Pesantren Dan Daya Handal Interaksi Kitab (Bagian 1 Dari 3)
April 10, 2011
Pesantren Dan Daya Handal Interaksi Kitab (Bagian 3 Dari 3)
April 14, 2011

Pesantren Dan Daya Handal Interaksi Kitab (Bagian 2 Dari 3)

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki corak tersendiri, karena pendidikan Islam cenderung dikaitkan dengan hal-hal yang sakral, pendidikan Islam dipahami sebagai proses pembinaan terhadap peserta didik agar berperilaku sesuai dengan ajaran agama Islam. Sedangkan di dalam pemahaman Islam (khususnya dalam pemahaman al-Qur’an) terjadi perbedaan pendapat. Oleh karena itu pendidikan Islam pada dasarnya cukup beragam, sesuai dengan dasar interpretasi yang dipakai dalam memahami al-Qur’an, sehingga tujuan pendidikan Islam pun beragam sesuai dengan hasil interpretasi mereka begitu pula dengan metodenya.

Teori Pesantren
Banyak anggota masyarakat dalam belajar bersama kiyai itu selanjutnya di respon oleh kiyai dengan mendirikan sebuah pesantren, yang biasanya secara fisik dilakukan oleh masyarakat dan para pengikut kiyai. Dengan posisi seperti ini kiyai memiliki otoritas yang cukup besar untuk mengembangkan masyarakat sekitar pesantren, bahkan boleh jadi kiyai mengambil posisi sebagai agent of change, karena ia menjadi pelopor perubahan pengembangan masyarakat, bukan sebagai culture counter.

Menurut Zamachyari Dhafier, “rahasia” bertahannya pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional di Jawa adalah karena kemampuan kiyai dalam merespon “ selera” masyarakat sehingga ia mampu berperan sebagai social engineer dalam mengembangkan pesantren yang lebih responsif terhadap kebutuhan kehidupan modern. Artinya, pada konteks ini nampak bahwa pesantren mampu membawa pada penguatan tradisi keilmuan, mewarnai perubahan sosial, etos kerja dan cinta tanah air, bukan menghambat atau menghalangi perubahan sosial yang sudah menjadi keniscayaan era globalisasi.

Jumlah santri dalam suatu pesantren menjadi variabel yang sangat penting, karena jumlah santri berimplikasi pada status pesantren yang bersangkutan. Penggolongan pesantren pada kategori pesantren pesantren “besar”, ”menengah”, ataupun “kecil” dilihat dari jumlah santri yang dimiliki.

Harmonisasi Fungsi Pesantren dengan Realitas Masyarakat Pendukung
Harmonisasi dalam arti sinergisitas antara fungsi pesantren dengan realitas sosial masyarakat pendukungnya. Sebagai base community, masyarakat berhak untuk mengetahui dan urun rembuk terhadap kebijakan pesantren. Oleh karena itu studi tentang pola hubungan tersebut perlu memperhatikan hal-hal tersebut dan diantaranya adalah :

Hubungan pesantren dengan institusi sosial yang berada di tengah-tengah masyarakat pendukungnya
Sebuah lembaga setelah terbentuk dan dapat menjalankan fungsi sesuai dengan tujuan yang diinginkan secara continue, maka munculah pertanyaan dalam benak kita bagaimana cara melestarikan atau mempertahankan eksistensinya. Dengan demikian untuk mewujudkan ide tersebut itu kita akan terbawa pada dinamika sosial. Dimana dalam mewujudkan ide tersebut kita akan menyadari arti penting sebuah lembaga pendidikan yang dapat mewujudkan memenuhi kebutuhan kelembagaan mereka.

Semakin cepat dinamika perubahan struktur masyarakat maka akan semakin mempercepat munculnya ragam pendidikan yang dibutuhkan. Semakin cepat dinamika perubahan struktur masyarakat akan mempercepat munculnya ragam pendidikan yang dibutuhkan. Oleh karena itu jika ingin tetap eksis dan survive, maka dia harus tetap mengembangkan lembaga pendidikan sesuai dengan harapan masyarakat.

Fungsi pesantren terhadap pengendalian sosial
Dengan kedudukan pesantren sebagai lembaga yang mempunyai fungsi sebagai kontrol terhadap dinamika sosial masyarakat pendukungnya. Dengan kedudukan ini pesantren menjadi lembaga sosial yang dapat menyelesaikan ketegangan yang terjadi diantara anggota masyarakat baik bersifat keluar maupun ke dalam. Seperti urusan rumah tangga, pendidikan anak sampai pada masalah ekonomi.

