Dekatkan Anak-anak dengan Masjid
March 28, 2017
Etika qiyamul lail
March 30, 2017

Dzikir selepas shalat Witir

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah selesai shalat Witir mengucapkan dzikir,

 َ ِ ان َحْس ب كِ لَْ ِ الْ ق د وس ْال

“Maha Suci Engkau yang Maha Merajai lagi Maha Suci dari berbagai kekurangan” sebanyak tiga kali dan beliau meninggikan suara pada ucapan yang ketiga.

Makmum yang shalat sambil membaca mushaf

Terdapat penyelisihan terhadap sunnah ketika makmum membawa mushaf ketika melaksanakan shalat Tarawih, di mana dirinya

memang tidak ditugaskan khusus untuk memberitahukan kesalahan imam. Di antaranya adalah:

1. Meninggalkan sunnah bersedekap dengan meletakkan kedua tangan di dada

2. Meninggalkan sunnah memandang tempat sujud ketika shalat

3. Minim kekhusyukan karena banyak bergerak untuk membuka, menutup, dan menaruh mushaf

4. Mengganggu jama’ah yang shalat di sampingnya dengan gerakan-gerakan tersebut

5. Mata akan banyak bergerak karena mengikuti kata per kata yang ada di dalam mushaf.

Perbuatan yang mengurangi kekhusyukan Allah ta’ala berfirman,

ق وم وا َ َِِّ و َ للّ ين ِتِان َق

“Laksanakanlah (shalat) karena Allah dengan khusyuk.” [alBaqarah : 238]. “Qaanitiin” berarti merendahkan diri, ikhlas, dan bersikap khusyuk di hadapan-Nya.

Setiap gerakan yang tidak perlu ketika shalat merupakan gerakan yang sia-sia. Dan sebagian makmum melakukan hal tersebut dengan membuka mushaf sehingga meninggalkan sunnah melihat ke tempat sujud, bersedekap dengan menempatkan kedua tangan di dada, sibuk mengeluarkan dan memasukkan mushaf ke dalam saku, serta membuka dan menutup mushaf tersebut. Sebagian yang lain mengeluarkan telepon seluler untuk merekam do’a qunut yang dipanjatkan imam. Semua hal tersebut merupakan gerakangerakan yang tidak perlu dan menafikan kekhusyukan yang diperintahkan Allah dalam ayat di atas.

Baca Juga  Kami Dengar dan Kami Taat

Tidak ada dua witir dalam semalam

Seorang yang melaksanakan shalat Tarawih bersama imam dan berkeinginan untuk kembali melakukan shalat di akhir malam (menjelang Subuh), dia memiliki dua opsi:

1. Dia melaksanakan shalat Witir bersama imam hingga selesai, kemudian dia melakukan shalat malam dengan jumlah raka’at yang diinginkan dan dengan bilangan raka’at genap, tanpa perlu melakukan shalat Witir lagi. Hal ini berdasarkan hadits,

ِ

لا يِ ان َرْتِو ف

“Tidak ada dua Witir dalam semalam.”105 dan juga hadits,

َّ ن
َ
َّ أ يِ ىَّ بَّ الن َّ لَص ِ اللّ َ هْيَلَع مَّل َسَ َ و يِِّ ان َك َ لَ ي ص ِ دْعَب ِ رْتِ الو نْيَتَعْكَ ر

“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat dua raka’at setelah shalat Witir.”

2. Ikut shalat Witir bersama imam, namun ketika imam mengucapkan salam, orang tersebut tidak ikut salam namun berdiri dan menambah satu raka’at. Kemudian setelah salam, dia bisa mengerjakan shalat dengan jumlah raka’at yang diinginkan dan mengerjakan shalat Witir di akhir malam.

Opsi pertama lebih utama dan lebih terjaga dari riya.