Rukun Iman (Bagian 3)
April 18, 2011
Rukun Iman (Bagian 5)
April 22, 2011

Rukun Iman (Bagian 4)

Oleh Ustadz Rizki Narendra

Tauhid Uluhiyah

Pasal 1: Determinasi tauhid uluhiyah
Tauhid uluhiyah adalah pengakuan bahwa hanya Allah ta’ala semata yang berhak diibadahi, serta berlepas diri dari segala sesuatu yang diibadahi selain-Nya.  Berikut beberapa dalil yang menegaskan hal tersebut:

1. Firman Allah Ta’ala, “Katakanlah: Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya. Demikianlah aku diperintah dan aku adalah orang yang pertama kali  berserah diri (kepada-Nya).” (Al-An’am: 162-163)

Pada ayat di atas Allah Ta’ala memerintahkan Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- untuk memberitahu orang-orang musyrik yang mendedikasikan ibadah mereka kepada selain Allah serta menyembelih bukan atas nama Allah, bahwasanya dia tidak seperti mereka. Dia mendedikasikan segala jenis ibadah hanya kepada Allah ta’ala semata.

Telegram Belajar Islam

2. Firman Allah Ta’ala, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.” (Al-Kautsar:2)
Maksudnya adalah, “dedikasikanlah setiap shalat dan qurbanmu hanya untuk Allah ta’ala semata.”  Allah ta’ala menyuruh Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- untuk menyelisihi kaum musyrikin yang mendedikasikan ibadah dan qurban mereka untuk berhala.

3. Sabda Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam-,“Allah melaknat siapapun yang menyembelih untuk selain-Nya.” (HR. Muslim)

Pasal 2: Determinasi ibadah
Ibadah adalah nama bagi setiap hal yang dicintai dan diridhoi Allah ta’ala, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, baik yang kasat mata maupun tidak.

Contoh ibadah kasat mata (lahir).
Salah satu bentuk ibadah yang kasat mata (lahir) adalah isti’adzah (memohon pertolongan). Isti’adzah merupakan salah satu bentuk ibadah yang telah diperintahakan oleh Allah ta’ala dalam beberapa ayat alquran. Oleh karenanya, siapapun yang mendedikasikan isti’adzah kepada selain-Nya, maka dia telah terjatuh dalam perbuatan syirik.

Allah Ta’ala berfirman, “dan bahwasanya ada beberapa laki-laki dari bangsa manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari bangsa jin, maka jin-jin itu semakin menambah dosa dan kesalahan mereka.” (Al-Jin:6)

Bangsa arab di era jahiliyah dahulu, apabila tiba di suatu tempat yang angker, mereka memohon perlindungan kepada jin penghuni tempat tersebut agar tidak diganggu. Melihat hal tersebut, jin itu justru menggangu mereka agar ketakutan mereka semakin menjadi-jadi, sehingga mereka semakin kuat memohon perlindungan kepadanya.

Contoh ibadah yang tak kasat mata (batin).
Salah satu bentuk ibadah yang tak kasat mata (batin) adalah rasa cinta. Siapapun yang mencintai sesuatu sebagaimana dia mencintai Allah ta’ala, maka sebenarnya dia telah menjadikannya sebagai tandingan Allah ta’ala.  Bukan tandingan dalam kemampuan mencipta maupun sifat rububiyah lainnya, melainkan tandingan dalam hal rasa cinta.

Allah Ta’ala berfirman mengenai hal ini, “dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah dan mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat dalam cintanya kepada Allah.” (Al-Baqoroh: 165)

Pada ayat di atas, Allah Ta’ala mencela orang-orang musyrik karena mereka menyamaratakan kecintaan mereka kepada Allah ta’ala dengan sesuatu selain-Nya, dan tidak mendedikasikan sepenuhnya kepada-Nya sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang beriman.

