Agama ini bukan PRIORITAS paling PENTING
February 3, 2016
Dari Sini Kita Mulai…
February 14, 2016

Tarbiyahkah yang Terpenting?

“Indonesia harusnya menjadi negara yang maju.”

Pernahkah anda mendengar perkataan semacam ini? Barangkali sering, ketika kita membahas negri tercinta ini. Negeri yang terpuruk, meskipun kekayaan alamnya tiada bandingannya dengan negri lainnya.

Lalu apa yang salah? Barangkali dalam pembahasan tentang persoalan ini orang akan beranjak pada persoalan lain, yaitu permasalahan sumber daya manusia yang buruk. Dengan kata lain, negeri kita ini diurus oleh orang-orang yang tidak becus, tidak tepat.

Tidak perlu membayangkan bahwa kesalahan berada pada presiden, wakil presiden, menteri, pejabat-pejabat BUMN, dan lain-lainya. Tidak perlu, sementara ini tidak perlu, karena mereka para pejabat adalah gambaran dari masyarakatnya secara umum. Bukankah mereka adalah anggota masyarakat? Bukankah mereka itu dipilih oleh kita sendiri?

Lalu bagaimana penyelesaiannya? Darimanakah perbaikan ini bisa kita mulai? Dan bagaimana caranya?

Marilah kita simak pelajaran sejarah yang sangat mahal dari seorang khalifah Ar-rasyidah yang kedua : ‘Amirul Mu’minin Umar ibn Khaththab radhiyallaahu ‘anhu.

Sebagaimana Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwa suatu ketika Umar ibn Khattab berkata kepada para sahabatnya :

“Sebutkanlah cita-cita kalian!”

Salah seorang dari mereka berdiri dan berkata : “Saya ingin memilki rumah ini penuh dengan emas, kemudian saya mensedekahkannya di jalan Allah.”

Umar berkata lagi: “Sebutkanlah cita-cita kalian!”

Yang lainnya berdiri dan berkata : “Saya menginginkan seisi rumah ini dipenuhi intan, berlian, dan permata, untuk saya sedakahkan di jalan Allah dan berinfak dengannya.”

Kemudian Umar berkata lagi : “Bercita-citalah kalian!”

Mereka berkata : “Kami tidak tahu lagi ya Amirul mukminin.”

Maka Umar berkata : “Saya menginginkan, seisi rumah ini dipenuhi orang-orang seperti Abu Ubaidah Ibn al-Jarrah, Muaz ibn Jabal, dan Hudzaifah Ibn Al-Yaman, kemudian aku manfaatkan mereka dalam amal keta’atan.” (sumber sedang dilacak)

Baca Juga  Shalat jum’at

Inilah pelajaran berharga dari ‘Umar ibn Khaththab.

Tentu tidak salah kalau para sahabat menjawab mereka menginginkan emas, permata berlian dan kekayaan lainnya untuk diinfaqkan. Mereka adalah generasi terbaik hasil didikan langsung Rasulullah. Tentunya mereka menjawab ini bukan semata-mata dari hasil pemikiran mereka. Hal ini selaras dengan sabda Sang Nabi :

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.”[1]

Dua jawaban pertama tentu selaras dengan hal ini. Para sahabat di sekitar ‘Amirul Mu’minin mendambakan harta yang diinfakkan untuk kebaikan, mensedekahkannya di jalan Allah subhanahu wata’ala. Tidak ada yang salah dengan jawaban ini.

Namun sang Khalifah tahu ada yang lebih penting dari itu. ‘Umar ibn Khaththab, sebagai sahabat utama, yang terbaik diantara mereka mengetahui apa yang lebih baik dari itu.

‘Umar radhiyallahu ‘anhu mengetahu bahwa Kader yang berkualitas lebih penting daripada emas, intan, berlian maupun permata sepenuh ruangan, meskipun kekayaan itu disedekahkan di jalan Allah. Bahwa Sumber Daya Manusia yang berkualitas jauh lebih penting dari Sumber Daya Alam yang melimpah, yang disedekahkan di jalan Allah. Menurut ‘Umar keberadaan orang-orang sekualitas para shahabat sekelas Abu ‘Ubaidah ibn Al-Jarrah, Muadz ibn Jabal, dan Hudzaifah ibn Al-Yaman jauh lebih diperlukan ketimbang harta kekayaan yang banyak, sekalipun seluruhnya diinfakkan di jalan Allah seluruhnya. ‘Umar mengetahui, bahwa jika orang-orang sekaliber itu dapat bermanfaat jauh lebih besar bagi kemashlahatan agama ini.

Baca Juga  Fatwa Lajnah Daimah : Rukun-Rukun Islam (8)

Orang-orang semacam ini, dapat dikirimkan kemanapun, dikirimkan pada keadaan apapun. Lalu kemudian kita biarkan, kita tinggalkan begitu saja, maka mereka akan memelihara agama ini dan akan menyebarkannya. Utuslah mereka ke belahan bumi manapun, bahkan tanpa harta perbekalan pun, orang-orang sekelas mereka akan tetap mampu menjalankan tugas dakwahnya tanpa banyak mengeluh, dengan ijin Allah subhanahu wata’ala tentunya.

Sebagaimana kita pahami bersama. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak meninggalkan warisan harta kekayaan pada kita. Masjid yang beliau bangun pun hanya terbuat dari tanah, beratapkan pelepah daun kurma, dan jika hujan turun, air akan merembes melalui celahnya. Tidak ada peninggalan lain yang pantas untuk kita banggakan yang berupa harta benda. Namun beliau telah berhasil mendidik para sahabat dengan pendidikan Qur’ani, sehingga Al-Qur’an itu meresap dan menjelma ke dalam diri para sahabat. Lalu dengannya para sahabat itu mampu menjadi generasi terbaik yang tiada pernah ada bandingannya pada generasi-generasi sebelumnya maupun sesudahnya. Radhiyallaahu ‘anhum ajmain.

Jadi dalam dakwah kita, tarbiyah (pembinaan, pendidikan dan pengkaderan) adalah yang paling prioritas. Ketimbang yang lainnya. Ia lebih penting daripada program-program kerja pembangunan masjid, pembangunan madrasah, pondok pesantren, kampus dan lainnya. Tarbiyah harus menjadi prioritas, dan menjadi perhatian utama. Karena inilah kunci kebangkitan kita. Ribuan bangunan akan dapat dibangun jika kita memiliki kader-kader dakwah yang berjiwa Qur’ani, sebagaimana generasi para sahabat itu. Namun ribuan bangunan akan segera runtuh, bila tidak ada para kader itu, yang menjaga dan merawat kesinambungan dakwah.

Maka, masihkah tarbiyah anda kurang perhatian?

masihkah liqoat anda sekedar memenuhi waktu luang?

Wallahu musta’an

———————————————
Rujukan :
[1] HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816

Baca Juga  Syarat-syarat Shalat

(IbnJ)