Sejarah Penyusunan Hadits
January 16, 2011
The Battle Of Khandaq (Bagian 1 Dari 4)
January 16, 2011

Bentrokan Berdarah di Padang Mu’tah

Oleh Ustadz Rizki Narendra

“Sebuah kisah pertempuran yang paling mematikan di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam”

Muqoddimah
“Oh… Tidak! Mereka mendapatkan bala bantuan!”  Teriak salah seorang pasukan infanteri Romawi dengan penuh rasa takut dan panik tatkala berhadapan dengan pasukan militer kaum muslimin di suatu tempat yang bernama Mu’tah. Ketakutan pasukan romawi cukup beralasan. Sudah beberapa hari ini mereka terlibat bentrok melawan kaum muslimin dengan mengerahkan kekuatan infanteri yang tidak tanggung-tanggungbesarnya; sebanyak seratus ribu prajurit ditambah pasukan gabungan dari beberapa kabilah arab yang jumlahnya mencapai seratus ribu orang pula. Itu berarti jumlah mereka mencapai dua ratus ribu orang! Harapannya, pasukan kaum muslimin dapat ditundukkan dengan mudah. Namun nyatanya, sudah beberapa hari ini pertempuran berlangsung sengit dan berdarah-darah tanpa kelihatan hasilnya. Padahal pasukan Islam yang dipimpin ksatria-ksatria muslim pilihan itu, berjumlah jauh lebih sedikit dari kekuatan militer pasukan romawi, yaitu sekitar tiga ribu orang. Namun kekuatan iman yang kokoh dalam hati mereka, membuat jumlah yang sedikit tadi berubah laksana batu karang. Meski ombak besar berkali-kali menerjangnya, tetapi ia tetap kokoh tak bergeming dari tempatnya. Sepenggal kisah diatas, adalah cuplikan dari peristiwa perang Mu’tah. Peristiwa yang disebut-sebut sebagai pertempuran terdahsyat dan peperangan berdarah terbesar yang pernah dialami kaum muslimin semasa hidup Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sebelumnya pada peristiwa perang Khandaq, pasukan Islam memang pernah berhadapan dengan musuh yang jauh lebih besar jumlahnya, yakni sepuluh ribu pasukan orang-orang kafir dan Yahudi. Kaum muslimin ketika itu hanya berjumlah tiga ribu orang. Tetapi pada pertempuran Khandaq, tidak sampai terjadi gesekan langsung antara kedua belah pihak yang berseteru. Mengingat pada waktu itu orang-orang kafir yang hendak menyerbu masuk Madinah, terhalang oleh parit yang membentang panjang. Dan pada akhirnya, setelah berminggu-minggu lamanya berdiam mengitari parit penghalang, pasukan musuh pulang dengan sendirinya setelah melihat tidak ada gunanya lagi melanjutkan pengepungan.

Berbeda dengan perang Khandaq, pada perang Mu’tah kali ini pasukan muslim terlibat bentrok langsung dengan pasukan Romawi dan sekutunya yang memiliki jumlah pasukan yang jauh lebih besar dari jumlah pasukan orang-orang muslim. Namun berkat pertolongan dari Allah dan kepiawaan Khalid bin Walid dalam mengatur strategi perang -salah satu komandan perang andalan umat muslim saat itu-, pertempuran yang oleh banyak orang Arab saat itu diprediksi bakal membawa kekalahan cepat bagi kaum muslimin, justru malah berakhir seri! Dengan meninggalkan korban nyawa yang tidak sedikit di pihak romawi.

Pertempuran berdarah ini terjadi pada bulan Jumadil Ula tahun 8 H, bertepatan dengan tahun 629 M. Tulisan ringkas berikut mencoba mengisahkan kembali salah satu peristiwa bersejarah dalam sejarah Islam tersebut, yakni perang Mu’tah. Mu’tah sendiri adalah nama sebuah perkampungan yang berada di wilayah Balqo’, Syam.

