Agar Do’a Kita Tidak Hanya Sekedar Kata-Kata
February 16, 2012
Halal fix
Sudah Halalkah Makanan dan Minuman Kita?
February 18, 2012

Menanam Generasi

Menanam Generasi

Oleh Ust. Abu Sufyan, Lc.

Ada sebuah kerinduan yang sangat dalam, suatu saat nanti akan tumbuh generasi yang di dambakan, generasi yang memiliki sifat sifat terpuji, generasi yang memiliki ke islaman yang kuat, generasi yang senang membaca Al-qur’an dan Hadits, generasi yang siap tampil untuk menggiring umat,  untuk berjuang dan membela Al-islam. Tidak cengeng dengan segala ujian dan rintanganya..

Pertanyaannya, kapan generasi itu akan tumbuh dan hidup berdampingan dengan kita,  generasi yang hatinya bersih, ucapannya bijak dan amalannya sama dengan keyakinan dan ucapannya.

Mari kita cari bibitnya …

Mencari bibit unggul  tidak mudah, kita harus mengerti dan memahami bibit yang kita cari, dari sekian banyak jiwa manusia pasti di situ ada bibit unggul untuk di semai dan di rawat, agar kelak mereka inilah para pemimpin muda yang berfikir melebihi generasi tua. Bibit bibit  itu sudah berserakan di mana mana, kita tinggal memilih dan memeliharanya. Jangan biarkan dia tumbuh dengan sendirinya, rawatlah dan siramlah dengan senyum, pengorbanan, contoh dan pemberian. Satu saja kita memberi jalan hidayah  terhadap seorang maka itu lebih baik dan mulia.  sebagimana di sebutkan dalam Hadits “  engkau bisa memberi petunjuk terhadap satu orang, itu lebih baik dari unta merah “ . maksudnya unta merah adalah barang yang sangat berharga saat itu di kalangan bangsa arab.

Rawatlah sampai jadi…

Merawat itu hal yang paling berat apalagi dengan target sampai jadi, kita melihat para pembaharu tidaklah mereka datang dengan semangat keislaman dan perjuangan yang hebat untuk membela islam.  Datang begitu saja, tanpa ada sentuhan halus dari para pendidik dan Pembina, itu suatu yang mustahil terjadi.

Ibnu Taimiyyah salah satu orang yang terdzolimi oleh hasutan para penjilat kekuasaan, terkadang beliau di jebloskan kepenjara tanpa ada alasan yang jelas, terkadang beliau di siksa, sungguhpun demikian tidak melunturkan semangat beliau untuk menebarkan akidah yang Soheh, berapa juta orang tersadarkan untuk kembali ke pangkuan ajaran Nabi sallallah alaihi wa sallam setelah membaca dan menelaah karya beliau. Terkadang ujian yang begitu berat bisa membuat hati orang ciut, teror yang terus bisa  menggadaikan prinsip prinsipnya, sungguh berbeda apa yang di ucapkan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Baca Juga  Ramadhan di Andalus 1.300 Tahun Lalu: Ramadhan Perjuangan dan Dakwah Islam

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam ungkapannya yang terkenal  beliau pernah bertanya ke salah seorang muridnya  :  apa yang di lakukan oleh lawan lawanku itu ? Lalu beliau bertutur dengan lisannya yang bersih “  bawhasannya surga dan kebun kebun berada didalam dadaku, dimanpun aku pergi ia selalu menyertaiku dan tidak pernah  meninggalkan diriku, sesungguhnya penjara itu adalah kholwah bagiku, kematian adalah bentuk kesyahidanku, terusir dari negri  adalah wisata bagiku “. Terkadang zaman itu memberi pelajaran berharga, kisah itu sarat dengan makna, Syaikhul islam dikenal orang yang berakhlak mulia, tegas dalam menentang kelompok kelompok yang menyimpang dari ajaran Nabi sallallah alaihi wa sallam, terbukti dengan karya karyanya yang monumental  sulit untuk menandinginya, baik ulama sebelum atau sesudah beliau. Beliaupun meninggal dalam penjara, begitulah bentuk cinta kepada keluarga Nabi terbukti dari sosok ikon dan contoh yang di tuliskan oleh Ibnu taimiyyah dalam mengisi lembaran kehidupan dunia. Bukan para pengaku cinta Ahli bait, tapi tulisan dan perbuatannya menyimpang dari ajaran keluarga Nabi itu sendiri, memang ironis.

Kehadiran beliau di dunia ini adalah suatu anugrah bagi umat ini,  Itu tidak datang begitu saja, di situ ada peran yang kuat, ada orang yang mempengaruhi ada lingkungan yang membentuk, ada tangan tangan lembut nan halus memolesnya, tangan seorang ibu yang tulus dan ridlo untuk mendidik dengan kasih dan sayang hannya mengharap ridlo ilahi. Peran guru guru yang tulus dan ikhlas, bahwa mereka inilah generasi yang harus lebih baik dari para morobbi yang mendidiknya. Semoga bisa mengambil ibroh dan pelajaran.

Tidak lelah …

Semua proses itu adalah pahala, semua keringat dan tenaga yang di kerahkan adalah penghapus dosa, yang penting jangan pernah lelah dan bosan untuk terus membina. Suatu saat kita akan menuai dan memetik hasilnya, bukan untuk kita saja, tapi untuk anak dan keturunan kita yang akan datang. Semoga. …

Baca Juga  Mari Kita Shalat!!