Makanan Halal Dan Haram
March 28, 2011
Sujud Sahwi
April 10, 2011

Qunut Nazilah

Oleh : Ustadz Alfi Syahar, Lc. MA

Definisi
Qunut diambil dari kata قنت- يقنت- قنوتا   yang artinya lama berdiri di dalam shalat, sebagaimana Rasulullahصلى الله عليه وسلم  bersabda :

أفضل الصلاة طول القنوت

“Seutama-utama shalat yaitu panjangnya qunut (lama berdirinya)” [HSR. Muslim, Hakim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah].

Sedang Qunut Nazilah menurut istilah adalah mendo’akan kebaikan atau kemenangan bagi kaum muslimin dan mendo’akan kecelakaan atau kebinasaan bagi kaum kafir yang menjadi musuh Islam seperti kaum komunis Rusia, yang memerangi kaum muslimin Checnya atau seperti kaum Yahudi yang memerangi kaum muslimin di Palestina atau seperti kaum Nashrani yang memerangi kaum muslimin di Ambon dan di Poso dan di daerah lainnya.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik رضي الله عنه :

أن النبي صلى الله عليه وسلم لا يقنت إلا إذا دعا لقوم أو دعا على قوم

“Bahwasanya Nabi tidak pernah Qunut kecuali apabila Beliau mendoa’akan kebaikan bagi satu kaum (muslimin) atau mendo’akan kecelakaan bagi kaum (kafir).” [HSR. Ibnu Khuzaimah].

Hukum Dan Waktu Qunut Nazilah
Qunut Nazilah hukumnya Sunnat dan dikerjakan di raka’at terakhir setelah ruku’ dan dikerjakan selama satu bulan penuh disemua shalat wajib, Dzuhur, Ashar, Maghrib, ‘Isya dan Shubuh, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbasرضي الله عنهما  :

قنت رسول الله صلى الله عليه وسلم متتابعا في الظهر والعصر والمغرب والعشاء والصبح دبر كل صلاة إذا

قال “سمع الله لمن حمده ” من الركعة الآخرة يدعو عليهم …. ويُؤمِن مَن خلفه

 

“Rasulullahصلى الله عليه وسلم  pernah qunut sebulan lamanya berturut-turut dalam shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, ‘Isya dan shubuh. Diakhir setiap shalat, apabila Beliau sudah mengucapkan “sami’Allahu liman Hamidah” dirakaat yang terakhir. Beliau mendo’akan kecelakaan atas mereka….sedangkan ma’mum yang dibelakang , mengucapkan amin.” [HSR.Abu Daud].
Dan disunnahkan juga melakukan qunut pada shalat witir, telah berkata Ibnu Mas’udرضي الله عنه  :

ماقنت رسول الله صلى الله غليه وسلم في شيئ من صلاته إلا في الوتر وإنه كان إذا حرب يقنت في صلوات

كلهِن

“Rasulullahصلى الله عليه وسلم  tidak pernah qunut dari shalatnya kecuali ketika shalat witir, dan sesungguhnya Rasulullah apabila berperang Beliau berqunut di dalam semua shalatnya.” [HR. Hakim dan Baihaqi].

Baca Juga  12 Adab Seorang Muslim Saat Tidur Dan Bangun Tidur

Do’a Qunut
Do’a qunut ada berbagai macam namun intinya ialah meminta kepada Allah kebaikan buat kaum muslimin dan meminta kekalahan atau kecelakaan buat musuh Islam, oleh sebab itu Nabi tidak menetapkan satu do’a tertentu yang dikerjakan ketika qunut, serta tidak memerintahkannya dikarenakan hajat atau keperluan yang berlain-lainan. Jadi tidaklah terlarang bagi kita untuk berqunut dengan do’a yang kita atur sendiri menurut keperluan kita,

-Wallahu’alam-.
Dan doa qunut witir yang pernah diajarkan Rasulullahصلى الله عليه وسلم  kepada Hasanرضي الله عنه  adalah:

اللهم اهدني فيمن هديت , وعافيني فيمن عافيت , وتولني فيمن توليت , وبارك لي فيما أعطيت , وقني

شرما قضيت , فإنك تقضي ولا يُقضى عليك , وإنه لا يذل من واليت , ولا يعزمن عا ديت , تباركت ربنا

وتعاليت

“Ya Allah! Pimpinlah akan daku di dalam golongan mereka yang Engkau telah pimpin, dan peliharalah akan daku di dalam golongan mereka yang Engkau telah pelihara, dan jadikan daku di dalam golongan mereka yang telah Engkau beri kekuasaan, dan berilah berkah kepadaku di dalam apa yang telah Engkau beri, dan selamatkan daku dari pada kejahatan yang Engkau telah tentukan , karena sesungguhnya Engkaulah penghukum dan tidak dapat Engkau di Hukum, dan sesungguhnya tidak akan hina orang yang Engkau tolong, dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi Maha Mulia Engkau wahai Tuhan kami ! lagi maha Tinggi.” [HR. Abu Daud, Thabrani dan Baihaqi].
Qunut yang disyari’atkan bagi kaum muslimin bukanlah Qunut shubuh yang dilakukan secara terus-menerus sebagaimana yang biasa dikerjakan oleh kaum muslimin pada setiap shalat shubuh. Mereka menyandarkan kepada hadits Dho’if (lemah) yang diriwayatkan oleh Ahmad, Baihaqi, Hakim,

Abdurrazzaq dan Abu Nu’aim dari Anasرضي الله عنه  ia berkata :

Baca Juga  Al-Quran Sebagai Penyembuh, Apa Maksudnya?