Efektifitas peran Kiyai dan pesantren dalam menjalankan fungsi kontrol sosial dipengaruhi oleh kompetisi yang dimiliki kiyai dalam menjalankan fungsinya sebagai kontrol sosial yang dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan kiyai dalam memandang permasalahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Proses modernisasi, telah menghantarkan umat manusia sampai pada sebuah tahapan kehidupan baru, yaitu era globalisasi. Interaksi antar bangsa yang melampaui batas-batas wilayah negara memungkinkan terjadinya perjumpaan nilai-nilai budaya baru, yang dibawa oleh setiap bangsa. Pergaulan antar bangsa yang terbuka itu merupakan wahana bagi masuknya nilai budaya asing, yang jelas banyak positifnya tetapi ada juga yang tidak sejalan dengan nilai budaya dan jati diri bangsa Indonesia sendiri.

Untuk menjaga ketahanan budaya bangsa, kita perlu meneguhkan dan memantapkan wawasan kebangsaan kita. Peneguhan dan pemantapan wawasan kebangsaan ini, selain untuk menghadapi tantangan era globalisasi, juga agar keutuhan kita sebagai bangsa tetap terpelihara dan terjaga dengan baik. Pembangunan hanya dapat berjalan dengan baik dalam suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan, dalam semangat persatuan dan kesatuan. Bangsa yang terpecah-belah dan tidak bisa rukun, tidak mungkin dapat membangun dirinya dan menyejahterakan rakyatnya. Realitas bangsa Indonesia yang bersifat sangat majemuk, baik dari segi agama, etnis, bahasa, budaya, maupun adat istiadat ini, membutuhkan perekat yang kuat agar tidak terancam disintegrasi.

Kita meyakini bahwa yang bisa menjadi kekuatan perekat itu adalah wawasan kebangsaan, yang menurut bahasa pesantren mungkin disebut ukhuwwah wathoniyah. Dengan wawasan kebangsaan atau ukhuwwah wathoniah kita memandang masyarakat Indonesia sebagai sebuah kesatuan sosial, ekonomi, dan politik yang utuh, meskipun memiliki keragaman agama, etnis, bahasa, budaya dan adat-istiadat. Penanaman nilai ukhuwwah wathoniyah di lingkungan pondok pesantren sejak awal merupakan perisai yang kuat untuk mempertahankan keutuhan bangsa. Mungkin ini akan merupakan salah satu kontribusi terpenting dan amat berharga dari pesantren dalam membangun bangsa yang utuh dan bersatu.

Fungsi pesantren terhadap proses pembaharuan sosial
Terhadap proses pembaharuan sosial tentu tidak terlepas dari dua aspek yaitu aspek pesantren dan aspek sosial. Agar perubahan struktur sosial yang terjadi sinergi dengan pembaharuan pesantren, maka struktur perubahan sosial harus diperbaharui sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam pembaharuan pesantren. Jadi pesantren tidak hanya berfungsi sebagai “filter perubahan” tetapi justru mendorong perubahan itu sendiri. Maka daripada itu kita harus mengadakan yang semacam kontrak sosial.

Hubungan pesantren dengan pandangan umum masyarakat ( public opinion )
Respon suatu masyarakat terhadap suatu pandangan yang dimana akan mengukur tingkat kesensitifitasan masyarakat yang berkembang di lingkungan pesantren. Sikap seperti ini akan sangat mempengaruhi karena tidak semua sifat sensitifitas yang tinggi terhadap pandangan umum masyarakat membawa dampak positif terhadap eksistensi pesantren.

Sesungguhnya setiap pesantren itu memiliki masyarakat pendukungnya yang menyebabkan pesantren akan mengakar dalam masyarakat dan sekaligus sebagai penopang daya pesantren. Sedangkan menurunnya respon masyarakat terhadap pesantren di sebabkan oleh dua faktor yaitu, perubahan struktur masyarakat dan perubahan pada pandangan hidup (word view). Perubahan pada struktur masyarakat dapat dilihat dari struktur keluarga, lembaga keagamaan, lembaga sosial, lembaga pendidikan dan lembaga ekonomi. Sementara perubahan pada pandangan hidup dapat dilihat dari pandangan masyarakat terhadap kehidupan manusia yang terkait dengan Tuhan, IPTEK, pendidikan dan hal lain yang berhubungan dengan dunia pesantren.

Proses konvergensi diharapkan dapat menghasilkan SDM yang berkualitas, yakni tidak hanya memiliki pengetahuan untuk menempuh kehidupan di dunia dengan baik, sesuai dengan tanggung jawab pribadi dan kemasyarakatan seseorang, tetapi juga akan menghasilkan SDM yang memiliki keyakinan iman dan ketakwaan, yang memberikan tuntunan moral. Dengan demikian, SDM tersebut dalam menempuh kehidupannya memiliki nilai -nilai spiritual dan budi pekerti yang menjadi pedoman, dan bukan hanya nilai -nilai material. Kualitas SDM serupa itulah yang kita sebut sebagai kualitas manusia yang lengkap (insan kamil).