Peristiwa Pemicu Perang
Syahdan, saat itu Haris bin Umair al Azdi sedang berpergian menuju Syam. Ia mendapat tugas khusus dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai seorang delegasi untuk menyampaikan sebuah surat penting kepada Raja Busra. Di tengah perjalanan yang panjang dan melelahkan ini, tanpa diduga ia bertemu dengan Syurahbil al Ghossani -seorang yang menjabat sebagai penguasa setempat dibawah Kekaisaran Romawi- ketika sedang melewati sebuah kawasan yang bernama Mu’tah.

“Hendak pergi kemana kau..?” Tanya orang Syurahbil al Ghossani kepada delegasi Rasulullah itu.

“Menuju Syam!” jawab Haris.

“Jangan-jangan kau ini adalah orangnya Muhammad..??” Tanya Syurahbil dengan nada curiga kepada Haris.

“Ya..!” jawab Haris spontan.

Begitu mengetahui bahwa Haris bin Umair al Azdi salah satu delegasi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tanpa membuang-buang waktu lagi ia segera menangkap dan mengikatnya kemudian menghadapkannya kepada Kaisar. Tidak lama setelah itu, nyawa sahabat ini pun berakhir dibawah tebasan pedang sang musuh.

Pengaktifan Kekuatan Militer Kaum Muslimin
Kabar kematian Haris bin Umair yang bertugas sebagai delegasi itu langsung menyulut kemarahan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sebelumnya, tidak pernah ada delegasi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang dibunuh ketika menjalankan tugasnya sebagai duta penghubung. Pembunuhan kepada delegasi –yang seharusnya dijamin keamanannya sekalipun dalam kondisi perang- merupakan bentuk kriminal yang paling keji dan secara langsung merupakan bentuk penghinaan kepada pihak yang mengutusnya.

Untuk memberi mereka pelajaran atas perbuatan keji mereka, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam segera menyiapkan bala tentara berjumlah tiga ribu orang. Pasukan ini membawa tugas khusus dari beliau untuk mendatangi daerah terbunuhnya Haris bin Umair dan menyeru terlebih dahulu penduduknya untuk menerima ajaran Islam. Jika mereka menolak, maka mereka wajib diperangi.

Tidak seperti biasanya, Rasulullah mengangkat tiga komandan pasukan sekaligus dalam satu pasukan sebelum diberangkatkan,

“Zaid bin Haritsah lah pemimpin kalian. Apabila Zaid bin Haritsah terbunuh, maka yang memegang kepemimpinan pasukan adalah Ja’far bin Abi Thalib. Dan bila Ja’far terbunuh, maka kepemimpinan beralih ke Abdullah bin Rowahah. Dan bila Abdullah bin Rowahah terbunuh, maka hendaklah kaum muslimin memilih sendiri salah seorang di antara mereka untuk dijadikan pemimpin pasukan…”, demikian intruksi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam kepada para sahabatnya pada saat pembekalan pasukan. Beliau kemudian menyerahkan panji perang kaum muslimin yang berwarna putih kepada Zaid bin Haritsah.

Baca Juga  Kisah Inspiratif: Kegigihan dan Keteguhan Pahlawan Dalam Perjuangan

Tatkala pasukan Islam yang dipimpin Zaid bin Haritsah telah siap untuk berangkat, masyarakat Madinah turut hadir melepaskan kepergian para panglima Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan memberi salam kepada mereka.

Beliau turut mengantar keberangkatan pasukan ini keluar Madinah hingga sampai ke daerah yang bernama Tsaniyyah al-Wada’, disitu beliau berhenti dan mengucapkan selamat jalan kepada para pasukan.

Pergerakan Militer Islam Dan Persiapan Pihak Musuh
Para mujahidin akhirnya bergerak menuju arah utara dengan bertawakal kepada Allah. Misi yang amat berat ini mereka tempuh demi meraih keridhaan Allah dan rasul-Nya. Mereka terus berjalan dengan matahari terik di siang hari dan bintang-bintang pada malam hari. Hingga akhirnya, pasukan yang dikomandoi Zaid bin Haritsah ini singgah di Ma’an, sebuah kawasan di negeri Syam.

