Sejarah Munculnya Ilmu Mustholah Hadits Dan Perkembangannya
January 16, 2011
Sejarah Penyusunan Hadits
January 16, 2011

Perkataan Imam Untuk mengikuti Sunnah

Perkataan Para Imam Untuk Mengikuti Sunnah dan Meninggalkan Perkataan Mereka Jika Menyelisihi Sunnah
Perkataan para Imam ini merupakan peringatan dan nasehat bagi orang-orang yang taqlid buta kepada mereka dan berpegang teguh dengan pendapat mereka seolah-olah perkataan mereka itu turun langsung dari langit, sedangkan Allah Ta’ala berfirman, “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (QS. Al-Araaf: 3).

a. Imam Abu Hanifah
Imam madzhab yang pertama adalah Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit rahimahullah. Telah diriwayatkan dari beliau oleh para sahabat beliau perkataan-perkataan yang mengarah pada satu hal, yaitu wajibnya berpegang teguh dengan hadits dan meninggalkan taqlid kepada pendapat-pendapat para imam yang menyelisihi hadits.

  1. “Apabila suatu hadits itu shahih, maka itulah madzhabku.”
  2. “Tidaklah halal bagi seorang pun mengambil pendapat kami, selama ia tidak mengetahui dari mana (dengan dasar apa) kami mengambil pendapat tersebut.” Dalam riwayat lain, “Haram bagi seseorang yang tidak mengetahui dalilku, untuk berfatwa dengan pendapatku.” Pada riwayat yang lain ditambahkan, “Kami hanya manusia belaka, kami mengemukakan satu pendapat pada hari ini, dan kami rujuk (tinjau) kembali esok hari.” Dalam riwayat yang lain, beliau berkata, “Celakalah wahai Ya’qub (Abu Yusuf)! Jangan engkau tulis setiap apa yang engkau dengar dariku. Sungguh saya berpendapat dengan suatu pendapat pada hari ini, dan saya tinggalkan esoknya, dan terkadang esok saya berpendapat dengan suatu pendapat dan saya tinggalkan esok lusa.”
  3. “Apabila saya mengucapkan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits Rasulullah, maka tinggalkanlah perkataanku.”

b. Imam Malik bin Anas
Imam Malik berkata,

  1. “Saya ini hanya seorang manusia, bisa salah dan bisa benar, maka telitilah pendapatku. Setiap pendapatku yang sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah, maka ambillah pendapat tersebut, dan setiap pendapatku yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunnah, maka tinggalkanlah pendapat tersebut.”
  2. “Tidak ada seorang pun sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali pendapatnya bisa diambil atau juga bisa ditolak.”
Baca Juga  Kami Dengar dan Kami Taat

c. Imam Syafi’i
Adapun nukilan dari Imam Syafi’I lebih banyak dan lebih baik, dan pengikut beliau lebih banyak yang mengamalkan pesan beliau tersebut dan tentunya lebih beruntung. Diantara perkataan beliau, yaitu:

  1. “Tidak ada seorang pun, kecuali ia memiliki kemungkinan untuk lupa terhadap sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tersembunyi darinya. Setiap perkataanku atau setiap ushul (asas) yang aku letakkan, kemudian ada riwayat dari Rasulullah menyelisihi perkataanku, maka pendapat yang harus diikuti itu adalah apa yang disabdakan oleh Rasulullah, dan aku pun berpendapat dengannya.”
  2. “Kaum muslimin telah ijma’ bahwasanya barangsiapa yang mengetahui dengan jelas suatu sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tidak halal baginya meninggalkan sunnah tersebut kerena perkataan (pendapat) seseorang.”
  3. “Apabila kalian menjumpai dalam kitabku hal yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah, maka berpendapatlah kalian sesuai dengan sunnah Rasulullah, dan tinggalkan apa yang aku katakana.” (Dalam riwayat yang lain, “Maka ikutilah sunnah tersebut, dan janganlah kalian hiraukan pendapat seorang pun.”).
  4. “Apabila suatu hadits telah jelas shahih, maka itulah madzhabku.”
  5. “Apabila kalian melihat aku mengatakan suatu pendapat, sedangkan telah shahih dari Rasulullah hadits yang menyelisihi pendapatku, maka ketahuilah bahwasanya akalku telah hilang.”
  6. “Setiap apa yang aku katakan, sedangkan riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyelisihi pendapatku, maka hadits nabi adalah lebih utama, janganlah kalian bertaqlid kepadaku.”
  7. “Setiap hadits dari Rasulullah, maka itu adalah pendapatku juga, walaupun kalian tidak pernah mendengarnya dariku.”

d. Imam Ahmad bin Hambal
Adapun Imam Ahmad, beliau adalah imam yang paling banyak mengumpulkan hadits dan paling berpegang teguh pada hadits. Oleh karena itu, beliau berkata,

  1. “Janganlah kalian bertaqlid kepadaku, dan jangan pula kalian bertaqlid kepada Malik, Syafi’I, Al-Auza’I, dan Ats-Tsauri.”
  2. “Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah, maka ia berada pada jurang kehancuran.”
Baca Juga  Sejarah Penyusunan Hadits

Demikianlah perkataan mereka rahimahumullah dalam masalah berpegang teguh kepada hadits, dan larangan bertaqlid kepada mereka tanpa ilmu. Oleh karena itu, barangsiapa yang berpegang teguh pada setiap pada setiap keterangan yang shahih dari Rasulullah, walaupun menyelisihi sebagian dari pendapat para imam, maka ia tidaklah dikatakan meninggalkan madzhabnya, dan tidak dianggap keluar dari jalan mereka bahkan ia telah mengikuti mereka semua.

Sumber:
Sifat Shalat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani: Pustaka Ibnu Katsir