Oleh karena eratnya keterkaitan pesantren dengan masyarakatnya, apabila kita ingin memperkenalkan suatu norma atau cara baru di lingkungan masyarakat yang terkait dengan tradisi pesantren, akan lebih mudah apabila norma atau cara baru itu diperkenalkan melalui pesantrennya, yang kemudian akan mensosialisasikannya dengan cara yang mungkin lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan jika dilakukan oleh pemerintah. Misalnya, pengalaman kita dalam memperkenalkan program keluarga Sehat (pengobatan dengan model Nabi) yang serat dengan muatan al-Qur’an, yang merupakan konsep kehidupan keluarga modern, menunjukkan betapa efektifnya peran pesantren. Oleh karena itu, pesantren secara potensial adalah agen modernisasi bagi masyarakatnya.

Reformulasi Struktur dan Realitas Pesantren
Redefinisi yang dilakukan oleh pesantren ini dilakukan untuk mengkaji ulang hakikat setiap unsur dan fungsi yang sesungguhnya dalam kerangka pesantren sebagai lembaga pendidikan. Setelah semua unsur dapat dibentuk kembali secara rasional dan faktual, maka langkah selanjutnya adalah aktualisasi fungsi setiap unsur secara efektif dan efisien mungkin. Sesungguhnya kemajuan dan kemunduran (pasang-surut) sebuah pesantren sangat mungkin disebabkan oleh ketidakefektifan fungsi unsur-unsur dalam sistem pesantren. Oleh karena itu studi tentang reformulasi struktur dan reaktualisasi pesantren sangat perlu memperhatikan hal-hal berikut :

Kiyai Sebagai Falsafah Pendidikan Pesantren
Kiyai sebagai tokoh kunci dalam proses penyelenggaraan pesantren, karena mempunyai kedudukan yang paling tinggi dan mempunyai otoritas dalam menentukan kebijakan secara sepihak terhadap pesantren. Hal ini karena kiyai dalam pesantren kiyai merupakan “falsafah pendidikan” artinya bahwa setiap tujuan dan nilai-nilai yang ingin dikembangkan dalam pesantren merupakan manifestasi dan pandangan kiyai itu sendiri. Sehingga kualitas dan eksistensi pesantren sangat bergantung kepada kualitas dan kompetensi yang dimiliki oleh kiyai.

Dengan kata lain bahwa pandangan kiyai terhadap masyarakat pendukung pesantrennya, mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pesantren yang dipimpinnya. Peran kepemimpinan kiyai lebih luas dan lebih dalam daripada itu. Kekhasan ini tentu akan tetap memberi warna kepada pesantren, dan tantangannya adalah bagaimana faktor kepemimpinan tradisional dan karismatis itu, yang merupakan ciri dan kekuatan pesantren, dapat dipadukan dengan kepemimpinan modern, yang nilai utamanya adalah rasionalitas.

Sistem Pendidikan Pesantren
Unsur pesantren yang kedua adalah sistem pendidikan pesantren. Dalam setiap komponen yang ada dalam pesantren seperti santri, ustadz, kurikulum, metode belajar, sistem evaluasi sarana dan prasarana yang dimiliki oleh pesantren. Setiap komponen itu saling mempengaruhi satu sama lain, sehingga ketidakefektifan salah satu aspek akan mengganggu komponen yang lainnya. Semakin beragam macam santri yang ada dalam pesantren tersebut maka akan semakin tinggi nilai pesantren itu.

Ustadz dan ustadzah merupakan tokoh sentral dalam pendidikan di mana dalam pesantren sering dipelajari kitab ”Ta’lim al-Mutaawin” yang menerangkan bahwa ustadz dan ustazdah adalah figur yang tidak boleh dibantah, kharismatik dan dianggap sebagai penentu keberhasilan belajar-mengajar. Studi pada ustadz lebih baik difokuskan pada latar belakang pendidikan, aktifitas mengajar, aktifitas diri di luar pesantren, penampilan dan kemampuan mengorganisasikan bahan pengajaran dan dan kemampuan memenejerial hal lain yang terkait metode pengajaran pun mempunyai posisi yang cukup penting karena cara pangajaran itu lebih penting daripada teorinya.

