Istiqomah
May 15, 2011
Sejuta Kerancuan Dalam Ajaran Syi’ah (Bagian 2)
May 20, 2011

Sejuta Kerancuan Dalam Ajaran Syi’ah (Bagian 1)

Oleh : Ustadz Rizki Narendra

Kerancuan Pertama : Pernikahan Ummu Kultsum

Dalam ajaran sekte Syi’ah, sahabat Ali bin Abi Thalib -rodhiallahu’anhu-  merupakan sosok pemimpin tertinggi yang anti salah alias ma’sum, sama halnya dengan para nabi dan rasul. Dalam  ajaran sekte Syiah, dikenal pula dua orang setan yang merupakan musuh utama bagi mereka, yaitu Abu Bakar dan Umar -rodhiallahu’anhuma-.

Namun, kalau kita membuka kembali lembaran sejarah, kita akan menemukan sebuah peristiwa ganjil yang yang sangat kontradiktif  dan bertentangan dengan keyakinan mereka tadi. Peristiwa yang dimaksud adalah pernikahan Umar -rodhiallahu’anhu- dengan putri tercinta Ali -rodhiallahu’anhu- yang bernama Ummu Kultsum. Ummu Kultsum sendiri merupakan saudara kandung Hasan dan Husain -rodhiallahu’anhuma-

Peristiwa pernikahan ini sendiri merupakan fakta yang diakui secara resmi oleh para pemuka sekte syi’ah Al-Kailani dalam buku-buku mereka seperti; Al-Kafi fl Furu’, Al-Mazindrani dalam bukunya Manaqib ‘Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abil Hadid dalam bukunya Syarh Nahjul Balaghah dan masih banyak lagi. Nah, yah menjadi pertanyaan adalah; kalau memang Umar -rodhiallahu’anhu- kafir, mengapa Ali -rodhiallahu’anhu- rela menikahkan putri tercinta beliau dengan orang yang kafir? Apa beliau tidak tahu kalau Allah ta’ala berfirman,

Telegram Belajar Islam

وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ

Artinya, “Dan janganlah kalian menikahkan orang-orang musyrik sampai mereka beriman. Sungguh seorang budak yang beriman lebih baik dibandingkan orang musyrik, sekalipun dia membuat kalian kagum.” (Al-Baqarah: 221)

Mengapa seorang sosok pemimpin yang ma’sum tega mencampakan buah hatinya dalam cengkraman seorang yang kafir?
Tidakkah beliau ingat peristiwa beberapa tahun lalu saat Rasulullah -Sholallahu ‘alaihi wassalam- memisahkan putri tercinta beliau Zainab dari suaminya Abul ‘Ash karena dia enggan memeluk Islam dan tetap kukuh dalam kekafiran?

Ada dua hipotesa untuk teka-teki di atas:
Pertama, keyakinan bahwasanya Ali bin Abi Thalib -rodhiallahu’anhu- bebas dari kesalahan alias ma’sum tidaklah benar, karena menikahkan seorang putri tercinta dengan orang kafir merupakan kesalahan besar yang tidak dapat di tolerir. Konsekuensinya adalah; para imam yang menggantikan beliau juga tidak memiliki sifat ma’sum, karena beliau yang merupakan pemimpin tertinggi tidaklah ma’sum. Konsekuensi lainnya, syariat yang dirancang oleh para imam tersebut bukanlah syariat yang valid yang bersih dari kesalahan. Itu artinya, ajaran sekte Syiah tidak layak dijadikan landasan beragama, karena validitasnya diragukan. Dengan begitu, runtuhlah fundamental pertama mereka.

Kedua, kalau memang Ali -rodhiallahu’anhu- benar-benar ma’sum, berarti keyakinan bahwasanya Umar -rodhiallahu’anhu- adalah kafir tidaklah benar. Jangankan orang yang ma’sum, orang biasa yang tidak ma’sum saja tidak mungkin rela menikahkan putri kesayangannya dengan orang kafir.
Jadi, pernikahan Ummu Kultsum merupakan bukti nyata bahwa Umar -rodhiallahu’anhu- adalah seorang muslim. Bahkan bukan muslim biasa, melainkan seorang muslim pilihan nan sejati, karena seorang yang ma’sum tidak akan salah memilihkan jodoh untuk anaknya.
Dengan kata lain, para imam Syi’ah telah mengajarkan kesesatan kepada para pengikut mereka dengan mendoktrin mereka untuk mencela dan memusuhi menantu beliau.

Benar-benar kontradiktf bukan? Memilih salah satu dari kedua jawaban di atas berarti menghancurkan fundamental keimanan yang lain. Kalau memang ajaran mereka adalah sebuah kebenaran yang datang dari Allah ta’ala, tidak mungkin ada kontradiksi semacam ini. Ini membuktikan bahwa ajaran mereka merupakan produk manusia, bukan bersumber dari wahyu.

Sumber: penadakwah.com