Pasal 3: Mendedikasikan ibadah kepada selain Allah ta’ala merupakan kekufuran, serta menandakan cacatnya tauhid.
Berikut beberapa dalil yang menjelaskan hal ini

1. Firman Allah Ta’ala, “Sebenarnya, berhala-berhala yang kalian seru selain Allah itu hanyalah makhluk (yang lemah) seperti kalian. Maka serulah mereka! lalu biarkanlah mereka mengabulkan permintaan kalian, jika kalian memang orang-orang yang benar. Apakah mereka mempunyai kaki yang membuat mereka mampu berjalan? atau tangan yang membuat mereka mempu bertindak keras? atau mata yang membuat mereka mampu melihat? atau telinga yang membuat mereka mempu mendengar? Katakanlah: “Panggillah berhala-berhala  yang kalian jadikan sekutu bagi Allah, lalu buatlah (segera) tipu daya (untuk mencelakakan)-ku dan tak perlu menunda-nunda”. (Al-A’raf: 194-195)

Secara eksplisit, dalam ayat di atas terkandung pengingkaran Allah Ta’ala terhadap perbuatan orang-orang musyrik yang menyembah-Nya namun bersamaan dengan itu mereka juga menyembah sesutau selain-Nya semisal berhala dan yang lainya.

Bagaimana mungkin mereka mendedikasikan ibadah kepada berhala-berhala itu, padahal mereka itu tidak lain adalah makhluk Allah yang tidak memiliki kemampuan apapun? tidak mampu mendatangkan manfaat maupun mudharat. Tidak mampu mendengar ataupun melihat, juga tidak mampu menolong orang yang menyembahnya. Bahkan orang yang menyembahnya lebih sempurna dibanding dia.

2. Firman Allah Ta’ala, “Kalau kalian berdoa kepada mereka, mereka tidak mendengar doa kalian. Kalaupun mereka mendengar, mereka tidak mampu mengabulkan permintaan kalian. Dan pada hari kiamat nanti, mereka akan mengingkari perbuatan syirik kalian, dan tidak ada yang dapat memberimu keterangan sebagaimana yang diberikan oleh (Allah) Yang Maha Mengetahui.” (Fathir:14)

Pada ayat diatas, Allah ta’ala menerangkan betapa sia-sianya doa yang dipanjatkan kepada selain-Nya. Bagaimana mungkin dia bisa mengabulkan doa orang yang memohon kepadanya, sedangkan dia sendiri tidak memiliki otoritas terhadap dirinya sendiri?

3. Firman Allah Ta’ala, “Lalu mereka mengangkat (berhala-berhala itu sebagai) ilah-ilah lain selain-Nya, (padahal) mereka (ilah-lah itu) itu tidak mampu menciptakan suatu apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan (olah manusia). Mereka juga tidak mampu membela diri dari marabahaya, dan tidak pula mampu memberi manfaat untuk diri sendiri. Mereka juga tidak mampu mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) mampu menghidupkan kembali (yang sudah mati).” (Al-Furqon: 3)

Kalau mereka sendiri saja tidak memiliki otoritas sedikitpun terhadap diri mereka sendiri, bagaimana mungkin mereka mampu memberi manfaat untuk orang yang menyembahnya? Apabila terbukti jelas bahwa mereka adalah makhluk lemah, bagaimana mungkin mereka pantas untuk disembah?

4. Firman Allah Ta’ala, “Katakanlah: “Panggillah mereka yang kalian anggap (sebagai tuhan) selain Allah! Niscaya mereka tidak akan mampu menghilangkan musibah kalian dan tidak pula (mampu) memindahkannya.” Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) seraya mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (Al-Isra’: 56-57)

Sesembahan itu jelas tidak mampu memberi manfaat maupun mudarat bagi penyembahnya, bagaiman mungkin pantas untuk disembah? Yang lebih aneh lagi, sebagian dari sesembahan itu tunduk dan berserah diri kepada Allah ta’ala, akan tetapi orang-orang musyrik masih saja menyembah mereka.

Dalam kitab Ash-Shahihain, Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan statmen sahabat Abdullah bin Mas’ud yang senada dengan ayat di atas, “ada sekelompok jin yang disembah, kemudian mereka masuk islam. Namun, para penyembah mereka tetap saja menyembah mereka, padahal mereka telah berserah diri kepada Allah ta’ala.”

Dan dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa ada sekelompok manusia yang menyembah beberapa jin. Lalu para jin itu masuk islam, namun para penyembah mereka tetap saja menyembah mereka. Maka turunlah ayat di atas tadi.