Di Ma’an ini lah pasukan Islam mendapat informasi yang membuat bulu kuduk berdiri. Para mata-mata mengabarkan mereka bahwa Kekaisaran Romawi ternyata sudah mengendus pergerakan militer kaum muslimin dan telah menyiapkan bala tentara untuk menyambut kedatangan mereka. Yang membuat suasana menjadi mencekam adalah jumlah pasukan yang telah disiapkan Romawi untuk menghadapi kaum muslimin, tidak tanggung-tanggung sebanyak seratus ribu prajurit lengkap dengan persenjataannya. Ditambah lagi adanya dukungan personil dari beberapa kabilah yang ingin memerangi Islam sebanyak seratus ribu prajurit. Itu berarti total keseluruhan dari lawan yang harus dihadapi umat Islam saat itu berjumlah 200.000 orang.

Dua Hari Yang Menegangkan
Kebimbangan lalu melanda pasukan Islam dengan segera setelah mereka mendengar informasi yang mengejutkan itu. Tidak pernah terlintas di benak mereka sebelumnya akan menghadapi pasukan musuh dengan jumlah yang amat besar. Mungkinkah pasukan yang hanya berjumlah 3000 orang ini mampu menghadapi pasukan lawan yang berjumlah hingga 200.000 prajurit bersenjata lengkap? Itulah yang menjadi pikiran kaum muslimin saat itu. Mereka bimbang harus berbuat apa, akhirnya pasukan ini tertahan tidak bergerak di Ma’an sambil terus berpikir, langkah apakah yang harus dijalankan.

Selama tinggal di Ma’an, musyawarah dan tukar pikiran terus terjadi di antara para sahabat dalam mencari solusi permasalan ini. Apakah tetap nekat maju berperang ataukah mundur saja?

“Bagaimana kalau kita mengirim pesan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menginformasikan kepada beliau jumlah lawan kita. Entah setelah itu beliau mengirimkan bala bantuan tambahan atau memerintahkan kita dengan suatu perintah yang akan kita kerjakan…” usul salah seorang Shahabat kepada yang lainnya.

Namun usulan ini ditolak oleh Abdullah bin Rowahah, ia malah balik berkata dengan penuh semangat,

“Wahai Kaum! Demi Allah! Sungguh apa yang kalian benci itulah justru tujuan kalian berperang yaitu mencari mati syahid. Kita tidak memerangi lawan karena jumlah, kekuatan dan banyaknya jumlah mereka! Tidaklah kita memerangi mereka kecuali karena agama ini (Islam) yang dengannya Allah telah memuliakan kita. Maka marilah kita berangkat. Kemenangan atas musuh atau mati syahid lah salah satu dari dua kebaikan yang pasti akan kita dapatkan…!”

Mendengar ucapan itu, para sahabat lainnya yang sebelumnya ragu-ragu, kembali membara semangat jihadnya. Akhirnya, usulan inilah yang diamini oleh seluruh pasukan Islam.

Para Mujahidin Akhirnya Bergerak Menuju Arah Musuh
Setelah dua hari berdiam diri di Ma’an, pasukan kemudian bergerak menuju arah musuh yang sebelumnya telah lama menunggu kedatangan mereka. Hingga di suatu tempat yang bernama Masyarif, pasukan musuh melihat keberadaan mereka dan mulai bergerak mendekat ke arah pasukan Islam. Kaum muslimin kemudian menarik diri ke arah Mu’tah lalu membuat kamp di sana sambil menyiapkan diri untuk menghadapi lawan. Quthbah bin Qatadah al Adzri dipercaya memimpin pasukan di sayap kanan sedangkan untuk pasukan sayap kiri kepemimpinannya diserahkan kepada Ubadah bin Malik al Anshori.

Sebelum pertempuran pecah, Abu Hurairah yang saat itu turut serta dalam pasukan ini sempat ‘tidak pede’ ketika melihat kelengkapan persenjataan dan fasilitas yang dimiliki oleh musuh. Mengetahui hal itu, Tsabit bin Arqom lalu menegurnya,

“Abu Hurairah, ada apa denganmu? Sepertinya engkau sedang memperhatikan jumlah musuh yang banyak ya…” kata Tsabit bin Arqom.

