The Battle Of Khandaq (Bagian 4 Dari 4)
January 16, 2011
Keangkuhan
January 17, 2011

Pada Kubangan yang Sama

Tiap episode kehidupan manusia selalu dihiasi situasi emosi yang tak terduga. Adakalanya seseorang itu bersedih, adakalanya pula ia tersenyum. Disaat sore ia tertawa lepas, namun malamnya ia sudah menangis tersedu-sedu. Episode kehidupan ini kadang terulang dikemudian hari. Terperangkap pada keadaan yang sama. Sama dengan situasi masa lalu. Bahagia jika keadaan itu berupa kesuksesan. Namun sedih jika yang terulang berupa keterpurukan, baik itu kegagalan atau kemaksiatan.

Kegagalan merupakan kesuksesan yang tertunda. Batu ujian untuk mengetahui kesungguhan dan konsistensi kita ketika berjuang. Ketika menghadapi kegagalan, ada orang yang langsung putus asa. Ia lemah dan tidak siap menghadapi kegagalan. Biasanya, orang-orang seperti ini sudah dihinggapi angan-angan manis bahwa usahanya pasti akan berhasil dan sukses besar. Namun idealitas seringkali berlawanan dengan realitas. Inilah yang menimbulkan problema. Hanya orang yang memiliki optimisme tinggi yang sanggup bangkit dari kegagalannya. Ia selalu melihat kesempatan ditiap kesempitan. Hatinya lapang dan pikirannya terbuka. Kegagalan dianggapnya sebagai pengalaman yang berharga. Sebuah pelajaran agar tidak terjatuh pada kubangan yang sama di masa depan. Orang yang optimis bangkit dari keterpurukan. Kegagalan tidak membuatnya berhenti untuk melangkah. Baginya, hidup adalah ujian yang memang harus dihadapi. Percuma lari dari kenyataan, karena hanya akan membentuk mental pecundang.

Lantas, bagaimana jika maksud dari kegagalan itu adalah gagal lepas dari kemaksiatan? Terkadang manusia terjaring lagi dalam kubangan maksiat yang sama. Kubangan yang dulu pernah ia masuki. Setelah tekad bulat untuk bertaubat, kadang manusia tak sanggup lepas dari godaan dan keraguan. Terjerumus lagi dalam kesalahan yang sama, kemaksiatan itu lagi. Tidak sedikit manusia yang mengalami masalah ini, bahkan banyak jumlahnya. Tekad bulat telah diikrarkan didalam hati, berusaha untuk tidak melakukan kemaksiatan yang sama lagi. Ingin lepas dari lingkaran setan. Berusaha untuk berubah, menjalani kehidupan yang baru. Namun godaan iblis begitu kuat sepanjang waktu. Menggoda anak Adam dan menjerat dalam jebakannya. Manusia kadang tidak kuat menghadapi godaan iblis. Benteng imannya terlalu lemah menahan serangan iblis. Hatinya pun kalah. Ia memasuki lagi kubangan yang sama untuk kesekian kali.

Kemaksiatan tentu akan mengotori hati. Hati akan mengeras, sulit untuk menerima hidayah. Kemaksiatan seolah mengandung candu, menyebabkan orang sulit lepas darinya. Perlu usaha dan kesungguhan yang besar untuk bisa meninggalkannya. Lepas dari kemaksiatan di masa lalu, bukan berarti kita terbebas darinya. Suatu saat ketika hati kita lengah, kemaksiatan itu akan menarik kita lagi. Apalagi jika situasi mendukung kemaksiatan itu untuk terjadi. Masuklah kita ke dalam kubangan itu lagi. Kubangan yang sama.

Baca Juga  Panjang Angan-angan

Marah jiwa ini pada diri sendiri. Selalu menyalahkan, mengapa hal itu bisa terulang. Perlu usaha apalagi agar tidak kembali lagi. Perdebatan sengit didalam hati pun terjadi. Perdebatan antara kebaikan dan keburukan. Pikiran pun menjadi frustasi. Sementara hati ikut tertekan. Putus asa menghantui. Jika tidak ada jalan keluar, mungkin diri ini akan terserang depresi.

Jangan perdebatkan siapa yang salah. Tak perlu pula sibuk menyalahkan iblis yang selalu menggoda kita. Kita sudah tahu tugas iblis, yaitu menyesatkan anak-cucu Adam. Iblis telah bertekad dihadapan Ilahi untuk menjerumuskan manusia hingga Kiamat nanti. Iblis tidak ingin menanggung derita di neraka sendirian. Ia perlu teman disana. Al-Qur’an pun telah memberitahukan ikrar iblis itu kepada kita. Sehingga tidak ada alasan untuk membela diri atau mencari-cari kesalahan karena tidak tahu. Iblis tak pernah lelah mencari pengikut. Kader-kadernya pun melimpah. Baik itu dari kalangan iblis, jin, maupun manusia.

