Penetrasi Amerika Melalui Tarekat-Tarekat Sufi (1)
September 4, 2013
Penetrasi Amerika Melalui Tarekat-Tarekat Sufi (3)
September 6, 2013

Penetrasi Amerika Melalui Tarekat-Tarekat Sufi (2)

Diatas Kelembutan Dakwah

Pada artikel sebelumnya yakni Penetrasi Amerika Melalui Tarekat-Tarekat Sufi (1) telah dijelaskan bagaimana Amerika berusaha menjinakkan Islam dengan memanfaatkan kaum Sufi. Berikut adalah lanjutannya.

II. Kedutaan besar AS berpacu dengan waktu untuk mengimplementasikan strategi mengeksploitasi Sufisme
Bukan hal yang kebetulan jika para diplomat AS di berbagai negara Islam terlibat langsung dalam memberi perhatian khusus terhadap kelompok-kelompok Sufi yang ada. Informasi yang tersebar di berbagai media menyebutkan bahwa melalui kedutaan AS yang tersebar di negara-negara dunia Islam, para diplomat Amerika telah membuka saluran komunikasi dan koordinasi dengan kelompok-kelompok Sufisme di negara-negara tersebut. Komunikasi dan koordinasi itu dilakukan dalam kerangka strategi Amerika mengeksploitasi mereka dalam memerangi “gerakan Salafi” di dunia Islam.

 

Para diplomat dan kedutaan AS di kota-kota Islam berpacu membangun komunikasi yang kuat dengan tokoh-tokoh sufi yang disegani oleh para pengikutnya melalui kunjungan dan pertemuan dengan mereka. Kunjungan dan pertemuan dengan tokoh-tokoh itu dimaksudkan sebagai bentuk pendekatan praktis untuk menembus jantung setiap kelompok sufi dan para pencintanya. Tujuannya adalah untuk menciptakan landasan kerjasama yang baik dengan kelompok sufi tersebut.

 

Penulis akan memaparkan beberapa contoh diplomasi pendekatan kepada kelompok-kelompok sufi pada beberapa paragraf mendatang.

 

Kedua, Upaya Global untuk Menghidupkan Tasawuf Kembali
Aneh bahwa semua upaya internasional yang bertujuan menghidupkan kembali warisan sufi, renovasi dan pemeliharaan kuburan dan tempat-temput suci kaum sufi itu datang dalam kerangka strategi AS dalam mempromosikan manhaj sufi sebagai alternatif yang dapat diterima sebagai penerapan Islam, dan menggesar pemahaman Islam berdasarkan pendekatan Salafi.

I. Konferensi Internasional tentang Tasawuf
Beberapa tahun terakhir menjadi saksi atas berbagai konferensi dan seminar yang diadakan untuk tujuan kebangkitan dan promosi warisan sufisme di dalam maupun di luar dunia Islam. Dan yang paling menonjol dari konferensi dan seminar tersebut adalah:

  • Di Jerman (2001 M) diselengarakan Konferensi-28 orientalis Jerman. Tema penelitiannya berjudul: (Persaudaraan Sufi sebagai Gerakan Sosial), dan (Naqsyabandi Gerakan di Dagestan), dan (Tijani di Afrika Barat), dan dibarengi dengan pameran gambar peringatan maulid masyarakat di Mesir.[2]
  • Di Jerman (2001 M) diselenggarakan Konferensi Dunia I tentang Studi Timur Tengah. Penelitian yang diprensentasikan berjudul: (Islam Modern dan Tarekat Sufi Naqsyabandi Pembaharu), dan (Wali-wali Sufi dan non Sufi).[3]
  • Di Mesir (2001 M) diadakan Konferensi tentang “Tasawuf sebagai Manhaj Otentik untuk Reformasi” yang diselenggarakan oleh Imam al-Raed Imam Academy of Studies of Mysticism and Science Heritage in the Muhammadiyah Clan.[4]
  • Di Mesir (2003 M) Tarekat Shazleya telah mengadakan Kongres Internasional di kota Alexandria. Kongres yang berlangsung di gedung perpustakan Alexandrina terselenggara atas kerjasamanya dengan (Kementerian Pariwisata Mesir), (UNESCO), dan (Pemerintah Perancis melalui Kementerian Luar Negeri, Kementerian Riset Ilmiah, Pusat Penelitian dan Kajian Ilmiah Nasional, dan Perancis Institut efek Oriental, dan Dar Humaniora).[5]
  • Di Bulgaria (2003 M) diadakan sebuah seminar tentang (Sastra Tasawuf dalam Islam).[6]
  • Di Denmark (2004 M) diadakan serangkaian kuliah tentang tokoh (Hallaj, Ibn Arabi dan Ibn Fared).
  • Di Maroko (2004 M) kelompok-kelompok sufi menyelenggarakan konferensi internasional atas dukungan Raja Mohammed VI dengan tema: (Sir Chiker Meetings Global adherents to Sufism).[7]
  • Di Mali (2004) diselenggarakan Kongres Dunia I bagi kelompok-kelompok sufi Afrika Barat di bawah slogan: (Mysticism; authenticity and renewed).[8]
  • Di Libya (2005) diadakan sebuah konferensi internasional bertajuk: (Sufi di Afrika .. Sekarang dan Masa Depan) di bawah slogan (Bersatu untuk Memainkan Peran Tarekat dan Komunitas Tasawuf di Afrika).[9]
  • Di Yordania (2005) diadakan konferensi dengan tema: (Hakekat Islam dan Perannya dalam Masyarakat Kontemporer) atas dukungan Raja Abdullah II.
  • Di Yordania (2007) diselengarakan konferensi dengan tema: (Pengaruh dan Corak Tasawuf dalam Sastra Arab) sebagai salah satu kegiatan dari gerakan Irbid sebagai kota budaya Yordania tahun 2007 M.[10]
Baca Juga  JANGAN AJARI KAMI TOLERANSI!