مازال رسول الله صلى الله عليه وسلم يقنت في الفجر حتى فارق الدنيا

“Senantiasa Rasulullahصلى الله عليه وسلم  berqunut pada shalat shubuh sehingga Beliau berpisah dari dunia (wafat).”

Kalau diperhatikan pada tiap-tiap sanad (rangkaian orang yang meriwayatkan hadits) qunut shubuh tersebut selalu ada  seorang yang bernama Abu Ja’far Ar-Razi yang nama aslinya Isa bin Isa ia telah dilemahkan oleh ahli-ahli hadits diantaranya Imam Ahmad bin Hambal, Nasaa’i, imam Abu Zur’ah, imam Al-Fallas, imam Ibnul Madini, Ibnu Hibban, Syeikhul islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qoyyim.

Berkata Al-Fallas : Ar Razi buruk hafalannya “, berkata imam Ibnul Madani : “Ar-Razi kepercayaan tapi sering keliru dan suka salah.” [Lihat Mizaanul ‘itidal 3:319].

Dengan demikian riwayat Ar Razi ini, yaitu tentang qunut shubuh yang dilakukan terus menerus tidak dapat diterima karena haditsnya lemah, kelemahan hadits ini bertamba jelas  dengan riwayat dari Anas bin Malik ketika ditanya oleh Ashim bin Sulaiman :

إن قوما يزعمون أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يزَلْ يقنت في الفجر فقال : كذبوا إنما قنت شهرا واحدا

يدعو على حي من أحياء المشركين

“Sesungguhnya orang-orang menyangka bahwa Nabi senantiasa qunut dalam shalat shubuh “ jawab Anas bin Malik : “mereka dusta!! Beliau hanya qunut sebulan, mendo’akan keelakaan atas satu qabilah dari qabilah kaum musyrikin.” [HSR. Al Khatiib].

Anas bin Malikرضي الله عنه  mengatakan dusta (yang maksudnya keliru atau salah) kepada mereka yang menyangka bahwa Nabi senantiasa qunut shubuh terus menerus. Dengan penolakan sahabat Anas diatas jelaslah bagi kita tentang riwayat Ar Razi dari riwayat Anas bin Malik juga yang menyatakan bahwa Nabi selalu qunut shubuh adalah Dho’if , bahkan sahabat Thariq bin Asyam sewaktu ditanya oleh anaknya tentang masalah ini, menyatakan dengan tegas tentang bid’ahnya melakukan qunut shubuh secara terus menerus , sebagaimana dalam riwayat dari Sa’ad bin Thariq Al Asyja’i , ia berkata :

قلت لأبي : يا أبتي إنك صليت خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر وعثمان وعلي ,

أفكانوا يقنتون في الفجر ؟ قال : أي بُني مُحدَث

“Aku pernah bertanya kepada bapakku (Thariq bin Asyam) “Wahai Bapak! Sesunggunya Engkau pernah shalat dibelakang Rasulullah, dan dibelakang Abu Bakar, Umar, Utsman dan ‘Ali. Apakah mereka itu semuanya mengerjakan qunut shubuh terus menerus..? jawab Ayahku : “Hai Anakku ! itu (qunut shubuh terus menerus ) adalah perbuatan Bid’ah !” [HSR. Ahmad, Tirmidzi, Nasaa’i,  dan Ibnu Majah].
Dan diriwayatkan oleh Bukhari dari sahabat Abu Hurairahرضي الله عنه  bahwa Nabi pernah berqunut mendo’akan kecelakaan atas beberapa orang dan atas kaum Arab yang telah membunuh beberapa utusan serta hendak membinasakan Islam, tetapi Rasulullah menghentikannya  ketika turun ayat :

Baca Juga  Hadis 1 Kitabul Jaami' : Hak-Hak Sesama Muslim (1)

ليس لك من الأمر شيئ أو يتوب عليهم أو يُعذبهم فإنهم ظالمون

“Engkau tidak ada hak apa-apa di dalam urusan itu, maupun (Allah) menerima taubat mereka atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang dzalim.” [QS. Ali Imran : 128].
Imam Ibnul Qoyyim berkata : “Bukan merupakan petunjuk Nabi senantiasa berqunut pada shalat shubuh, dan merupakan hal yang mustahil bahwa Rasulullah setiap shubuh berqunut. Pada saat I’tidal  sambil mengangkat suaranya lalu diaminkan oleh para saabatnya terus menerus hingga wafatnya kemudian hal itu tidak diketahui oleh Ummat ini bahkan kebanyakan ummatnya tidak mengerjakan dan demikian pula seluruh sahabat, bahkan sebagian diantara mereka mengatakan sebuah bid’ah….Dan adalah petunjuk Beliau berqunut terkhusus saat mushibah menimpa kaum muslimin dan Beliau meninggalkannya saat tidak adanya mushibah dan Beliau tidak mengkhusukan qunut pada waktu shalat shubuh.” [Lihat Zaadul Ma’ad 1/271-273].
Dengan demikian qunut yang biasa dikerjakan oleh banyak kaum muslimin pada shalat shubuh secara terus menerus, tidak pernah dikerjakan oleh Nabi karena hadits yang menerangkan tentang masalah tersebut sangat lemah. Sehingga tidak dapat dijadikan sebagai Hujjah (pedoman).
Wallahu’alam

Maraji’ :
1. Zaadul Ma’ad, Imam Ibnul Qoyyim
2. Shifatu Shalaati An Nabi, Syeikh Al-AlBani