5. Firman Allah Ta’ala,“dan janganlah kamu menyembah sasuatu selain Allah yang tidak memberimu manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat, sebab jika kamu melakukannya, maka sungguh kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus: 106)

Pasal 4: Sikap eksesif (berlebihan) merupakan pintu kesyirikan.
Sikap eksesif terhadap orang – orang salih adalah akar kesyirikan. Hal ini telah terbukti berdasarkan tinjaun historis. Kalau kita mengkaji ulang kesyirikan yang terjadi pertama kali di zaman nabi Nuh –‘alaihis salam-, kita akan menemukan fakta bahwasanya berhala-berhala yang mereka sembah, pada awalnya hanyalah patung orang-orang salih dari kalangan mereka. Namun kemudian, syaitan dan rekan-rekannya perlahan-lahan menjadikan ritual penyembahan kepada mereka seolah-olah indah dimata manusia.

Allah ta’ala berfirman, “dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kalian meninggalkan ilah-ilah kalian dan jangan pula sekali-kali meninggalkan wadd, suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr!” (Nuh:23)

Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya membawakan sebuah komentar dari sahabat Ibnu Abbas mengenai ayat dia atas, “Di kemudian hari, berhala-berhala kaum Nuh itu di adopsi oleh bangsa Arab. “Wadd” di adopsi oleh suku Kalb di Daumatul Jandal. “Suwa’” di adopsi oleh suku Hudzail. “Yaghuts” pada awalnya di adopsi oleh suku Murad, lalu kemudian di adopsi oleh Bani Ghuthaif di dekat negri Saba’. “Ya’uq” di adopsi oleh suku Hamdzan. Adapun “Nasr” diadopsi oleh suku Himyar dari klan Dzil Kila’.

Mereka semua pada mulanya hanyalah nama-nama orang salih dari kaum Nuh. Setelah mereka wafat, para syaitan mulai menghasut kaum mereka agar mendirikan beberapa patung di sekitar tempat mereka biasa duduk-duduk semasa hidup dahulu, lalu menemai masing-masing patung dengan nama mereka. Mereka pun malaksanakan hal tersebut, dan kala itu patung-patung itu belum disembah. Kemudian, ketika generasi pertama itu sudah punah dan ilmu mulai pudar, patung-patung itu mulai disembah.”

Oleh karena itulah, Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- melarang umatnya dari sikap eksesif terhadap sosok beliau -sholallahu ‘alaihi wasalam- dengan sabdanya, “janganlah kalian bersikap eksesif (berlebihan) terhadapku sebagaimana orang-orang nasrani bersikap eksesif terhadap putra Maryam! Sesunggunya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah (bahwa Muhammad adalah) hamba dan rosul-Nya” (Muttafaq ‘alaihi)

Beliau -sholallahu ‘alaihi wasalam- juga bersabda, “hindarilah sikap eksesif, karena sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelumkalian bermula dari sikap eksesif dalam beragama.” (HR. An-Nasa’I, Ibnu Majah dan Ahmad dalam kitab Musnadnya)

Saat Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- mendengar seorang budak wanita menyanjung beliau dengan sebuah ungkapan bernada pleonasme (berlebihan) yang mengatakan bahwa beliau -sholallahu ‘alaihi wasalam- mampu meramal masa depan, beliau -sholallahu ‘alaihi wasalam- serta merta mencegahnya karena hal itu merupakan bagian dari sikap eksesif. Sebagaimana yang dikisahkan Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya dari Rabi’ binti Mu’awwidz bin Afra’, bahwa dia berkata, “Saat menikahiku, Nabi -sholallahu ‘alaihi wasalam- datang menemuiki. Kemudian beliau -sholallahu ‘alaihi wasalam- duduk di atas ranjangku sebagaimana engkau duduk. Lalu para budak perempuan kami yang masih kecil mulai menabuh gendang seraya menyebut-nyebut nama orang tuaku yang gugur di perang Badar. Salah seorang dari mereka berkata, “dan di antara kami ada seorang nabi yang mampu meramal masa depan”. Maka Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- bersabda, “Hentikan ucapan itu, ucapkanlah apa yang sebelumnya kau katakan.”