II. Upaya UNESCO dan Amerika Serikat untuk Melestarikan Puisi Sufi
Tahun 2007 dijadikan oleh UNESCO sebagai tahun internasional bagi peringatan kedelapan abad bagi penyair sufi Jalaluddin al-Rumi (1207-1273 M) di Asia Tengah. Pada kesempatan ini, UNESCO menyelenggarakan seminar sehari penuh di kantor pusatnya di Paris, dan mengadakan pameran buku, naskah dan lukisan yang berhubungan dengan kehidupan dan karya al-Rumi.[11]

 
Pada sisi lain, di Amerika Serikat terjemahan puisi sufi Rumi meningkat tajam. Hal yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana rangking penjualan terjemahan buku-bukunya melebihi rangking penjualan buku-buku lainnya. Juga diselenggarakan suatu konferensi untuk mengeksplorasi puisi al-Rumi dan hubungannya dengan dunia di masa klasik dan modern oleh Pusat Studi Persia di University of Maryland.

 
Di AS arus terjemahan baru untuk buku-buku al-Rumi terus mengalir. Di samping itu, berbagai studi ilmiah tentang kehidupan dan karya-karyanya juga terus berlangsung. Kini puisi-puisinya telah dimusikkan dan di-CDkan serta diupload di internet secara luas.
III. Restorasi Tempat-tempat Suci Sufi dengan Dana Kedutaan AS
Dalam konferensi persnya pada tanggal 8 Juni 2009,[12] Kementrian Luar Negeri AS menyebutkan bahwa: “U.S. Ambassadors Fund” for the maintenance of culture” akan memberikan hibah untuk beberapa proyek penting pada tahun ini. Yaitu untuk merestorasi sejumlah monumen sejarah dan budaya, termasuk masjid tua, kuburan-kuburan sufi yang berdiri sejak masa awal.

 

Laporan itu menyebutkan akan meresotorasi kuburan Hafiz Muhammad Hayat yang dibangun pada abad ke XII di Gujarat dan kuburan Hazrat Shah Shams Tabriz dibangun pada abad XIII di Multan. Keduanya merupakan situs penting di Pakistan. Sebelumnya “U.S. Ambassadors Fund for the maintenance of culture” telah memberikan bantuan untuk beberapa proyek restorasi kuburan dan situs-situs suci lainnya di Pakistan.

Baca Juga  Rukun Iman (Bagian 2)

 

Perlu dicatat bahwa terdapat sejumlah mekanisme tertentu untuk membiayai kegiatan tersebut. Melalui inisiatif, dana dan hibah yang terkenal .. Ada tiga lembaga finansial utama yang bekerja untuk menyediakan dana. Tujuannya adalah untuk menembus masyarakat religius dan sipil di negara-nagara Islam di kawasan Timur Tengah di bawah payung demokrasi. Dana tersebut dipakai untuk merangsang kelompok-kelompok tertentu agar terlibat dalam pelaksanaan proyek Amerika di wilayah tersebut.

 

Dana telah Siap bagi yang Terlibat

  1. Middle East Partnership Initiative (MEPI) yang merupakan program yang diluncurkan oleh Kementrian Luar Negeri AS bertujuan untuk mendorong reformasi di negara-negara Arab melalui promosi masyarakat sipil Arab, dan untuk mendorong usaha kecil, memperluas partisipasi politik, dan mempromosikan hak-hak perempuan.
  2. Fund and the Ministry of State for Human Rights Democracy (HRDF), yaitu sebuah lembaga finansial untuk memajukan hak asasi manusia di negara-negara mayoritas Muslim.
  3. National Endowment for Democracy (NED) untuk program demokratisasi masyarakat Muslim.
  4. U.S. Ambassadors Fund, yaitu program Kementerian Luar Negeri AS.

 

Telah maklum bahwa proyek-proyek ini semuanya dibawah kontrol penentu kebijakan AS dan tunduk pada aturan yang telah ditetapkan dalam mendanai kelompok-kelompok yang telah diseleksi pada setiap negara. Yaitu kelompok-kelompok yang siap terlibat dalam proyek AS dibawah slogan “demokratisasi”. Di dalam laporan Kongres AS berjudul (Kebijakan Amerika Serikat untuk mempromosikan demokrasi di Timur Tengah: dilema Islam), disebutkan bahwa Kongres juga mengalokasikan dana untuk program demokratisasi regional dan proyek bantuan asing. Kongres dapat menentukan penggunaan dana tersebut untuk proyek-proyek tertentu, atau diarahkan ke kelompok tertentu.

bersambung…