Tarbiyah Jaadah (bag. 1)
October 7, 2012
Antara Manhaj Dan Simbol
November 11, 2012

Tarbiyah Jaadah (bag. 2)

Mengapa amal merupakan ciri pribadi yang handal?

Kemudian ia menjelaskan alasan-alasan mengapa amal merupakan ciri utama pribadi yang handal dan serius sebagai berikut:

Pertama, amal merupakan tuntutan dalam semua aspek kehidupan. Artinya dalam setiap aspek kehidupan produktivitas merupakan salah satu ukuran keberhasilan. Demikian pula dalam dakwah dan tarbiyah. Sehingga setiap mutarabbi dalam mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya bagi dakwah Islam.

Kedua, al-Qur’an mengajak manusia untuk beramal. Hal itu karena beberapa alasan sbb: al-Qur’an selalu mengaitkan amal shaleh dengan iman; keimanan tanpa dibarengi dengan amal merupakan propaganda semu yang berakibat negatif bagi yang berpredikat demikian. (QS.49:14); Balasan yang dikerjakan setiap individu dan masyarakat bergantung pada amal yang dilakukan masing-masing (QS. 7:96); Pertanggungjawaban di hari akhir adalah pertanyaan tentang amal (QS.16:93); Pahala akhirat menjadi patokan bagi orang yang menjalani kebenaran yang menjadi usaha bagi orang-orang yang beramal (QS.7:43); Siksaan akhirat dirasakan di neraka jahanam juga bertalian erat dengan amal (QS. 32:14); bertafakur dan merenungi tanda-tanda kekuasaan Allah di bumi yang dikuti dengan nilai-nilai keajaiban di dalamnya tentu harus diekspresikan dalam sebuah amal.(QS.3:190-195); Peringatan dan rasa takut kepada Allah harus beralih kepada praktik amaliah (QS.16:49-50). Syariat Islam mencela ucapan yang tidak dibarengi dengan amal perbuatan (QS.61:4).

Ketiga, Sunnah Nabi mengajak untuk beramal. Ilmu merupakan salah satu ibadah yang sangat agung, namun jika tidak melahirkan amal maka hal itu merupakan kejelekan. Sehingga Nabi meminta perlindungan kepada Allah darinya.

اللهم إني أعوذ بك من قلب لا يخشع، ودعاء لا يسمع، ومن نفس لا تشبع، ومن علم لا ينفع، أعوذ بك من هؤلاء الأربع

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari hati yang tidak khusyuk, dari doa yang tidak didengar, dari nafsu yang tidak pernah kenyang, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Aku berlindung kepadaMu ya Allah dari semua itu.” (HR.Tirmidzi dan Nasai).

Muhammad al-Duways menyatakan: “Perjalanan hidup Nabi merupakan sebaik-baik saksi, karena amal menjadi cita-cita dan misi perjuangannya. Ia mengajak setiap individu dan kelompok masyarakat, merelakan dirinya berdakwah siang dan malam, mendatangi kaumnya di setiap daerah, pergi ke Thaif, berhijrah ke Madinah, mengirimkan delegasi ke beberapa kabilah dan menerima utusan-utusan dari luar negeri…”

Keempat, ulama’ memiliki andil dalam mengajak manusia untuk beramal. Hal ini dibuktikan dengan ungkapan-ungkapan mereka yang menitikberatkan kepada amal seperti: ilmu harus disertai dengan karya dan amal; permasalahan ilmiyah yang tidak berorientasi pada hasil karya bisa jadi hanya berupa cetusan buah pikiran yang tidak perlu ditekuni dan diperhatikan, atau dijadikan ajang berpikir bagi orang yang mencari ilmu; mempelajari sanad hadits tanpa mempelajari isinya sekaligus bukan tipe pencari ilmu yang ideal; permohonan yang tidak realita, dan tidak disertai oleh amal adalah sesuatu yang tercela, dan permohonan tersebut tidak layak dikabulkan; Sikap, pendirian, serta sejarah perjuangan ulama adalah bukti yang terbaik dalam masalah ini.