“Betul sekali…” jawab Abu Hurairah

“Ingatkah engkau pada saat perang Badar? Kita meraih kemenangan saat itu bukan karena disebabkan jumlah pasukan!” ujar Tsabit memberi motivasi kepada sahabatnya sebelum pecahnya pertempuran.

Baca Juga  Sang Pengembara Dunia

Jalannya Pertempuran
Di kawasan bernama Mu’tah inilah, terjadi pertempuran sengit antara pasukan Islam yang berjumlah tiga ribu orang melawan dua ratus ribu pasukan musuh yang disokong oleh kekaisaran Romawi untuk mengenyahkan kaum Muslimin. Dunia saat itu menjadi saksi bisu atas salah satu pertempuran terdahsyat dan paling berdarah yang terjadi di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Meskipun jumlah umat Islam saat itu jauh lebih sedikit dari jumlah lawan, namun apabila iman tertancap kokoh di dalam setiap sanubari prajurit, maka hal-hal yang diluar dugaan bisa saja terjadi.

Para ksatria Islam maju dengan gagah berani sambil mengarahkan senjatanya kearah musuh. Generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat berperang tanpa takut mati. Hidup atau mati, sama-sama akan menghasilkan kebaikan. Jika gugur di medan perang maka surga Allah lah yang akan diraih, dan apabila hidup, maka kemuliaan lah yang akan diraih.

Semangat yang membara ini tidak menyala sia-sia. Pasukan Romawi beserta para sekutu yang sebelumnya menganggap sebelah mata kekuatan kaum muslimin karena jumlahnya yang tidak seberapa dibandingkan dengan jumlah yang mereka miliki, kini harus dibuat terperangah menyaksikan kehebatan tempur yang dimiliki tiga ribu pasukan muslim ini.

Zaid bin Haritsah yang menjadi komandan pasukan sekaligus pembawa panji perang umat Islam, maju ke arah musuh dengan gagah berani sambil mengayun-ayunkan pedangnya. Ia bertempur dengan penuh semangat meski luka mulai memenuhi tubuhnya. Akhirnya, setelah berjuang beberapa lamanya, ia roboh dan gugur di medan tempur setelah pasukan musuh berulangkali melancarkan serangan ke arah tubuhnya.

Gugurnya sang komandan bukan berarti menjadikan pertempuran selesai saat itu juga. Ja’far bin Abi Thalib langsung mengambil alih panji perang dan memimpin pasukan memerangi musuh. Beliau sendiri bertempur dengan hebat hingga membuat lawan yang dihadapinya tercengang melihat kehebatannya. Bahkan ketika beliau merasa kelelahan ditengah mencamuknya pertempuran di antara kedua belah pihak, beliau turun dari kuda yang dikendarainya lalu membunuhnya agar tidak dapat dimanfaatkan oleh musuh apabila tertangkap. Ja’far bin Abi Thalib terus bertempur dengan heroik di barisan terdepan musuh sambil membawa panji perang. Hingga akhirnya, “Whuusss…” senjata lawan berhasil mengenai lengan kanannya hingga terputus dari tubuhnya. Namun hal itu tidak membuat beliau menyerah atau berhenti bertempur seketika itu juga. Dengan tangan kirinya, beliau lalu membawa panji perang dan terus bertempur. Tetapi ditengah pertempuran, beliau kembali terkena tebasan senjata musuh dan membuat tangan kirinya terputus hingga akhirnya beliau tidak memiliki tangan lagi untuk membawa senjata ataupun panji perang. Namun apakah beliau menyerah sampai disitu? Jawabannya tentu saja tidak! Beliau lalu mendekap panji tersebut dengan dada dan lengan atasnya lalu bangkit kembali terjun ke medan pertempuran. Hingga akhirnya, seorang tentara Romawi berhasil menebas tubuhnya menjadi dua. Saat itu juga lah beliau akhirnya gugur di medan jihad setelah bertahan cukup lama menahan rasa sakit.

Pasca gugurnya Ja’far bin Abi Thalib, panji perang segera diambil alih oleh Abdullah bin Rowahah. Beliau kemudian menjabat sebagai komandan pasukan Islam yang berikutnya sesuai dengan wasiat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau lalu melanjutkan pertempuran hingga akhirnya ikut menyusul kedua orang temannya yang terlebih dahulu gugur di medan jihad.

