman Allah subhanahu wa ta’ala, ”Dan orang-orang yang berkata, ’Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami ), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan: 74).
Yaitu orang-orang yang meminta kepada Allah untuk dikeluarkan dari tulang sulbi mereka, keturunan mereka yang taat dan hanya beribadah kepada-Nya, yang tidak ada sekutu baginya.
Ibnu ‘Abbas berkata, ”Yaitu orang yang beramal ketaatan kepada Allah hingga menjadi penyejuk mata mereka di dunia dan di akherat.”.
Al Hasan al Basri ditanya tentang ayat ini, lalu beliau menjawab: ”Yaitu Allah memperlihatkan hamba-Nya yang Muslim dari isterinya, saudaranya, dan anaknya dalam ketaatan kepada Allah. Tidak, demi Allah, tidak ada sesuatu yang dapat menyejukkan mata seorang Muslim dibandingkan ia melihat anak yang dilahirkannya dan saudara yang mengasihinya sebagai orang yang taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”
Imam Qurthubi menjelaskan makna “Qurrata A’yunin”: Sesungguhnya jika manusia diberi berkah dalam harta dan anaknya, maka matanya menunjukkan kebahagiaan karena keluarga dan kerabatnya, sehingga ketika ia mempunyai seorang istri niscaya berkumpul di dalam dirinya angan-angan kepada istrinya berupa: kecantikan, harga diri, pandangan, dan kewaspadaan, atau jika ia memilki keturunan yang senantiasa menjaga ketaatan dan membantunya dalam menunaikan tugas-tugas agama dan keduniaan serta tidak berpaling kepada suami yang lain, dan tidak pula kepada anak yang lain, sehingga matanya menjadi tenang dan tidak berpaling kepada yang lainnya, maka itulah kebahagiaan mata dan ketenangan jiwa.
12. Sifat Kedua belas: Menuntut ilm u dan Men
gharapkan Taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala
Firman Allah subhanahu wa ta’ala, ”....dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan: 74).
Ibnu ‘Abbas, al Hasan, as Suddi, Qatadah dan ar Rabi’ bin Anas berkata: ”Yaitu para imam yang ditauladani dalam kebaikan.” Selain mereka berkata: “Para penunjuk yang mendapatkan petunjuk lagi para penyeru kebaikan.” Mereka begitu senang bahwa ibadah mereka bersambung kepada beribadahnya anak-anak dan keturunan mereka serta hidayah yang mereka dapatkan bisa bermanfaat kepada yang lainnya hingga banyaklah pahala dan baiklah tempat kembalinya.
Dalam sebuah hadist bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berabda, ”Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: Anak shalih yang mendoakanny, ilmu yang bermanfaat setelahnya, atau shadaqah yang mengalir pahalanya.” (HR. Muslim)
Sehingga merupakan kebahagiaan bagi orang tua yang memiliki anak yang sholeh yang selalu mendoakan kebaikan bagi kedua orang tuanya. Begitu juga sebaliknya doa orangtua kepada anaknya adalah mustajab. Maka hendaknya orang tua memberikan perhatian dan kasih sayang serta penanaman - penanaman nilai -nilai islam yang cukup kepada anak-anaknya sedini mungkin agar kelak putra putrinya nanti tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang beriman dan berakhlak yang baik.
Balasan Bagi yang Memiliki Sifat-Sifat Tersebut
Alangkah mulianya seseorang apabila sifat -sifat yang telah Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam surat Al Furqan tersebut selalu tercermin di dalam kehidupannya sehari-hari. Setelah Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan sifat-sifat Hamba-Nya yang beriman tersebut dengan sifat-sifat yang indah, serta dengan perkataan dan perbuatan yang agung, kemudian dalam surat yang sama Dia berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan martabat yang tinggi ( dalam surga ) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat didalamnya.” (QS. 25:75)
Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. (QS.25:76)
Katakanlah ( kepada orang-orang musyrik): ”Rabbku tidak mengindahkanmu, melainkan kalau ada ibadahmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (adzab) pasti ( menimpamu).” (QS. 25:77).
Mereka adalah orang-orang yang bertakwa yang disifati dengan sifat yang sudah disebutkan sebelumnya (sifat ‘Ibadurrahman), Allah subhanahu wa ta’ala memberikan balasan kepada mereka dengan tempat tertinggi di dalam surga karena kesabaran mereka dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Mereka mendapatkan di tempat tinggi tersebut penghormatan dan salam dari Rabb mereka, dari para malaikat, dan dari sebagian mereka kepada sebagian yang lain.
Catatan Kaki
1 Lihat Tafsir Ibnu Katsir Juz 6
2 HR. Imam Ahmad dalam kitab Al Musnad: 5/445
3 Lihat Shahih Bukhari kitab Da’awaat, bab Doa Nisfullail, 7/149-150
4 HR. At-Tirmidzi
5 (Shahih li ghoirihi) HR at Tirmidzi no 2318. Syakh Albani berkata: “hadist shahih” Lihat Shahih al Jami’ no 5911
Daftar Rujukan :
1. Shifaatu ‘Ibaadirrahmaan filqur’aanil Karim. Karya Shafwat Jaudat Ahmad.
Judul terjemahan : “Menggapai Sifat ‘Ibadurrahman”: penerbit Insan Kamil, Solo
2. Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6. Penyusun: DR. ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh. Penerbit: Pustaka Imam Asy Syafi’i, Cetakan Ketiga
3. Taisiru al-Aliyyul Qadir li Ikhtisari Tafsir Ibnu Katsir. Muhammad Nasib ar-Rifa’i: Maktabah Ma’arif Riyadh
Judul Terjemahan: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3. Muhammad Nasib Ar-Rifai: Gema Insani, Depok
4. Bulughul Maram min Adillatil Ahkam. Al -Hafidzh Ibnu Hajar al-Asqalani
Judul Terjemahan: ”Bulughul Maram (Kumpulan Dalil-Dalil Hukum): Penerbit: Pustaka As Sunnah Jakarta