Iman merupakan tameng yang kuat menghalau godaan iblis. Maka tameng ini perlu diperkuat setiap saat. Kita lapisi tameng kita dengan amalan yang ikhlas dan akidah yang lurus. Tameng kita pun akan kokoh melindungi diri kita dari tipu daya iblis. Perlu kita ingat bahwa serangan iblis terjadi dimanapun dan kapanpun. Tak mengenal waktu. Terjadi dimanapun kaki ini berpijak, tak peduli di masjid atau di pasar.

Kesalehan sesaat tiadalah berguna. Perlu konsistensi hingga akhir hayat nanti. Penilaian tidak diberikan pada awal atau tengah perjalanan, namun diberikan pada akhir perjuangan. Perlu strategi yang jitu mengatur tenaga. Semangat berlebihan diawal justru menyebabkan kita lelah dan bosan seketika. Sementara perjalanan begitu panjang, maka perlu perhitungan dan nafas panjang pula untuk menjalaninya.

Baca Juga  Mewujudkan Keberkahan Dalam Rumah Tangga

Kemaksiatan bisa mengerogoti sendi-sendi keimanan kita. Pahala yang telah terkumpul bisa terhapus olehnya. Perbuatan maksiat menyebabkan hati menjadi kelam. Perasaan kita berubah menjadi resah. Akal tidak lagi berpikir jernih. Kita dihantui dosa. Takut, kalau-kalau mati dalam keadaan menimbun dosa. Kemaksiatan membawa kita pada penyesalan tiada henti. Berat untuk lepas, layaknya magnet yang selalu menarik besi. Titik-titik hitam makin menggelapkan hati.

Setiap kita menyadari bahwa maksiat merupakan pelanggaran terhadap perintah Allah. Tidak mungkin seseorang menyandang gelar takwa, jika ia masih berlumur maksiat. Maksiat jelas perbuatan yang dilarang. Kita mengakui itu. Sejahat apapun manusia, ia sadar bahwa kemaksiatan merupakan perbuatan dosa. Perampok kelas kakap sekalipun menyadari bahwa yang ia lakukan adalah salah. Dusta jika ia tidak mengakui itu. Mulut mungkin bisa berbohong. Hati bisa bimbang. Namun nurani selalu berkata jujur.

Bangkit Dari Keterpurukan

Perjalanan hidup memang seperti berputarnya roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Kita semua pasti pernah merasakan kegagalan, terjatuh, dan terpuruk. Kemaksiatan merupakan bagian dari keterpurukan. Kita terpuruk karena melanggar larangan Allah. Kita nekat untuk mencicipi sesuatu yang dilarang. Akibatnya, kita terbelenggu dan terbiasa dalam kemaksiatan. Sulit untuk lepas dari cengkramannya. Maksiat memang seperti candu. Manusia dibuatnya ketagihan. Terus-menerus ia ketagihan, namun tak pernah terpuaskan.

Terlalu lama terbelenggu maksiat membuat kita masuk dalam keadaan bosan. Hidup menjadi begitu menjenuhkan. Kita ingin lepas. Lepas dari kemaksiatan. Bersyukur, pintu taubat masih terbuka selama nafas belum terhenti dikerongkongan. Senantiasa ucapkan istighfar. Tak lupa untuk berdoa, memohon ampun pada-Nya. Matahari masih terbit di Timur dan tenggelam di Barat. Hangatnya fajar, dan teduhnya senja masih kita nikmati. Kita selalu berharap, Allah mau menghapus dosa-dosa kita. Semoga Allah tidak murka pada kita. Murka karena kita berani durhaka pada-Nya.

Baca Juga  Mengalah Tidak Berarti Kalah

Optimisme perlu ditanamkan kuat pada diri kita. Suburkan optimisme hingga ia mengakar kuat dalam hati dan jiwa kita. Lupakan putus asa, karena rahmat Allah begitu luas. Karena begitu luasnya, bahkan dosa sebesar bumi pun akan diampuni-Nya. Namun jangan lupa untuk melakukan taubat nasuha. Bertaubat dengan sungguh-sungguh, berjanji untuk tidak berbuat maksiat lagi. Seberat apapun dosa kita, segeralah bertaubat. Masih ada secercah cahaya selama roh belum tercabut. Peluang untuk berbuat yang lebih baik masih ada dihadapan mata. Hidupkan pikiran positif dalam pikiran kita bahwa Allah Maha Mengampuni. Kita harus bertekad kuat untuk lepas dari kemaksiatan, sembari membentengi diri dengan iman dan amal sholeh agar tidak terjatuh lagi. Terjatuh pada kubangan yang sama.