Allah Ta’ala Mengharamkan Zina dan Sebab-Sebab yang Mengarah Kepadanya
February 26, 2011
Life is Choice
February 26, 2011

Khabar gembira bagi para ibu dan bapak

Oleh: M.A. Bramantya*

Wahai para ibu dan para bapak, wahai para pendidik, marilah rehat sejenak bersama kami. Marilah kita duduk melingkar, bersimpuh sejenak melemaskan penat dan meletakkan beban barang semasa. Ijinkan kami mengusap peluh kalian. Sementara kalian beristirahat, kami hendak mengabarkan kepada kalian sebuah khabar yang mulia nan menyejukkan. Simaklah penuturan kami ini, penuturan yang akan senantiasa berulang bagi kalian para pendidik yang mulia…

Kami mengetahui betapa beratnya tugas mendidik generasi perempuan di masa kini, masa yang seakan tiada menyisakan kesempatan untuk rehat bagi para pejuang pendidikan yang ikhlas. Karena dimasa ini, gelombang arus seretan kejahatan makin liar menerpa, dari depan, belakang, samping kanan dan kiri, bahkan dari atas dan dari bawah. Hari-hari selalu kita temui kasus-kasus buruk hasil ulah dan polah anak didik, tidak perlu disebut satu per satu disini, karena engkaupun juga tahu. Semoga dengan khabar baik yang hendak kami sampaikan ini menambah daya juang kita semua, memompa semangat yang mulai pudar.

Khabar baik nan menyenangkan ini datang dari lisan Kekasih Umat, Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam yang tidaklah keluar dari lisannya bersalah dari hawa nafsu, melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya. Ketahuilah bahwa mendidik anak perempuan itu akan menjadi penghalang dari api neraka.

Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa ia berkata: “Ada seorang wanita masuk besama dua anak perempuannya seraya meminta diberi sesuatu. Akan tetapi aku tidak mendapatkan sesuatu untuk diberikan kecuali sebutir buah kurma. Aku berikan sebutir buah kurma tersebut kepadanya. Kemudian si ibu itu membaginya kepada kedua anaknya. Sementara ia sendiri tidak makan. Kemudian mereka keluar dan pergi. Ketika Nabi saw. Datang dan masuk kepada kami, aku beritahukan kisah ini kepadanya. Kemudian beliau berkata: “Barangsiapa yang diuji dengan mendapatkan anak peremuaan kemudian ia berbuat baik kepada mereka (dengan mendidiknya) maka anak perempuan itu akan menjadi penghalang baginya dari sentuhan api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga  Bedanya kita dengan Para Shahabat Rasulullah ﷺ

Nyata dan terasa betapa tingginya kasih sayang ibu yang tak terhingga, menembus akal rasio yang ada. Fokus dari sabda tsb ada pada terhalangnya sang pendidik dari api neraka. Sementara dari kisah yang lain, fokus penekanan Rasulullah bertambah dengan dimasukkannya ke surga.

Diriwayatkan oleh Aisyah ra. ia berkata: “Aku kedatangan seorang ibu miskin yang membawa kedua anak perempuannya. Aku berikan kepadanya tiga butir buah kurma. Kemudian ia memberikan masing-masing dari kedua anaknya satu butir kurma dan yang satu butir lagi ia ambil untuk dimakan sendiri. Akan tetapi, ketika ia akan memakannya, kedua anaknya itu memintanya. Akhirnya satu butir kurma itu dibelah dua dan diberikan kepada mereka berdua. Kejadian itu mengagumkanku. Maka, aku ceritakan hal itu kepada Nabi saw. Dengan demikian beliau bersabda: “Allah saw. mengharuskan ibu itu masuk surga atau membebaskannya dari neraka disebabkan kasih sayangnya terhadap anak perempuannya.” (HR. Muslim)

Kejadian ini persis dengan kejadian yang dikisahkan pada hadits yang sebelumnya. Akan tetapi, pengorbanan seorang ibu dalam kejadian di hadits ini lebih nampak dan sifat itsar (memperioritaskan orang lain daripada diri sendiri)nya lebih besar, dimana ia tidak makan sedikit pun dan mendahulukan kedua anaknya. Itsar, ah sebuah terminologi yang kian lapuk dimasa ini.