Beberapa konsekuensi tauhid uluhiyah

“Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu dan Dia (pula yang) memelihara-Nya.” (Az-Zumar: 62)
“Apakah kami punya (hak untuk campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.” (Ali-Imron: 154)
“Ketahuliah bahwa menciptakan dan memerintah adalah hak Allah semata. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-A’raf: 54)

“Mereka menjadikan para ulama dan rahib mereka sebagai sesembahan selain Allah dan (mereka juga mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka hanya diperintahkan untuk menyembah satu Ilah saja, tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 31)

“Bukankah mereka mereka (para ulama dan rahib) mengharamkan apa yang halal dan menghalalkan apa yang haram kemudian mereka menurutinya? Itulah bentuk ibadah mereka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya (dalam memuruskan sesuatu) dan bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat:1)

“kemudian, apabila terjadi silang pendapat diantara kalian dalam suatu masalah, kembalikanlah ia kepada (hukum) Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (An-Nisa’:59)

“dan tidak boleh bagi orang beriman baik laki-laki maupun perempuan, ketika Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara kemudian mereka memilih pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan siapapun yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah benar-benar tersesat.” (Al-Ahzab: 36)

“janganlah kalian jadikan panggilan kalian kepada Rasul ditengah-tengah kalian seperti panggilan kalian kepada (yang lain). Sungguh Allah telah mengetahui orang-orang yang pergi secara diam-diam tanpa izin. Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah rosul, takut akan ditimpa musibah atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur:63)

“Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan pasti (dari Allah) tentu mereka telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (Asy-Syura: 21)

“(menetapkan) hukum itu adalah hak Allah semata. Dia telah memerintahkan kalian agar tidak menyembah selain-Nya. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Yusuf: 40)

“dan dia (Muhammad) tidak mengucapkan sesuatu berdasarkan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)

“seandainya dia (Muhammad) berani berbohong atas (nama) Kami, tentu akan kami cengkram tangan kanannya, kemudian kami potong urat nadinya. Dan tidak ada seorang pun dari akan mampu menghalangi kami.” (Al-Haqah: 44-47)

“Katakanlah, “jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Ali-Imron: 31)

“siapapun yang tidak menyukai sunnahku, maka dia bukan termasuk pengikutku” (Muttafaq ‘alaihi)

“maka berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya serta cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui perbuatan kalian.” (At-Taghabun: 8)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berpaling dari-Nya sementara kalian mendengar (perintah-perintah-Nya). Dan jangan seperti orang-orang (munafik) yang berkata “Kami mendengarkan”, padahal sebenarnya mereka tidak mendengarkan.” (Al-Anfal: 20-21)

“Katakanlah, “taati Allah dan Rasul-Nya! jika kalian berpaling, maka sungguh Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali-Imran: 32)

“dan apapun yang Rasul perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah. Dan apapun yang dia larang, maka tinggalkanlah.” (Al-Hasyr: 7)

“ketahuilah bahwa aku telah diberi alquran dan yang semisalnya (as-sunnah) secara bersamaan. Dikhawatirkan, akan ada seseorang yang duduk kekenyangan di atas dipan seraya berkata, “kalian cukup berpatokan pada alquran ini. Apa dihalalkan oleh alquran, maka katakan kalau itu halal. Dan apa yang diharamkan oleh alquran, maka katakana kalau itu haram.” Padahal, apa yang diharamkan oleh Rosulullah (status hukumnya) sama  dengan apa yang diharamkan oleh Allah.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Hakim)

“siapapun yang mentaatiku, maka dia telah mentaati Allah, dan siapapun yang menentangku maka dia telah menentang Allah.” (muttafaq ‘alaihi)

“dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (Al-Baqoroh: 43)

“Sungguh pada (diri) Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah, (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21)

“Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”(Ali-Imron: 31)

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah rosul, takut akan ditimpa musibah atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur:63)

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang mengaku-ngaku beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan sebelummu? mereka hendak mengangkat thaghut sebagai hakim, padahal mereka diperintahkan untuk menentangnya. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka sejauh-jauhnya.” (An-Nisa:60)

“Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga menjadikanmu hakim bagi perkara yang mereka perselisihkan, lalu mereka tidak merasa keberatan dengan keputusanmu dan menerima sepenuhnya.” (An-Nisa: 65)