Tujuan proses modernisasi pondok pesantren adalah berusaha untuk menyempurnakan sistem pendidikan Islam yang ada di pesantren. Akhir-akhir ini pondok pesantren mempunyai kecenderungan-kecenderungan baru dalam rangka renovasi terhadap sistem yang selama ini dipergunakan. Perubahan-perubahan yang bisa dilihat di pesantren modern termasuk; mulai akrab dengan metodologi ilmiah modern, lebih terbuka atas perkembangan di luar dirinya, diversifikasi program dan kegiatan di pesantren makin terbuka dan luas, dan sudah dapat berfungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat (Hasbullah, 1999:155)

Manajemen Pesantren
Manajemen pesantren mempunyai peranan yang penting karena menejemen pada dasarnya merupakan “mekanisme-motorik” interaksi sosial pesantren. Menejemen pesantren sering kali menjadi unsur pokok yang mempengaruhi efektifitas dari keseluruhan proses pendidikan berlangsung.

Pemupukan nilai-nilai spiritual dan penguatan etos keagamaan menjadi sangat penting artinya. Agar semangat kemodernan tidak menjauhkan masyarakat dari agama sehingga tujuan menghalalkan cara dan tidak dilandaskan pada moral, maka meneguhkan sikap beragama harus terus-menerus diupayakan. Dalam hal ini, pesantren bisa memberikan kontribusi positif dalam mengisi dan memperkuat nilai-nilai spiritual dan etika dalam kehidupan modern. Kita perlu menegaskan bahwa masyarakat modern dalam pandangan kita adalah juga masyarakat yang religius, yakni bahwa masyarakat Islam bisa hidup di alam modern dengan tetap mempertahankan nilai-nilai ke-Islamannya. Bahwa menjadi modern itu tidak harus menjadi penghalang untuk tetap teguh dalam menjalankan ajaran agama. Sebagai Muslim kita perlu menunjukkan bahwa kita tetap bisa hidup secara serasi dalam kemodernan dengan tetap setia kepada Islam. Kita harus mampu menyebut diri sebagai Muslim yang modern dalam satu tarikan nafas.

Agama Islam memberi penghargaan tinggi dan tempat yang mulia kepada orang-orang yang berilmu. Kehadiran orang-orang yang berilmu mempunyai peranan penting dalam usaha memajukan suatu masyarakat. Orang-orang yang berilmu adalah pembimbing masyarakat menuju cita-cita yang menjadi tujuan bersama. Mengingat peran yang penting itu maka penghargaan yang diberikan kepada seorang yang berilmu bahkan melebihi keutamaan seorang ahli ibadah sekalipun.

Masa depan kita akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan untuk bersaing. Dan kemampuan untuk bersaing hanya dapat tumbuh dan sinambung jika bersumber pada SDM yang berkualitas, yakni yang berilmu dan mampu mengembangkan serta mengamalkan ilmu. Apabila penguasaan ilmu pengetahuan itu merupakan pencerminan dari kehidupan budaya modern dan sekaligus amanat keagamaan, maka tradisi pesantren yang menanamkan etos keilmuan kepada para santri harus dihidupkan kembali, dan tentunya dengan membuka diri kepada ilmu pengetahuan, teknologi, dan pola kehidupan modern.

Sistem Nilai di Pesantren
Sistem nilai dipesantren biasanya didasari,digerakkan, dan diarahkan oleh nilai-nilai yang bersumber pada ajaran dasar agama Islam. Nilai-nilai yang mendasari pesantren pada umumnya dapat digolongkan mejadi dua golongan yaitu:

Nilai-nilai agama yang terkandung yang mempunyai nilai kebenaran mutlak (statis), yang dalam hal ini bercorak “fiqh-sufistik”, yang berorientasi pada kehidupan ukhrawi,dan

Nilai-nilai agama yang memiliki kebenaran relative (dinamis), yang dalam hal ini bercorak empiris dan pragmatis untuk memecahkan berbagai masalah kehidupan sehari-hari menurut hukum agama.

Keempat unsur pesantren tersebut (Kiyai, Santri, Ustadz, sistem pendidikan pesantren, kurikulum, menejemen, dan sistem nilai) akan kita lihat dari segi hubungannya dengan fungsi pesantren terhadap kebutuhan perubahan sosial masyarakat pendukungnya. Dengan pola pikir seperti ini diharapkan akan mampu mengungkap faktor-faktor penyebab turunnya respon masyarakat terhadap pesantren.

Modernisasi merupakan proses transformasi yang tak mungkin bisa dihindari, dan karena itu semua kelompok masyarakat termasuk masyarakat pesantren harus siap menghadapinya dan perlu menanggapi gejala-gejalanya secara terbuka dan kritis. Kita ketahui, dan pengetahuan ini diperkuat oleh hasil kajian para ahli, bahwa keberadaan pesantren di tengah-tengah kehidupan masyarakat memiliki latar belakang sejarah. Pesantren merupakan representasi institusi ke-Islaman yang berakar kuat dalam tradisi dan kebudayaan masyarakat, khususnya masyarakat di Jawa.

Bersambung…

Pesantren Dan Daya Handal Interaksi Kitab (Bagian 1 Dari 3)