Dan tahukah tempat anda kelak dimana, wahai para pendidik yang mulia? Anda akan menempati tempat yang membuat iri setiap hati yang beriman. Sebuah tempat yang hanya dimiliki oleh orang-orang istimewa. Itulah tempat yang dekat dari sisi Nabi yang mulia.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwa ia berkata: Rasulullah saw. telah bersabda: “Barangsiapa mengurus dan mendidik dua anak perempuan hingga mereka dewasa maka ia datang di hari kiamat bersamaku.” Beliau merapatkan jari-jemarinya. (HR. Muslim)

Baca Juga  Kejahatan Calon-Calon Da'i

Dalam hadits ini terdapat bisyaroh (kabar kembira) yang besar bagi orang yang dikaruniai dua anak perempuan kemudian ia merawat dan mendidiknya dengan baik, dimana ia nanti di hari kiamat masuk dalam kelompok Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam, dan senantiasa menyertai beliau sebagaimana jari telunjuk dan jari tengah yang akan selalu berdampingan dan dekat ketika digenggamkan. Hal ini cukup menjadi keutamaan dan kebanggaan karena orang yang berada di sisi Rasulullah pada hari yang penuh dengan rasa bingung dan goncang hati Insya Allah akan terjamin dan aman dari kekacauan yang terjadi pada hari itu.

Dalam riwayat lain dikatakan, “Barangsiapa yang mengurus dua anak perempuan maka aku dan dia akan masuk surga seperti ini.” Beliau berisyarat dengan dua jarinya (telunjuk dan jari tengah). (HR. Tirmidzi)

Pengertian hadits ini adalah bahwa orang seperti itu akan termasuk assabiqunal-awwalun (yaitu orang-orang yang lebih dahulu) dalam masuki surga.

Sementara kekhawatiran akan teks khabar yang selalu menyebut dua anak perempuan tampak menggayuti kalbu sebagian orang. Tetapi, lagi-lagi Islam adalah syariat yang sempurna. Kesempurnaannya lebih jauh dan lebih tinggi dari apa yang kita bayangkan. Mengenai keutamaan merawat dan mendidik satu anak perempuan saja, Sang Kekasih juga telah mengabarkan.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa mempunyai satu anak perempuan kemudian ia tidak menguburkannya hidup-hidup, tidak menghinakannya dan tidak mengutamakan anak laki-laki daripada anak perempuan maka Allah akan memasukannya ke dalam surga.” (HR. Abu Dawud)

Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah menerangkan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang ingin masuk surga, yaitu dengan berbuat ihsan terhadap anak perempuan, diantara rinciannya sebagai berikut:

1. Merawatnya hidup dan tidak menguburkannya hidup-hidup seperti yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah.
2. Memuliakan, memelihara dengan baik dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang, kebanggaan dan penghormatan tanpa merendahkan ataupun menghinakan
3. Tidak mengutamakan anak laki-laki ketimbang anak perempuan dalam memperlakukan mereka

Baca Juga  Etika Berbicara

Masih belum puas jika kami belum juga mengabarkan kepada kalian Hadits yang lain, simaklah kelanjutannya.

Diriwayatkan dari Uqbah bin Nafie ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan kemudian ia sabar atas (merawat dan mendidik) mereka serta ia memberi makan dan minum mereka dari apa-apa yang ia dapatkan maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang baginya dari api neraka di hari kiamat.” (HR. Ahmad)

“Barangsiapa yang menanggung dua atau tiga anak perempuan; dua atau tiga saudara perempuan hingga mereka meninggal dunia atau ia lebih dahulu meninggal dunia maka aku dan dia seperti dua ini.” (Shahih al Jami’)

Beliau berisyarat dengan dua jarinya; telunjuk dan jari tengah.

Dalam riwayat lain dikatakan, “Barangsiapa yang mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan kemudian ia bertakwa kepada Allah swt. Dan menanggung keperluan mereka maka ia kan bersamaku di surga.” Beliau berisyarat dengan jari jemarinya.

Bagaimana kini perasaan anda, wahai sang murabbi (pendidik)? Resapilah khabar-khabar nubuwwah itu, hiruplah bersama setiap helaian nafas anda. Hiruplah yang panjang dan sedalam-dalamnya. Kita semua memerlukan itu untuk bersiap menghadapi amanah generasi perempuan ini.

Telah kami sampaikan khabar mulia diatas, kini bangkitlah kembali! Kita sudah berehat barang sejenak, sekarang berdirilah. Rapikan kembali pakaian kita, susun dan atur kembali bekal yang kita punyai. Bersama kita bergandengan tangan, bersama kita beratur dalam berisan, berjuang sekuat kemampuan, mengusahakan semampu yang kita bisa tahan. Mari kita tunaikan tugas mulia mendidik dan merawat generasi perempuan. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla membimbing dan menguatkan setiap langkah kita, amin.

*Mahasiswa S3 Keio University, Yokohama, Jepang.

Yokohama, 27 Desember 2009.

*sumber: Ziyaadatul khasanaat fii tarbiyatil banaat, Muhammad bin Ali al-‘Arfaj, diunduh dari islamhouse[dot]com.