Baca Juga  Daurah Syar'iyyah Bersama Syaikh Abdullah Az-Zaidani ( Murid Syaikh Al-Utsaimin Rahimahullah )

Kesimpulannya, tarbiyah jaadah memiliki kaitan yang sangat erat dengan amal. amal merupakan hal terpenting dari konsep kesungguhan dan merupakan kriteria utama dari pribadi dan masyarakat yang dinamis. Namun, amal yang dimaksud bukanlah sembarangan amal akan tetapi amal yang dapat bermanfaat untuk dakwah  Islam, sehingga tarbiyah umat dapat berhasil dan mencapai tujuan bila para murabbi (pendidik) benar-benar menyiapkan generasi yang dinamis dan beramal, sehingga amal serta hasilnya dapat dikembangkan.

 

Mengapa Tarbiyah Jaadah menjadi Penting?

Kemudian, Muhammad al-Duways menjelaskan tentang alasan-alasan pentingnya tarbiyah jaadah sebagai landasan dan prioritas dalam kebangkitan Islam sebagai berikut:

1. Tarbiyah jaadah merupakan jejak para salaf, yaitu jalannya para nabi dan para ulama setelahnya. (QS.3: 164; 62: 2). Para nabi merupakan teladan dan dai tidak hanya dalama ibadah, akhlak saja, bahkan dalam manhaj dakwah dan cara-cara dalam melakukan perubahan. Demikian pula setelah para nabi, bimbingan ulama sebagai pewaris para nabi memiliki peran yang besar sehingga tarbiyah berlangsung secara stabil.

2. Tarbiyah jaadah merupakan perintah dalam nash-nash al-Qur’an QS.Maryam[19]: 12; al-Muzammil[73]: 1-5; al-Baqarah[2]:214

3. Tarbiyah jaadah terdapat dalam nash-nash Sunnah seperti
قوله صلى الله عليه وسلّم: “استعن بالله ولا تعجز 

Mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah lemah (pesimis) 

   قوله صلى الله عليه وسلّم: “حجبت النار بالشهوات، وحُجبت الجنة بالمكاره

Neraka itu dikelilingi oleh syahwat dan surga itu dikelilingi dengan sesuatu yang tidak disukai

4. Kesungguhan merupakan prinsip kehidupan

5. Ibadah-ibadah yang disyari’atkan membutuhkan kesungguhan

6. Tarbiyah jaadah merupakan salah satu faktor yang dapat menjadikan seseorang menjadi pemimpin/tokoh, yaitu dengan kesungguhan, kesabaran dan pengorbanan

7. Tarbiyah jaadah merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam dakwah, karena kebangkitan Islam dengan segala atributnya membutuhkan tenaga super ekstra dengan pembinaan yang sungguh-sungguh.

Baca Juga  Rambu-Rambu Dalam Manhaj Tarbiyah Nabawiyah (bag. 3)

8. Ilmu yang tidak melahirkan amal menunjukkan tidak adanya kesungguhan di mana Nabi meminta perlindungan kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.

9. Banyaknya cobaan dan godaan berupa syubuhat terhadap agama dan keyakinannya dan syahwat yang dapat menjerumuskan ke dalam neraka.

10. Umat membutuhkan pribadi yang handal dan ulet.

11. Merebaknya gaung kebangkitan Islam sehingga banyaknya orang-orang yang bertaubat dan menjadi pendukung dakwah; membuka lahan-lahan baru dan memperluas kantong-kantong dakwah; memperluas cakrawala berpikir, ilmu pengetahuan, dan dakwah itu sendiri tidak bergantung hanya kepada figuritas; banyaknya syubuhat terhadap para pendukung dakwah; munculnya sektor-sektor dakwah yang berhasil dengan cepat sehingga melalaikan pembinaan/tarbiyah (tamat)