Oleh: M.A. Bramantya*
GEMES. Itulah satu kata yang terlintas menyadari realita acara pertelevisian di tempat kita hari ini. Bagaimana tidak gemes, acara hiburan yang seharusnya menyantaikan diri, melepas kepenatan otak,atau mendidik, kemudian justru membuat tegang dan menyisakan konflik sosial. Awal tulisan ini bermaksud menyingkap sedikit wajah buram pertelevisian tanah air, dimana ranah pribadi, urusan personal (dari aktivitas tidur, makan, belanja sampai “kebelakang”pun diulas tuntas, dari perjodohan, perselingkuhan, sampai konflik rumah tangga dikaji teliti) diumbar sedemikian lugasnya menjadi konsumsi umum.
Berikut realitanya:
"Infotainment" memberitakan perceraian sang-idola. "Reality Show" mengulas perselingkuhan dan konflik rumah tangga paling heboh. "Talk Show" lepas tengah malam mengurai perkara tempat tidur. Ironisnya, sebagian orang memublikasikan urusan pribadinya ke layar kaca secara sukarela. "Masihkah Kamu Mencintaiku" menayangkan sepasang suami istri buka-bukaan persoalan rumah tangganya di depan orangtuanya, mertuanya, penonton di studio, dan jutaan pemirsa televisi. Bahkan tidak sering dibeberkan persoalan super-pribadi semisal ketidakpuasan suami atas
layanan istri. "Take Me/Him Out Indonesia" menjadi ajang cari jodoh bikin heboh. Dalam setiap episode "Take Me Out", ada 30 perempuan dan 7 laki-laki berusia 20-40 tahun yang mencari jodoh. Untuk "Take Him Out", jumlahnya dibalik, 30 laki-laki dan 7 perempuan. Terlepas dari motif peserta yang beragam, acara itu digemari banyak orang. Public Relation dan Promotion Fremantle Media di Indonesia menungkapkan bahwa setiap minggu sekitar 150 orang mendaftar untuk audisi acara ini. Acara itu juga ditonton rata-rata 30 persen pemirsa televisi. Sukses Take Me/Him Out kian menegaskan, acara yang mengungkap urusan pribadi disuka pemirsa televisi. Infotainment dan reality show model "Termehek- mehek" sudah lebih dulu membuktikannya. Begitulah cuplikan berita dari Koran nasional online beberapa hari yang lalu.
Mengapa pemirsa suka mengintip urusan pribadi orang lain?
Kepala Laboratorium Psikologi Politik di Universitas terkemuka di Indonesia, mengatakan, urusan pribadi adalah dunia yang tersembunyi. ”Ketika dunia tersembunyi itu diungkap, orang pasti suka. Semakin tersembunyi, semakin orang tertarik. Secara psikologis orang senang membandingkan perilakunya dengan perilaku umum,” katanya. Persoalannya adalah dunia tersembunyi ini sekarang menjadi komoditas unggulan
televisi. ”Ini berbahaya sebab orang digiring setiap hari untuk melihat sesuatu yang dangkal. Kalau begini terus, kita menjadi bangsa yang bebal,” katanya.
Lalu apa hubungannya dengan sahabat pengunjung belajarislam.com?
Jelas terkait hubungan yang erat. Mayoritas pemirsa televisi di Indonesia adalah beragama Islam. Pemirsa teve yang menjadi pelanggan setia acara “begituan” dilaporkan 30% dari total pemirsa teve. Sedangkan populasi muslimnya berkisar lebih dari 80%. Hitung atau bayangkan sendiri kenyataan persentase angka itu. Hal itulah yang membuat hati makin miris. Kenyataan kualitas sinetron, film, konser musik, dan
acara televisi sejak dahulu hingga kini masih belum membaik, bahkan kian parah (parameter parah adalah parameter dalam syariat Islam). Kini ditambah genre baru infotainment ajang gossip dan reality show umbar masalah pribadi. Laa khaula walaa quwwata illa billaah.
Bangsa yang bebal, itulah prediksi pakar psikologi, jika bangsa ini disuguhi, dicekoki dan terus digelontor acara televisi semacam itu. Dan siapakah komponen umat di republik ini yang akan menjadi korban? tentulah masyarakat Islam. Jika bangsa menjadi bebal, berarti masyakat Islamlah yang sebenarnya menjadi bebal. Yah…Anda dan kita-kita ini. Mau?
Marilah kita bersama mencari solusi.
Saat ini yang paling mudah dan efektif adalah “matikan teve segera”. Jika ingin teve-nya tidak mubadzir, tambahlah dengan VCD/DVD player, lalu beli atau pinjam VCD/DVD bermanfaat. Bahkan acara berita di teve- pun harus extra hati-hati menyerapnya sebagai sandaran informasi. Jika ingin saluran pelepas kepenatan dan rileks, carilah alternatif hiburan selain televisi. Dan berusahalah sekuat tenaga lepas dari ketergantungan (kecanduan) nonton teve. Itulah solusi pribadi dan keluarga saat ini.
Bagaimana dengan solusi publik dan umum, ya..harus segera dirintis dan diwujudkan channel teve yang tidak bertentangan dengan syariat Islam, paling tidak minim pelanggaran syariat dan memuat manfaat yang lebih besar. Ngomong (nulis) sih gampang…realisasi itu yang sulit bin tidak mudah super kompleks. Ditambah tantangan dan halangan pihak-pihak yang tidak sejalan seiring dengan nilai Islam, dan itulah realita saat ini. Organisasi Islam besar dan senior sekaliber Muhammadiyah atau NU pun
belum mampu (atau mau?) mewujudkannya. Makanya sumbangkanlah segala apa yang anda punyai (ide, pikiran, tenaga, uang dan informasi) demi terwujudnya solusi tsb, marilah kita bahu-membahu. Dari yang kecil-kecil mudah-mudahan menjadi besar dan langgeng. Percayalah...anak cucu turunan kitalah taruhannya.
* Penulis adalah mahasiswa S3 Keio University, Yokohama , Japan












asj17
almadinah_id