Otomatis dengan gugurnya Zaid, Ja’far dan Abdullah, terjadi kekosongan jabatan komandan pasukan Islam. Hal ini tidak boleh didiamkan lama-lama begitu saja, harus segera ada yang mengisi posisi ini. Jika tidak segera diangkat pemimpin yang baru, keadaan akan semakin memburuk.

Panji perang kaum muslimin yang lepas dari tangan Abdullah bin Rowahah segera dibawa oleh Tsabit bin Aqrom. Mengetahui pemegang panji sebelumnya –yang tidak lain adalah pemimpin pasukan- telah gugur, ia segera berkata kepada teman-temannya,

“Wahai kaum muslimin sekalian! Tentukan salah seorang dari kalian untuk menjadi pemimpin pasukan..!!”  kata Tsabit.

“Engkau saja!” jawab orang-orang di sekitarnya.

“Tidak, aku tidak pantas untuk memegangnya..” balas Arqom.

Para sahabat kemudian merekomendasi agar komandan pasukan dipegang oleh Khalid bin Walid -yang saat itu turut serta dalam pasukan Islam- dan akhirnya beliau menerima mandat dari kaum muslimin sebagai pemimpin pasukan lalu memimpin kembali pertempuran.

Tatkala panji perang dipegang oleh beliau, ia kembali berperang dengan dahsyatnya. Dalam suatu riwayat beliau mengisahkan, “Pada saat pertempuran Mu’tah, ada Sembilan buah pedang yang patah di tanganku kecuali lempengan (pedang) buatan Yaman”. Hal ini mengisyaratkan betapa hebatnya pertempuran saat itu.

Rasulullah Mengetahui Hasil Pertempuran
Pada saat terjadinya bentrok antara Pasukan Islam dengan Romawi, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengetahui terlebih dahulu hasil pertempuran sebelum ada orang yang mengabarkannya kepada beliau. Sambil berlinang air mata, beliau menceritakannya kepada para sahabat yang berada di sekitarnya,

Baca Juga  DR. NAZAR RAYYAN; PENUNTUT ILMU DAN MUJAHID YANG SAYA KENAL

“Zaid memegang panji lalu terbunuh. Kemudian Jafar mengambilnya dan ia pun terbunuh. Lalu Ibnu Rowahah mengambil panji dan ia pun terbunuh juga. Hingga tampil lah salah satu pedang Allah (Khalid bin Walid) mengambil panji, hingga Allah menganugerahkan kemenangan atas mereka”.

Strategi jitu Khalid Bin Walid
Sekalipun telah mengerahkan keberanian yang tinggi, ketangguhan dan kegagahan yang tiada bandingannya, adalah sangat aneh apabila pasukan kecil ini mampu bertahan terus-menerus apalagi sampai memenangkan pertempuran menghadapi pasukan Romawi. Menyadari  fakta ini, Khalid bin Walid merasa perlu mengubah strategi perang untuk melepaskan kaum muslimin dari situasi sulit yang mereka hadapi.

Awalnya Khalid bin Walid berhasil memimpin pasukannya bertahan di hadapan pasukan Romawi sepanjang siang hari. Pada hari pertama pertempuran, ia merasakan perlunya melakukan siasat perang yang mampu menyusupkan rasa takut di hati pasukan musuh sehingga mampu menarik mundur pasukan Islam dari medan tempur tanpa diikuti aksi pengejaran dari pasukan lawan. Beliau sadar betul bahwa melepaskan diri dari cengkeraman mereka sangat sulit bila kondisi kaum muslimin berada di medan terbuka dan musuh melakukan pengejaran jika mereka mundur.

Karena itu pada hari kedua pertempuran beliau mengubah formasi pasukannya dan mengatur strategi baru. Front pasukan terdepan beliau pindah ke belakang, dan yang belakang beliau tarik ke depan. Pasukan sayap kanan dipindah ke sayap kiri dan pasukan sayap kiri menempati posisi baru yaitu di sayap kanan. Sehingga nampak seolah-olah ada pasukan baru yang terlihat di mata lawan.

