Sejuta Kerancuan Dalam Ajaran Syi’ah (Bagian 1)
May 17, 2011
Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi
June 25, 2011

Sejuta Kerancuan Dalam Ajaran Syi’ah (Bagian 2)

Oleh : Ustadz Rizki Narendra

Kerancuan kedua : Kepemimpinan Abu Bakar dan Umar -rodhiallahu’anhuma-

Kerancuan kedua, masih seputar kema’suman Ali -rodhiallahu’anhu- serta vonis kafir terhadap kedua Khalifah Abu Bakar dan Umar -rodhiallahu’anhuma- yang menjadi fundamental keimanan para penganut sekte Syiah. Fakta sejarah mengatakan bahwa ketika kaum muslimin berkonsesnsus untuk menobatkan Abu Bakar -rodhiallahu’anhu- sebagai pemimpin kaum, Ali -rodhiallahu’anhu- termasuk salah orang yang membai’at dan berjanji setia kepada beliau. Dengan kata lain, Ali -rodhiallahu’anhu- merestui, meridhai dan mengakui secara de facto kepemimpinan beliau. Pun begitu setelah Abu Bakar -rodhiallahu’anhu- mangkat, Ali -rodhiallahu’anhu- ikut ambil bagian dalam bai’at Umar -rodhiallahu’anhu-.

Pertanyaannya adalah; bagaimana mungkin orang yang ma’sum, terbebas dari kesalahan, bisa merestui kepemimpinan seorang kafir? Sementara Allah ta’ala berfirman,

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

Artinya, “Dan Allah tidak akan membiarkan orang-orang kafir menjadi penguasa bagi kaum mu’min.” (An-Nisa’: 141)

Telegram Belajar Islam

Jika memang benar mereka berdua kafir, masuk akalkah seorang Ali -rodhiallahu’anhu- tetap setia kepada mereka berdua, padahal Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- melarang umatnya untuk mematuhi pemimpin yang jelas-jelas kafir? Sebagaimana penuturan Ubadah bin Shamit,

كَانَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِى مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَأَنْ لاَ

نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ قَالَ « إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ.

Artinya, “Kami membaiat Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- untuk senantiasa patuh dan taat –kepada pemimpin-, baik dikala senang maupun susah, suka maupun duka. Meskipun dia berbuat tidak adil, kami tetap dilarang untuk memberontak.” Beliaupun melanjutkan, “Kecuali jika kalian menyaksikan dengan jelas kekufuran dalam dirinya berdasarkan petunjuk yang datang dari Allah ta’ala.” (HR. Bukhari)

Ada dua hipotesa untuk teka-teki di atas:
Pertama, klaim bahwa Ali -rodhiallahu’anhu- ma’sum hanyalah omong kosong belaka, karena merestui kepemimpinan orang kafir merupakan kesalahan besar.
Kedua, kalau benar Ali -rodhiallahu’anhu- ma’sum, maka baiat yang beliau lakukan kepada mereka berdua merupakan bukti nyata bahwa tuduhan yang mereka lontarkan terhadap kedua Khalifah tidaklah terbukt, hanya omong kosong.

Konsekuensi dari kedua statmen ini sama dengan konsekuensi pada bab kerancuan pertama.

Sejuta Kerancuan Dalam Ajaran Syi’ah (Bagian 1)