“dan jika mereka berdua memaksamu untuk menyekutukanku dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui, maka jangan kamu turuti. Perlakukanlah mereka berdua dengan baik dalam urusan dunia, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.” (Luqman: 15)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) serta pemimpin kalian. Kemudian jika terjadi silang pendapat diantara kalian dalam suatu masalah, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (An-Nisa:59)

“setiap muslim wajib mendengar dan mentaati (perintah) pemimpinnya selama dia tidak diperintahkan untuk berbuat maksiat. Apabila dia diperintahkan untuk bermaksiat, maka dia tidak boleh mendengar dan mentaatinya.” (muttafaq ‘alaihi)

“tidak ada ketaatan dalam rangka berbuat maksiat kepada Allah. Ketaatan hanya ada dalam rangka berbuat baik.” (muttafaq ‘alaihi)

“jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) maka ketahuilah bahwa sebenarnya mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk sedikitpun dari Allah?” (Al-Qashash: 50)

“lalu kami memberimu sebuah syariat (peraturan agama), maka ikutilah syariat itu dan jangan kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Al-Jatsiayah: 18)

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki? Memangnya (hukum) siapa yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (Al-Maidah: 50)

“maka bertanyalah kepada orang yang memahami keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab jika kalian tidak mengetahui.” (An-Nahl: 43-44)

“dan siapapun yang menentang Rasul setelah memahami kebenaran dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang beriman, Kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan yang telah dipilihnya dan Kami akan masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu adalah tempat kembali yang paling buruk.” (An-Nisa:115)

“berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah erat-erat dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

“Hai orang-orang yang beriman, jangan kalian jadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali-wali1 kalian. Sebagian mereka adalah wali bagi yang lain. Siapapun diantara kalian yang menjadikan mereka sebagai wali, maka sebenarnya orang itu termasuk golongan mereka. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah: 51)

“Sesungguhnya wali kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah). Dan siapapun yang menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai walinya, maka sebenarnya pengikut (agama) Allah-lah yang pasti menang.” (Al-Maidah:55-56)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian  sebagai wali yang kalian bocorkan kepada mereka (rahasia Muhammad) karena rasa kasih sayang, padahal mereka mengingkari kebenaran yang datang kepada kalian.” (Al-Mumtahanah: 1)

“janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang-orang kafir menjadi wali dan mencampakan orang-orang beriman. Siapapun yang berbuat demikian, niscaya ia terlepas dari pertolongan Allah.” (Ali-Imran: 28)

“Sungguh pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya terdapat suri tauladan yang baik, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sungguh kami berlepas diri daripada kalian dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran) kalian. Dan antara kami dan kamu telah nyata permusuhan dan kebencian selama-lamanya hingga kalian beriman kepada Allah semata.” (Al-Mumtahanah: 4)

“Hai orang-orang beriman, jangan jadikan ayah-ayah dan saudara-saudara kalian sebagai wali kalian jika mereka lebih mengutamakan kekafiran dibandingkan keimanan. Siapapun dari kalian yang menjadikan mereka wali, maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. Katakanlah, “Jika ayah-ayah, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, dan kaum kerabat kalian, serta harta kekayaan yang kalkian usahakan, perniagaan yang kalian mencemaskan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kalian cintai dibandingkan Allah, Rasul-Nya dan berjihad di jalan nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 23-24)

“kamu tak akan mendapati sebuah kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah Allah tanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. “ (Al-Mujadillah: 22)

“Aku mendengar Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- berkata dengan suara lantang, bukan lirih, “ketahuilah bahwa keluarga orang tuaku –maksudnya si fulan – bukallah waliku. Waliku yang sesungguhnya adalah Allah dan orang-orang  beriman yang salih” (HR.Muslim)

bersambung…

1. Rukun Iman (Bagian 1) : http://www.belajarislam.com/rukun-iman-bagian-1/
2. Rukun Iman (Bagian 2) : http://www.belajarislam.com/rukun-iman-bagian-2/
3. Rukun Iman (Bagian 3) : http://www.belajarislam.com/rukun-iman-bagian-3/