Ketika kedua belah pasukan berhadapan kembali di medan pertempuran, bala tentara Romawi kaget bukan kepalang melihat perubahan yang ada di pasukan Islam. Seolah-olah mereka telah mendapat pasukan tambahan dari Madinah. Rasa takut segera memasuki hati prajurit Romawi yang berhadapan dengan kaum muslimin.

“Mereka mendapatkan bala bantuan..!!” ujar salah seorang dari mereka kepada temannya.

Kedua belah pihak ini kembali terlibat bentrok lagi. Tetapi pada momen kali ini, pasukan Romawi berperang dengan rasa gentar menghadapi kaum muslimin. Setelah beberapa saat terjadi gesekan-gesekan, Khalid bin Walid sang komandan pasukan Islam mulai memainkan strategi keduanya. Secara bertahap sedikit demi sedikit beliau mulai menarik mundur pasukannya dari arena pertempuran sambil terus menjaga formasi tempur anak buahnya. Sesuai perkiraan, pasukan Romawi tidak melakukan aksi pengejaran karena beranggapan bahwa kaum muslimin ingin melakukan siasat tipu daya terhadap bala tentara Romawi dengan berusaha menjalankan siasat tertentu untuk menggiring mereka masuk lebih dalam lagi ke padang pasir.

Demikianlah, akhirnya pasukan musuh kembali ke negerinya tanpa berpikir akan melakukan pengejaran terhadap kaum muslimin. Sementara Khalid bin Walid beserta para sahabat berhasil mundur dengan selamat hingga kembali ke Madinah.

Dampak Pertempuran Mu’tah
Pertempuran Mu’tah memang berakhir seri. Namun dampak yang ditimbulkannya sungguh luar biasa bagi perkembangan dakwah Islam dan reputasi kaum muslimin di mata dunia. Berikut adalah kutipan pernyataan Syeikh Shafiyurrahman al Mubarakfuri di bukunya yang berjudul ar rachiqul al makhtum:

“Walaupun dalam pertempuran ini kaum muslimin belum mampu melakukan pembalasan, namun pertempuran ini memiliki dampak yang besar bagi reputasi kaum muslimin, di mana seluruh bangsa Arab tercengang dan heran karenanya. Pasukan Romawi merupakan negara “super power” di muka bumi pada saat itu. Bangsa Arab mengira bahwa pertempuran yang dilakukan kaum muslimin itu sama saja dengan aksi bunuh diri dan mencari mati. Pertemuan pasukan kecil yang berkekuatan 3000 personil melawan pasukan besar yang berkekuatan 200.000 personil, lalu kepulangan mereka dari pertempuran tersebut tanpa mendapat kerugian yang berarti merupakan keajaiban. Ini menegaskan betapa kaum muslimin adalah manusia yang memiliki tipikal sendiri, tidak seperti yang sudah biasa dan diketahui bangsa Arab saat ini. Yaitu bahwa mereka dibantu dan ditolong oleh Allah dan bahwa pemimpin mereka (Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam) adalah benar-benar utusan Allah. Karena itu setelah peperangan ini, kita melihat kabilah-kabilah Arab yang selama ini menjadi musuh bebuyutan dan selalu mengadakan pemberontakan terhadap kaum muslimin menjadi bersimpati terhadap Islam. Sehingga kabilah-kabilah; Bani Sulaim, Asyja’, Ghathafan, Dzubyan, Fuzarah dan lainnya menyatakan masuk Islam.

Perang Mu’tah ini merupakan permulaan pertemuan berdarah dengan bangsa Romawi dan mukaddimah serta persiapan bagi ekspansi penaklukan terhadap negeri-negeri Romawi dan pembebasan oleh kaum muslimin terhadap bumi yang amat jauh tersebut. . .”

Daftar Pustaka
1. Syeikh Shafiyurrahman al Mubarakfuri, Ar Rochiq al Makhtum
2. Muhammad bin Umar al Waqidi, Kitab al Maghozy
3. Dr. Mahdi Rizqullah, As Siroh an Nabawiyyah fi Dhoil Mashodir al Ashliyyah
4. Fairuz Abadi, Al Qomus al Muhith